Mengenal Nama Allah “Al-Bashir”

Setiap nama Allah mengandung makna yang mendalam yang sangat bermanfaat bagi hamba-Nya. Salah satu nama-Nya yang menunjukkan kesempurnaan sifat-Nya adalah Al-Bashir, yang biasa diartikan Maha Melihat.

Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Bashir, makna yang terkandung di dalamnya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menambah keyakinan kita, memperkuat keimanan, serta mendorong kita untuk selalu beramal dengan penuh keikhlasan dan ihsan.

Dalil nama Allah “Al-Bashir

Nama ini disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak empat puluh dua kali, di antaranya:

Pertama: Firman Allah ‘Azza Wajalla,

وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Kedua: Firman-Nya Ta’ala,

واللهُ بصيرٌ بالعباد

“Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 15, 20)

Ketiga: Firman-Nya,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan Dia bersamamu di mana pun kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4)

Keempat: Firman-Nya Subhanahu,

مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَنُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ

“Tidak ada yang menahannya selain Yang Maha Pengasih. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 19) [1]

Kandungan makna nama Allah “Al-Bashir

Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Bashir” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari “Al-Bashir

Al-Bashir merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap). [2] Asal kata ‘Bashir( بصير ) adalah ‘Mubsir‘ ( مُبْصِرٌ, yaitu orang yang melihat). [3]

Sedangkan al-bashar (yang merupakan mashdar dari kata بَصُرَ), memiliki dua makna utama, yaitu (1) indera penglihatan mata; dan (2) ilmu (pengetahuan).

Ibnu Sidah berkata,

البَصَرُ حِسُّ العَين وَالْجَمْعُ أَبْصارٌ

Al-Bashar adalah indera penglihatan mata, dan bentuk jamaknya adalah Abshar.[4]

Sibawaih berkata,

بَصُرَ صَارَ مُبْصِراً، وأَبصره إِذا أَخبر بِالَّذِي وَقَعَتْ عَيْنُهُ عَلَيْهِ

Absharahu berarti mengabarkan sesuatu yang dilihat matanya.” [5]

Ibn Faris mengatakan,

وَيُقَالُ: بَصُرْتُ بِالشَّيْءِ: إِذَا صِرْتَ بِهِ بَصِيرًا عَالِمًا، وَأَبْصَرْتُهُ: إِذَا رَأَيْتَهُ.

Dikatakan ‘Bashurtu bisy-syai’’ jika seseorang menjadi tahu dan memahami sesuatu. Sedangkan ‘Abshartuhu’ berarti ‘Aku melihatnya’.[6]

Makna “Al-Bashir” dalam konteks Allah

Ibnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 163), beliau mengatakan,

واللهُ ذو إبصارٍ بما يَعمَلون، لا يَخْفَى عليه شيءٌ من أعمالِهم، بل هو بجميعِها مُحيطٌ، ولها حافظٌ ذاكرٌ، حتى يُذِيقَهم بها من العقابِ جزاءَها.

Allah memiliki penglihatan terhadap segala perbuatan mereka. Tidak ada satu pun dari amal perbuatan mereka yang tersembunyi dari-Nya. Bahkan, Dia mengetahui dan mengawasi semuanya, serta mengingatnya hingga Dia memberikan balasan kepada mereka dengan azab yang setimpal.”  [7]

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,

“البصير” الذي يبصر كل شيء وإن دق وصغر، فيبصر دبيب النملة السوداء في الليلة الظلماء على الصخرة الصماء. ويبصر ما تحت الأرضين السبع، كما يبصر ما فوق السموات السبع. وأيضا سميع بصير بمن يستحق الجزاء بحسب حكمته، والمعنى الأخير يرجع إلى الحكمة.

“‘Al-Bashir’ adalah Zat yang melihat segala sesuatu, sekecil dan sehalus apa pun. Dia melihat pergerakan semut hitam di malam yang gelap gulita di atas batu yang padat. Dia juga melihat apa yang ada di bawah tujuh lapisan bumi, sebagaimana Dia melihat apa yang ada di atas tujuh lapisan langit. Selain itu, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat siapa yang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan hikmah-Nya. Makna yang terakhir ini kembali kepada hikmah-Nya.” [8]

Berdasarkan hal ini, nama Al-Bashir memiliki dua makna:

Pertama: Bahwa Allah memiliki penglihatan yang dengannya Dia melihat segala sesuatu.

Kedua: Bahwa Allah memiliki bashirah (pengetahuan yang mendalam) terhadap segala sesuatu. Dia Maha Mengetahui dan Mahateliti terhadapnya. [9]

Baca juga: Mengenal Nama Allah “At-Tawwab”

Konsekuensi dari nama Allah “Al-Bashir” bagi hamba

Penetapan nama “Al-Bashir” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:

Pertama: Menetapkan sifat bashar bagi Allah Ta’ala, dengan kedua maknanya

Seorang hamba harus meyakini bahwa Allah Maha Melihat keadaan para hamba-Nya, Maha Mengetahui segala sesuatu tentang mereka, Maha Melihat siapa yang berhak mendapatkan hidayah dan siapa yang tidak berhak, serta Maha Melihat siapa yang keadaannya akan menjadi baik dengan kekayaan dan harta, dan siapa yang justru akan menjadi buruk karenanya.

Begitu pula, seorang hamba harus menetapkan sifat bashar (penglihatan) bagi Allah Ta’ala, karena Dia telah menyifati diri-Nya dengan sifat tersebut, dan Dia lebih mengetahui tentang diri-Nya. Sifat bashar merupakan sifat kesempurnaan, sebagaimana sifat sama’ (pendengaran). Makhluk yang memiliki kedua sifat tersebut lebih sempurna dibandingkan dengan yang tidak memilikinya. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُونَ

“Katakanlah, ‘Apakah sama orang buta dan orang yang melihat? Maka, tidakkah kamu berpikir?’” (QS. Al-An’am: 50) [10]

Syekh Abdur Razzaq Al-Badr berkata,

“Termasuk perkara yang wajib diimani adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala melihat dengan dua mata yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya. (Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an. Kemudian, beliau melanjutkan),

Hadis sahih dari Rasulullah ﷺ juga menunjukkan bahwa Allah memiliki dua mata, sebagaimana dalam hadis tentang Dajjal Al-Akbar, di mana beliau bersabda,

إنّه أعور، وإن ربكم ليس بأعور

‘Sesungguhnya dia (Dajjal) itu buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.’ (Muttafaqun ‘alaih)
Pensucian Allah dari sifat buta sebelah ini menjadi dalil bahwa Dia memiliki dua mata, dengan cara (bentuk) yang sesuai dengan keagungan-Nya.” [11]

Kedua: Menjauhi hal yang tidak Dia sukai

Seorang hamba harus merasa malu jika Allah melihatnya dalam keadaan bermaksiat atau dalam hal yang tidak Dia sukai.

Ibn Rajab rahimahullah berkata, “Seorang laki-laki merayu seorang wanita di tempat sunyi pada malam hari, tetapi wanita itu menolak. Lalu, laki-laki itu berkata kepadanya, ‘Tidak ada yang melihat kita selain bintang-bintang.’ Wanita itu pun menjawab, ‘Lalu, di mana Zat yang menciptakan bintang-bintang itu?!’”

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَعْلَمَ بِأَنَّ اللَّهَ يرى

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihatnya?’ (QS. Al-‘Alaq: 14)

Cukuplah ayat ini sebagai peringatan dan pencegah (dari perbuatan maksiat).” [12]

Ketiga: Ihsan dalam beribadah

Seorang hamba harus memperbaiki amal dan ibadahnya, serta mengikhlaskannya untuk Rabbnya dan khusyuk di dalamnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika seorang hamba menyaksikan makna nama Allah ‘Al-Bashir‘ (Maha Melihat), yaitu Zat Yang Maha Melihat pergerakan semut hitam di atas batu yang keras dalam kegelapan malam yang pekat, yang melihat setiap detail ciptaan makhluk sekecil debu, otaknya, urat-uratnya, dagingnya, dan gerakannya, yang melihat gerakan sayap nyamuk di kegelapan malam, lalu ia memberikan hak penghambaan kepada Allah sesuai dengan penglihatan ini. Maka, ia akan menjaga setiap gerakan dan diamnya serta meyakini bahwa semua itu selalu berada dalam pengawasan Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.” [13]

Semoga pemahaman yang benar tentang nama ini, dapat semakin mendekatkan kita kepada Allah, dan senantiasa merasa diawasi-Nya. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua, amin.

Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Fattah”

***

Rumdin PPIA Sragen, 1 Rajab 1446 H

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Artikel: Muslim.or.id

 

Referensi utama:

Ibn Faris, Abu Al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis Al-Lughah. Tahqiq dan Revisi oleh Anas Muhammad Al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar Al-Hadith, 1439.

Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib As-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.

Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.

An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.

 

Catatan kaki:

[1] An-Nahju Al-Asma’, hal. 164; lihat juga Fiqh Al-Asma’il Husna, hal. 152.

[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat Al-Qur’an ‘ala Hamisy Al-Mushaf Al-Syarif, hal. 51.

[3] Tafsir At-Thabari, 2: 283.

[4] Dinukil dari Lisanul ‘Arab, 4: 64.

[5] Ibid

[6] Maqayis Al-Lughah, hal. 95. Di kitab ini, beliau menyebutkan asal makna yang berbeda. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 54.

[7] Tafsir At-Thabari, 2: 283.

[8] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 946.

[9] An-Nahjul Asma’, hal. 165.

[10] Diringkas dari An-Nahju Al-Asma’, hal. 165-166.

[11] Fiqh Al-Asma’il Husna, hal. 153.

[12] Fiqh Al-Asma’il Husna, hal. 156.

[13] Thariq Al-Hijratain wa Bab As-Sa’adatain, 1: 90.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Al-Qur'an Application

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading