Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ ٱللهَ لَذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ
“Sesungguhnya Allah itu BENAR-BENAR memiliki karunia yg dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia itu tidaklah bersyukur” ( QS. Ghafir [40]: 61)
وَقَلِيلٌ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba2-Ku yang bersyukur” ( QS. Saba’ [34]: 13)
DR. Ahmad Farid حفظه الله berkata :
فالشكر يتعلق بالقلب واللسان والجوارح، فالقلب للمعرفة والمحبة، واللسان للثناء والحمد، والجوارح لاستعمالها في طاعة المشكور و كفها عن معصيته
“Syukur Berhubungan Erat Dengan Hati, Lisan dan juga Anggota Badan. HATI itu untuk ‘mengetahui dan mencintai’, Lisan untuk ‘Menyanjung dan Memuji,’ sedang anggota badan menggunakannya dalam Ketaatan Kepada Allah Yang Disyukuri & tdk menggunakannya Dlm Kedurhakaan Kepada-Nya” ( Al-Bahrur Roo’iq 172-173)
Ketika Rasa Syukur telah ‘hilang’ niscaya kehidupan dunia ‘tidak akan ada artinya’. Bahkan jika rasa syukur itu tidak dimiliki, nikmat tidak akan ditambah, dan bahkan sebaliknya diancam dgn adzab yg pedih.
Bentuk “hilangnya” rasa syukur dgn cara tidak melakukan ketaatan, mengerjakan kemaksiatan, tidak mau beragama yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan, dicontohkan, diamalkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Bentuk “hilangnya” rasa syukur dgn cara ‘menyandarkan’ segala nikmat Allah kpd dirinya sendiri, tdk mau mensyukuri ilmu dengan “beramal” & tdk mau mensyukuri amal dengan “bertambahnya” ILMU dll.
Sahl at-Tustariy رحمه الله berkata :
شُكْرُ الْعِلْمِ الْعَمَلُ وَشُكْرُ الْعَمَلِ زِيَادَةُ الْعِلْمِ
“Bentuk Syukurnya ilmu dengan beramal & bentuk Syukurnya amal adalah dengan SEMAKIN bertambahnya IILMU” ( Hilyatul Auliyaa’ X/194)
Apabila Hati telah lembut maka dia akan mudah ikhlas, khusyu, bersyukur kepada Allah serta merasa takut kepada-Nya…!!!
Saat Allah tidak pernah hitung-hitungan dalam Memberikan Nikmat-Nya kepada para hamba, lalu apakah kita tidak malu kepada-Nya jika ingin “Hitung-hitungan” saat mensyukuri berbagai nikmat-Nya !?
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :
كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، إذَا صَلَّى قَامَ حتَّى تَفَطَّرَ رِجْلَاهُ، قالَتْ عَائِشَةُ: يا رَسولَ اللهِ، أَتَصْنَعُ هذا، وَقَدْ غُفِرَ لكَ ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِكَ وَما تَأَخَّرَ، فَقالَ : يا عَائِشَةُ أَفلا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasanya jika beliau Shalat, beliau berdiri “Sangat Lama” hingga kakinya mengeras kulitnya. Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa engkau sampai melakukan ini? Bukankah dosa-dosamu telah Diampuni, baik yang telah LALU maupun yang akan DATANG ?” Rasulullah ﷺ bersabda : “Ya ‘Aisyah, Bukankah “Semestinya” aku jadi hamba Yang BERSYUKUR?” ( HR.Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820)
Oh….Betapa Malunya diri ini yang Selalu saja dipandang oleh Allah Tdk Bersyukur dan berkorban untuk-Nya, bahkan sering kali berbuat kemaksiatan dan juga dosa, bagaimanakah selamat dari siksa-Nya !!!
اَللّٰهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah aku memohon pertolongan-Mu agar Engkau “menjadikan” aku hamba yg senantiasa berdzikir, bersyukur dan juga beribadah kepada-Mu dengan baik”
Ustadz Najmi Umar Bakkar
Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1
* Grup Whatsapp* :https://bit.ly/grupbis
Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya
┅┅══❃ ✿❃══┅┅ ✿❃══┅┅