_Jawabannya, biasanya datang dari orang yang ilmunya masih setengah-setengah, belum matang._
Imam Syaukani -rahimahullah- menukil perkataan seorang ulama di zamannya, Ali bin Qasim Hanasy (wafat 1219 H),
_“Manusia itu terbagi menjadi tiga tingkatan :_
_(Pertama). *Tingkatan atas,* yaitu tingkatan para ulama besar, mereka adalah orang-orang yang mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, meski mereka berbeda pendapat, tetapi hal itu tidak menimbulkan fitnah (kegaduhan), karena mereka saling memahami antara satu dengan yang lainnya._
_(Kedua). *Tingkatan bawah, yaitu tingkatan orang-orang awam,* yang masih di atas fitrahnya, mereka tidak benci kebenaran, mereka adalah pengikut orang-orang yang menjadi panutannya. Apabila panutannya benar, maka mereka pun demikian. Apabila panutannya dalam kebatilan, maka mereka juga seperti itu._
_(Ketiga). *Tingkatan tengah, inilah tempat munculnya keburukan dan sumber fitnah dalam agama.* Mereka ini tidak belajar ilmu dengan mendalam hingga sampai pada tingkatan pertama, mereka juga tidak meninggalkan ilmu hingga turun ke tingkatan bawah._
_Mereka ini jika melihat orang yang berada di ‘tingkatan atas’ mengatakan perkataan yang tidak mereka ketahui, perkataan yang menyelisihi apa yang mereka yakini, yang sebabnya adalah kekurangan mereka (dalam mendalami ilmu); *mereka akan lepaskan panah-panah celaan, dan mereka menganggap perkataan (ulama) itu sangat buruk.*_
_Di sisi lain, mereka juga merusak fitrah orang-orang yang berada di tingkatan bawah dari menerima kebenaran, dengan penjelasan-penjelasan batil yang menyesatkan._
_Maka, ketika itulah fitnah-fitnah dalam agama ini muncul dengan kuat”._
Setelah menyebutkan perkataan ini, Imam Syaukani -rahimahullah- mengatakan,
“Sungguh benar apa yang dia katakan, dan siapapun yang merenungi hal ini, ia akan mendapatinya seperti itu”.
(lihat al-Badrut Thaali’, Hal 511)
_Jika demikian adanya, maka harusnya setiap dari kita memahami posisi masing-masing, dan hendaknya setiap dari kita menjaga diri dan lisan, agar jangan sampai menzalimi orang lain._
Ingatlah selalu sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
_*“Seorang muslim (sejati) adalah orang yang kaum muslimin selamat dari (keburukan) lisan dan tangannya”.*_
(HR. al-Bukhari No. 10 dan Muslim No. 40)
– Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny, M.A. -hafizhahullah- –
Barakallahu fiikum ____~~~~~~~~~~~~~~~~
https://t.me/Berbagi_Kebaikan
BerbagiKebaikanBerbagi info peluang amal sholih dan ketaatan… Untuk bekal kita menghadapi Yaumul Mizan…