Memberi harapan
Kehidupan akhir zaman semakin menyudutkan kita dengan berbagai godaan maksiat yang kian tak terbendung. Seringkali kita terjegal di dalamnya, baik karena tidak sengaja maupun sengaja disebabkan dorongan syahwat. Sehingga, akhirnya dosa maksiat melingkupi keseluruhan hidup kita dan menenggelamkan dari cahaya iman.
Para pendosa senantiasa dilingkupi oleh kegelapan dosa yang dilakukannya. Ketika dosa itu pertama kali dilakukan, akan mudah disadari bahwa ini adalah suatu perbuatan yang tidak benar. Namun, lama-kelamaan para pendosa tidak lagi merasakan pahitnya dosa. Karena hatinya telah menghitam seluruhnya, sebab dosa bagaikan noktah hitam yang menutupi hati. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi ﷺ bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ
“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tetapi, jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya.” (HR. Tirmidzi no. 3334. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)
Sehingga, tatkala hati kecil memperingatkan untuk kembali kepada Allah ﷻ, jiwa tidak dapat meresponnya. Sebab, ia telah merasa begitu jauh dari Allah ﷻ dan tidak mungkin lagi diterima oleh Rabbnya. Terkadang setan pun membisikkan agar putus asa dari ampunan Allah ﷻ. Inilah hantaman dosa jangka panjang yang Allah ﷻ firmankan,
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Ketahuilah bahwa keterpurukan dalam dosa telah meredupkan cahaya iman dan harapan pengampunan. Pernahkah kita bertanya mengapa banyak anak muda yang sedang mengalami masalah dalam kehidupannya justru dekat dengan kehidupan yang rusak seperti narkoba dan lainnya? Menurut testimoni yang kami ketahui, karena mereka merasa diterima di kalangan ini. Para bandar memberikan harapan bahwa mereka bisa lepas dari masalahnya hanya dengan menggunakan narkoba. Tipu daya ini juga digunakan oleh Iblis kepada Adam ‘alaihis salam, yakni harapan kekekalan dengan memakan buah terlarang di surga. Maka, jika para penipu dan pembuat kerusakan berhasil dengan metode ini, maka para penyeru kebaikan hendaknya lebih pandai dalam menggunakan metode ini.
Maka, penting bagi kita untuk menjadi support system untuk para pendosa agar cahaya iman terus menyala di hati. Sehingga, ketika maksiat terus menggerogoti hati seorang hamba, masih ada antibodi iman yang dapat memberikan perlawanan dan menyembuhkan. Pada tulisan sebelumnya, kita mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ selalu berorientasi kepada kepentingan pendosa yang diwujudkan dalam upaya memberikan solusi atas masalahnya. Kali ini kita akan menyelami hikmah penyikapan Nabi ﷺ kepada para pendosa, yakni berusaha memberikan harapan kepada mereka.
Terdapat buah hikmah yang begitu mendalam dari kisah tentang pembunuh 100 nyawa. Dalam sebuah hadis dari sahabat yang mulia, Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menceritakan,
“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu, ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun, ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas, ia pun mendatanginya dan berkata, ‘Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah tobatnya diterima?’ Rahib pun menjawabnya, ‘Orang seperti itu tidak diterima tobatnya.’ Lalu, orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.
Kemudian, ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang alim. Lantas, ia bertanya pada alim tersebut, ‘Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah tobatnya masih diterima?’ Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya, masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.’
Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini datang dalam keadaan bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah.’ Namun, malaikat azab berkata, ‘Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.’ Lalu, datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia. Mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu, mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, rohnya pun dibawa oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 2766)
Dari hadis tersebut, kita bisa mengambil faedah cara menyikapi orang yang melakukan dosa dari Nabi ﷺ.
Pertama: Memberi harapan kepada para pendosa adalah metode Allah ﷻ
Nabi ﷺ memberikan pelajaran dari kisah orang alim yang merespon dosa yang begitu besarnya itu dengan memberikan harapan. Pembunuh 100 nyawa itu sempat terputus harapannya tatkala hanya neraka yang disodorkan di hadapannya. Sedangkan sang alim, dengan keilmuannya, ia memberitahukan bahwa masih ada harapan bagi orang tersebut untuk diampuni dengan cara bertobat.
Memberikan harapan bagi pendosa adalah metode Allah ﷻ. Dalam QS. Az Zumar: 53, Allah ﷻ berfirman,
قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam riwayat lain, Allah ﷻ memberikan harapan ampunan kepada para pendosa, meskipun dosa itu telah dilakukan berulang kali. Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ﷻ,
أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ
“Ada seorang hamba yang berbuat dosa, lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ (Ya Allah, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka, Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.’ ” (HR. Muslim no. 2758)
Dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ tentang diri-Nya sendiri yang senantiasa membuka pintu tobat bagi hamba-Nya. Allah ﷻ dalam sebuah hadis qudsi berfirman dengan makna,
قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”
Kedua: Memutus harapan hamba adalah dosa besar
Bukanlah metode dakwah yang benar jika seseorang hanya memberi ancaman neraka saja kepada para pendosa. Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi, metode mengancam di level memastikan orang tersebut tidak akan diampuni oleh Allah ﷻ adalah hal yang fatal. Dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله: من ذا الذي يتألى عليَّ أن لا أغفر لفلان؟ إني قد غفرت له، وأحبطت عملك. وفي حديث أبي هريرة: أن القائل رجل عابد، قال أبو هريرة: “تكلم بكلمة أوبقت دنياه وآخرته“.
“Seorang lelaki berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Allah berfirman, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.’ ” Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa orang yang berbicara ini adalah lelaki ahli ibadah. Abu Hurairah berkata, “Ia berbicara dengan kata-kata yang menghanguskan dunia dan akhiratnya.”
Memastikan seorang tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ adalah perkataan yang melampaui batas dan tidak didasarkan dengan ilmu. Padahal, berkata tentang Allah ﷻ yang tidak berdasarkan ilmu adalah dosa yang lebih besar, bahkan dari syirik sekalipun. Allah ﷻ berfirman,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu).” (QS. Al-A’raf: 33)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah ﷻ telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa dasar ilmu, baik dalam fatwa dan memberi keputusan. Allah menjadikan perbuatan ini sebagai keharaman paling besar, bahkan Dia menjadikannya sebagai tingkatan dosa paling tinggi.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah)
Ketiga: Memberikan langkah strategis kepada para pendosa
Tidak cukup dengan memberikan harapan kepada seorang pendosa, tetapi hendaknya juga memberikan panduan agar seseorang diampuni dan tidak terjerumus kembali kepada dosanya. Simaklah jawaban sang alim tersebut kepada sang pembunuh,
“Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.”
Setelah memberikan pengharapan kepadanya, sang alim pertama kali mengajaknya untuk bertobat dan meyakinkannya bahwa tobatnya tidak akan terhalangi oleh siapapun. Kemudian ia memberikan arahan agar meninggalkan lingkungannya dan mencari tempat berkehidupan yang lebih baik.
Keempat: Pentingnya lingkungan yang baik
Langkah strategis yang dinasihatkan oleh sang alim adalah mencari lingkungan yang lebih baik. Karena bergemul di lingkungan lama yang buruk akan mempersulit seseorang untuk melakukan perubahan. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,
قال العلماء : في هذا استحباب مفارقة التائب المواضع التي أصاب بها الذنوب، والأخدان المساعدين له على ذلك ومقاطعتهم ما داموا على حالهم
“Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat anjuran bagi orang yang bertobat untuk meninggalkan tempat-tempat di mana ia melakukan dosa, serta meninggalkan teman-teman yang membantunya dalam perbuatan tersebut, dan memutus hubungan dengan mereka selama mereka masih dalam keadaan yang sama.”
وأن يستبدل بهم صحبة أهل الخير والصلاح والعلماء والمتعبدين الورعين ومن يقتدي بهم ، وينتفع بصحبتهم ، وتتأكد بذلك توبته
“Sebaliknya, ia dianjurkan untuk menggantinya dengan berteman dengan orang-orang saleh, ulama, ahli ibadah yang wara’, dan orang-orang yang dapat dijadikan teladan, serta memberikan manfaat dari pergaulan mereka. Dengan cara ini, tobatnya akan semakin kuat dan lebih terjaga.” (Syarah Shahih Muslim, 17: 237; via islamweb.net)
Kelima: Pendosa tetap bisa menjadi orang terbaik
Ketahuilah, bahkan harapan itu terbuka untuk para pendosa mencapai level terbaik. Bukankah sebaik-baik generasi adalah generasinya para sahabat radhiyallahu anhum? Apakah mereka semua adalah seorang yang suci dan tidak pernah berbuat dosa? Orang terbaik kedua di kalangan sahabat, yakni Umar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang sangat memusuhi dakwah Nabi ﷺ. Tentu ini bukanlah dosa yang main-main. Namun, setelah bertobat dan menerima Islam, tidak ada yang dapat menutupi fakta bahwa Umar adalah salah satu yang terbaik di kalangan para sahabat. Bukankah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu salah satu pelaku dosa? Namun, akhirnya ia dikenal sebagai seorang singa, panglima perang Islam. Termasuk pula salah satu kisah tobat terbaik, yakni Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang tidak mengikuti perang tanpa uzur syar’i. Padahal, sudah ada iman di dalam hatinya, tetapi sebab setan yang mengajak hawa nafsunya untuk menunda kebaikan, hingga akhirnya ia sama sekali tidak berangkat ke Perang Tabuk. Namun, pada akhirnya dengan sebab kejujuran Ka’ab, justru ia menjadi pemenang dalam pertobatannya. Dan masih banyak keteladanan yang seharusnya menjadi motivasi bagi para pendosa untuk bangkit kembali dan memperkuat keimanannya.
Jangan sampai terlena dengan harapan
Namun, jangan sampai juga seorang untuk terlena dengan luasnya rahmat Allah dan ampunan-Nya. Hal ini yang diperingatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, yakni jangan sampai seorang itu menjadi maghrur, yakni tertipu dengan janji Allah ﷻ Sebab, tidak hanya janji indah Allah saja yang pasti, tetapi azab-Nya pun pasti terjadi.
Maka, berimbanglah dalam menyampaikan. Akan tetapi, dalam urutan menyampaikannya, pilihlah metode menyampaikan yang sesuai dengan kondisi orangnya. Apakah hendak memulainya dengan harapan ataukah ancaman? Hal ini bisa ditinjau dari pribadi orang tersebut, apakah ia baru sekali saja melakukan ini ataukah sudah berulang? Perlu juga diperhatikan apakah pribadinya lemah ataukah justru termotivasi dengan ngerinya ancaman. Jika memberikan harapan justru kontraproduktif, maka ancamanlah yang harus dikedepankan, begitu juga sebaliknya.
Dalam banyak kondisi, sebetulnya para pendosa di akhir perbuatannya justru banyak menyesal dan terpuruk. Maka, janganlah menambah keterpurukan mereka dengan kekhawatiran, berilah harapan!
Sebagaimana Nabi ﷺ adalah sebaik-baik teladan, beliau tidak hanya memberikan pengharapan pada pelaku dosanya, tetapi juga kepada keturunannya. Sebagaimana dalam kisah kezaliman penduduk Thaif, Nabi ﷺ menjawab tawaran Jibril ‘alaihis salam untuk menghancurkan mereka dengan harapan yang begitu indah,
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795)
Pernahkah kita mendoakan para pelaku dosa atau bahkan orang yang menzalimi kita dengan doa kebaikan hingga kepada keturunannya? Ini bukan hanya hak Allah ﷻ yang dilanggar, tetapi juga hak pribadi Nabi ﷺ yang tidak punya kepentingan, kecuali kepentingan kebaikan umatnya ini. Namun, sebab kebersihan hati Nabi ﷺ yang datang dari rahmat Allah ﷻ sehingga beliau bisa berdoa dengan doa yang begitu indah tersebut.
Kembali ke bagian 1
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel: Muslim.or.id
Referensi:
Nabi Sang Penyayang, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, terj. Mohd. Suri Sudahri, S.Pd.I. dan Rony Nugroho, Pustaka Al-Kautsar.
I’lamul Muwaqqi’in, 1: 31; via Maktabah Syamilah, baca selengkapnya di:
Syarah An-Nawawi, 17: 237; via islamweb.net
Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, baca selengkapnya di: