Biografi Ringkas Imam Abu Hanifah

Nama dan kunyah

Dia adalah Nu’man bin Tsabit bin Zuwatha At-Taimi Al-Kufi. Dikatakan bahwa dia adalah keturunan Persia. Ayahnya, Tsabit, lahir dalam Islam, dan Abu Hanifah sendiri adalah seorang pedagang sutra. Beliau diberi nama Nu’man adalah sebagai harapan kelak menjadi orang besar, sebagaimana Nu’man salah satu raja Persia. Memiliki kunyah Abu Hanifah.

Kelahiran

Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H. Dia pernah melihat Anas bin Malik ketika Anas datang ke Kufah, namun tidak terdapat bukti bahwa dia mendengar langsung dari salah satu sahabat.

Kisah menuntut ilmu

Zufar bin Al-Hudhayl berkata, Aku mendengar Abu Hanifah berkata, “Aku dulu mendalami ilmu kalam, bahkan aku menjadi rujukan orang banyak. Kami biasa duduk dekat halaqah Hammād bin Abi Sulaimān. Suatu hari, seorang wanita datang kepadaku dan bertanya, ‘Seorang laki-laki yang memiliki budak perempuan sebagai istrinya ingin menceraikannya menurut sunah, bagaimana caranya?’

Aku tidak tahu jawabannya, lalu kusuruh ia bertanya kepada Hammād dan menyampaikan jawabannya padaku. Ia bertanya kepada Hammād, dan Hammād menjawab, ‘Suaminya hendaknya menceraikannya saat ia suci dari haid dan tidak disetubuhi, dengan satu kali talak, lalu membiarkannya hingga mengalami dua kali haid. Jika ia mandi, maka ia halal dinikahi oleh pria lain.’ Wanita itu kembali menyampaikan jawaban itu kepadaku. Maka, aku berkata, ‘Aku tidak butuh lagi ilmu kalam.’ Aku pun mengambil sandalku dan bergabung di halaqah Hammād untuk mendengarkan berbagai masalah fikih yang ia ajarkan. Aku hafalkan jawabannya, lalu Hammād mengulanginya di hari berikutnya, dan aku kembali menghafalnya, sementara murid-murid lain sering melakukan kesalahan. Hingga akhirnya ia berkata, ‘Tidak ada yang layak duduk di hadapanku, selain Abu Hanifah.’

Aku menemani Hammād selama sepuluh tahun. Kemudian timbul dalam diriku keinginan untuk menjadi pemimpin sendiri dan membuka halaqahku sendiri. Suatu sore, aku keluar dengan niat melakukannya, namun saat aku melihat Hammād, aku tak sanggup meninggalkannya. Pada malam itu juga, datang kabar bahwa kerabatnya di Bashrah wafat dan meninggalkan harta yang tidak memiliki ahli waris selainnya. Hammād pun memerintahkanku untuk menggantikannya. Begitu ia pergi, datanglah berbagai pertanyaan yang belum pernah aku dengar darinya. Aku menjawab dan menuliskan jawabanku. Ia pergi selama dua bulan, lalu kembali.
Aku kemudian memperlihatkan kepadanya pertanyaan-pertanyaan yang jumlahnya sekitar enam puluh. Ia sependapat denganku dalam empat puluh soal dan berbeda pendapat dalam dua puluh. Aku pun bersumpah pada diriku untuk tidak meninggalkannya hingga ia wafat.”

Guru-guru

Di antara guru-guru Abu Hanifah adalah Atha’ bin Abi Rabah, Asy-Sya’bi, Jabalah bin Suhaim, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj, Amr bin Dinar, Nafi’ Mawla Ibnu Umar, Qatadah, Qais bin Muslim, Qasim bin Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Dinar, Abdul Aziz bin Rafi’, Atha’iyah Al-‘Awfi, Hammad bin Abi Sulaiman (yang menjadi gurunya dalam fikih), Abdul Malik bin Umair, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Al-Munkadir, Abu Ishaq As-Sabi’i, Manshur bin Al-Mu’tamir, Muslim Al-Batin, dan banyak lagi lainnya.

Murid-murid

Di antara murid-murid Abu Hanifah adalah Abdurrazzaq bin Hammam (guru Imam Ahmad), Hammad bin Abi Hanifah, Zufar bin Hudhail At-Tamimi, Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani, Waki’ bin Jarrah, dan Qadhi Abu Yusuf, serta banyak lagi lainnya.

Baca juga: Biografi Al-Hafidz Ibnu Katsir

Abu Hanifah adalah Imam ahli sunah waljamaah

Akidah Imam Abu Hanifah rahimahullah terkait tauhid, penetapan sifat-sifat Allah, bantahan kepada Jahmiyah, masalah qadar, keyakinan terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan perkara-perkara pokok iman lainnya sejalan dengan manhaj salaf dan manhaj para imam mazhab lainnya, kecuali dalam beberapa perkara kecil yang menyelisihi, seperti:

Pertama, pendapatnya bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang.

Kedua, definisi iman sebagai tasdiq (pembenaran) dalam hati dan iqrar (pengakuan) dengan lisan, tanpa memasukkan amal dalam hakikat iman.

Namun, Ibn Abdil Barr dan Ibn Abi Al-‘Izz menyebutkan indikasi bahwa Abu Hanifah kembali dari pendapat ini.

Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para imam yang masyhur semuanya menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala, meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, serta percaya bahwa Allah akan dilihat di akhirat. Inilah mazhab para sahabat, tabiin, dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlul Bait dan lainnya. Ini juga mazhab imam-imam yang diikuti seperti Malik bin Anas, Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’ad, Al-Auza’i, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahuyah.”

Yahya bin Nashr berkata, “Abu Hanifah mengutamakan Abu Bakar dan Umar, serta mencintai Ali dan Utsman. Ia beriman kepada takdir, baik maupun buruknya, dan tidak berbicara tentang Allah ‘Azza Wajalla dengan hal yang tak pantas. Ia membolehkan mengusap kedua khuf (sepatu kulit) dalam wudu, dan ia adalah orang yang paling ahli fikih dan paling bertakwa di zamannya.”

Hammad bin Abi Hanifah berkata, “Aku mendengar Abu Hanifah berkata, ‘Yang dimaksud dengan ‘jamaah’ adalah mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan Utsman, serta tidak merendahkan salah satu pun dari sahabat Rasulullah ﷺ. Jangan mengkafirkan orang karena dosa-dosanya, salatlah atas siapa saja yang mengucapkan ‘Lailahaillallah’ dan di belakang siapa saja yang mengucapkan ‘Lailahaillallah’. Mengusap kedua khuf (sepatu kulit) dalam wudu diperbolehkan. Serahkan segala urusan kepada Allah, dan tinggalkan pembicaraan yang tidak pantas tentang Allah Yang Mahamulia.”

Abu Hanifah berkata, “Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan selain itu, maka dia adalah kafir.”

Perkataan para ulama tentang Abu Hanifah

Yahya bin Ma’in (imam dalam bidang Jarh wa Ta’dhil) berkata bahwa Abu Hanifah adalah seorang yang tsiqah (terpercaya). Ia hanya meriwayatkan hadis yang benar-benar ia hafal, dan tidak meriwayatkan sesuatu yang tidak ia ingat dengan jelas.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Saya belum pernah melihat seseorang yang lebih mulia di majelisnya, atau lebih baik dalam penampilan dan kesabaran daripada Abu Hanifah.”

Hayan bin Musa Al-Marwazi berkata, “Ibnu Mubarak ditanya, ‘Siapa yang lebih faqih, Malik atau Abu Hanifah?’ Dia menjawab, ‘Abu Hanifah.’ ” Dan Ibnu Mubarak berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih di antara manusia.”

Ujian yang diterima Abu Hanifah

Ubaidullah bin Amr Al-Ruqy berkata, “Ibn Hubayrah (Amir Kufah) meminta Abu Hanifah untuk menjadi hakim di Kufah, namun beliau menolaknya. Akibatnya, beliau dipukul seratus kali dan sepuluh kali lebih banyak, namun Abu Hanifah tetap menolak. Ketika Ibn Hubayrah melihat keteguhan beliau, akhirnya dia melepaskannya.”

Wafat

Hammad bin Abi Hanifah berkata, “Ketika ayahku meninggal, kami meminta Hassan bin Amarah untuk memandikannya, dan dia pun melakukannya. Ketika selesai memandikannya, dia berdoa, ‘Semoga Allah merahmatimu dan mengampunimu. Engkau tidak pernah berbuka puasa selama tiga puluh tahun, dan tidak pernah tidur dengan meletakkan tangan kananmu sebagai bantal selama empat puluh tahun. Engkau telah menyusahkan orang setelahmu, dan memalukan para pembaca (Al-Qur’an).’ ”

Imam Abu Hanifah Al-Nu’man wafat pada tahun 150 Hijriah, pada usia 70 tahun. Ketika jenazahnya dibawa untuk disalatkan di Baghdad, umat Islam begitu banyak yang ingin menyalatkannya sehingga proses salat jenazah dilakukan enam kali karena padatnya kerumunan.

Baca juga: Biografi Ringkas Imam Abu Abdirrahman An-Nasa’i

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel: Muslim.or.id

 

Sumber:

Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari web:

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Al-Qur'an Application

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading