Menemukan Rumus Bahagia

Bismillah.

Di antara keunikan dan keistimewaan kitab para ulama salaf adalah kalimat dan nasihat yang mereka berikan tersimpan berbagai kunci dan rumus kebahagiaan. Hal itu tidak lain karena mereka senantiasa kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah.

Hal itu bisa kita ambil contoh dari karya Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah seorang ulama pembaharu Islam (wafat 1206 H). Melalui karya-karya beliau dalam ilmu tauhid dan akidah Islam, kita diperkenalkan tentang pedoman dan kaidah untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat.

Tiga resep bahagia

Misalnya, dalam mukadimah risalah Al-Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaidah Utama), beliau menyebutkan tiga tanda kebahagiaan: apabila diberi nikmat, bersyukur; apabila diberi cobaan/musibah, bersabar; dan apabila berbuat dosa, segera beristigfar. Penjelasan serupa telah diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat 751 H) pada bagian awal kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib.

Banyak ucapan para ulama yang senada dengan penjelasan beliau. Di antaranya, Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata, “Tidaklah berbahaya suatu nikmat, jika ia dibarengi dengan syukur. Tidaklah berbahaya musibah, jika ia dibarengi dengan sabar. Sungguh, musibah yang menimpa pada saat melakukan ketaatan kepada Allah itu jauh lebih baik daripada nikmat yang dirasakan ketika berbuat maksiat kepada Allah.” (Lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 164)

Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada di antara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istigfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan tobat dan istigfar.” (Lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)

Taat kepada Rasul

Contoh yang lain, dalam risalah Tsalatsah Ushul (Tiga Landasan Utama), Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah juga menjelaskan wajibnya untuk taat kepada Rasul, karena Allah yang menciptakan kita dan memberikan rezeki kepada kita, Allah tidak membiarkan kita dalam keadaan terlunta-lunta. Akan tetapi, Allah telah mengutus kepada kita seorang rasul. Barangsiapa yang taat kepadanya, masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadanya, maka dia masuk neraka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang merenungkan keadaan alam semesta dan berbagai keburukan yang terjadi padanya, niscaya dia akan menyimpulkan bahwa segala keburukan di alam semesta ini sebabnya adalah menyelisihi Rasul dan keluar dari ketaatan kepadanya. Demikian pula, segala kebaikan yang ada di dunia ini sebabnya adalah ketaatan kepada Rasul.” (Lihat Adh-Dhau’ Al-Munir ‘ala At-Tafsir, 2: 236-237)

Membersihkan akidah dari syirik

Di dalam kitab Tauhid, Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah juga menjelaskan bahwa tauhid yang bersih dari syirik merupakan sebab untuk meraih keamanan dan hidayah. Ini merupakan keutamaan tauhid yang sangat besar.

Beliau berkata,

وقول الله تعالى: الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Allah berfirman, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk.’ (QS. Al-An’am: 82)

Kezaliman yang dimaksud oleh ayat ini telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah syirik. Karena orang yang berbuat syirik menujukan ibadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak berhak menerima ibadah.

Orang yang bertauhid dan bersih dari syirik, maka dia akan mendapatkan keamanan di akhirat sehingga selamat dari kekalnya neraka kemudian masuk ke dalam surga selama-lamanya. Orang yang bertauhid dan bersih dari syirik juga akan mendapatkan bimbingan di dunia sehingga bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal saleh hingga diberi taufik untuk meninggal dalam keadaan beriman.

Imam Bukhari menuturkan, Qutaibah bin Sa’id menuturkan kepada kami, dia berkata, Jarir menuturkan hadis kepada kami dari Al-A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah (yaitu, Ibnu Mas’ud) bahwa beliau berkata, “Ketika turun ayat ini, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman…’ (QS. Al-An’am: 82), maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengatakan, ‘Siapakah di antara kita ini yang tidak mencampuri imannya dengan kezaliman?!’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menanggapi, ‘Sesungguhnya bukan itu yang dimaksudkan. Tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Luqman (yang artinya), ‘Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.’ ” (HR. Bukhari no. 6444, lihat dalam Minhatul Malik Al-Jalil, 12: 389)

Apabila demikian, maka tauhid adalah sebab utama kebahagiaan insan. Tidak ada kebahagiaan baginya tanpa tauhid dan iman. Dengan tauhid inilah, seorang muslim akan bisa merasakan lezatnya keimanan dan manisnya penghambaan kepada Ar-Rahman.

Malik bin Dinar rahimahullah berkata kepada para sahabatnya, “Orang-orang yang malang dari kalangan penduduk dunia. Mereka telah keluar dari dunia dalam keadaan belum menikmati sesuatu yang paling indah di dalamnya.” Mereka pun bertanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu sesuatu yang paling indah di dunia?” Beliau menjawab, “Yaitu, mengenal Allah ‘Azza Wajalla, mencintai-Nya dan tenang dengan zikir kepada-Nya.”

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Al-Qur'an Application

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading