Tujuh Hal yang Membantu untuk Bersyukur (Bag. 2)

Berikut adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang langkah-langkah atau beberapa hal yang dapat mendorong seseorang untuk meningkatkan syukurnya kepada Allah Ta’ala.

Keempat, mengingat dan menghitung nikmat-nikmat Allah

Semakin sering kita mengingat-ingat dan menghitung berbagai nikmat yang Allah Ta’ala berikan, maka akan menjadikan kita lebih bersyukur kepada-Nya. Apapun nikmat yang ada dalam hidup kita, maka kita selalu menyandarkan nikmat-nikmat tersebut kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Jika ada seseorang yang menganggap dan merasa bisa menghitung nikmat Allah, maka orang tersebut telah menyempitkan definisi dari suatu nikmat, padahal segala yang ada dan kita punya adalah nikmat. Dan nikmat Allah sangat banyak bentuknya. Ada nikmat yang zahir (nampak) semisal harta. Ada nikmat yang batin (tidak nampak) seperti ketenangan hati. Ada nikmat yang khusus (keimanan). Ada nikmat yang umum (udara atau oksigen). Kesehatan adalah nikmat. Organ dan panca indera yang kita punya adalah nikmat. Keluarga adalah nikmat. Rumah dan kendaraan walaupun sederhana adalah nikmat.

Di antara nikmat pertama kali yang diberikan Allah adalah nikmat penciptaan dan pengadaan. Kita ada di dunia ini adalah termasuk nikmat. Allah tidak menjadikan kita sebagai sesuatu yang tiada. Allah Ta’ala berfirman,

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى  الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى  وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, dan yang menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 1-3)

Kemudian Allah memberikan nikmat kepada kita dengan nikmat adaniyah wal insaniyah, yaitu nikmat berupa manusia (anak keturunan Adam), bukan menjadikan kita sebagai hewan, tumbuhan, atau benda mati.

Allah juga memberikan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita beragama Islam, bukan Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya. Dan Allah menyempurnakan nikmat Islam tersebut dengan nikmat iman dan hidayah untuk menjalankan syariat Islam dengan benar sesuai dengan yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maidah: 3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَ إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيْمَانَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ

“Dan Allah memberikan dunia kepada siapa pun yang Dia cintai dan tidak Dia dicintai. Akan tetapi, Dia memberikan iman (agama) hanya kepada orang yang dicintai-Nya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1: 348-349 dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 275. Lihat As-Silsilah Ash-Sahihah, 6: 213, no. 2714)

Maka, ketika kita sudah mengetahui berbagai nikmat Allah di atas, sudah semestinya menjadikan kita sebagai seorang hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Kelima, menyadari bahwa semua nikmat akan ditanya dan dipertanggungjawabkan

Hendaknya seorang hamba mengetahui dan sadar bahwa kelak di hari kiamat, ia akan ditanya oleh Allah tentang berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, apakah ia mensyukuri nikmat tersebut atau malah mengingkarinya.

Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

“Kemudian pasti kamu akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takasur: 8)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya, di manakah ia habiskan, (2) ilmunya, di manakah ia amalkan, (3) hartanya, bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya, di manakah usangnya. (HR. Tirmidzi no. 2417. Lihat Ash-Shahihah no. 946)

Baca juga: Mensyukuri Nikmat Keamanan Bangsa

Keenam, hendaknya berdoa agar menolongnya untuk bersyukur

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang tangan Mu’adz dan berkata, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir salat (sebelum salam),

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

ALLAHUMMA AINNI ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI IBADATIK

“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir (mengingat-Mu), bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.(HR. Abu Daud dan Ahmad. Disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nata’ij Al-Afkar, 2: 298)

Ketujuh, mengetahui bahwa Allah mencintai ibadah syukur

Qatadah rahimahullah berkata,

إن ربكم منعم يحب الشكر

“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Zat yang memberikan nikmat dan Dia sangat mencintai ibadah syukur (mencintai hamba-hamba-Nya yang bersyukur).” (Lihat Tafsir Al-Qurtubi, 6: 218)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pula,

إنه يشكر ويجب أن سبحانه يحب أن يشكر

“Allah gemar untuk bersyukur (dengan membalas amalan-amalan hamba-Nya) dan Allah senang untuk disyukuri (menerima syukur dari hamba-Nya).” (Lihat Shifa’ Al-‘Alil, hal. 221)

Ibadah syukur merupakan di antara hal yang paling dicintai oleh Allah dan merupakan pahala yang paling besar. Dan untuk tujuan ibadah inilah, Allah menciptakan para hamba-Nya, yang mana salah satu bentuk ibadah yang paling utama adalah bersyukur kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Dalam firman-Nya yang lain,

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78)

Oleh karenanya, wajib bagi seseorang untuk mengambil atau menempuh berbagai sebab yang dapat membuat syukurnya semakin bertambah dan sempurna.

Allah Ta’ala menegaskan,

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah amalan yang sangat penting dalam kehidupan seorang hamba.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya.

Kembali ke bagian 1

***

Penulis: Arif Muhammad N.

Artikel: Muslim.or.id

 

Referensi:

 A’malul Qulub karya Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah, hal. 302-305.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Al-Qur'an Application

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading