Meraih Keberkahan Bersama Al-Qur’an
![]()
Meraih Keberkahan Bersama Al-Qur’an
Bismillah…
Allah berfirman:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Setiap orang menginginkan hidup yang penuh berkah: waktu yang bermanfaat, harta yang mencukupi, keluarga yang tentram, dan akhir yang baik. Namun, banyak yang mencari keberkahan di tempat yang tidak Allah syariatkan. Padahal sumber keberkahan terbesar sudah Allah turunkan dari langit, yaitu Al-Qur’an.
Allah menyebut Al-Qur’an sebagai kitabun mubarak, kitab yang penuh keberkahan. Keberkahannya tidak hanya terasa pada pahala membacanya, tetapi juga pada perubahan jiwa dan arah hidup seseorang yang berinteraksi dengan wahyu ini. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin besar keberkahan yang Allah limpahkan dalam hidupnya.
Ngalab Berkah Dari Al-Qur’an
Istilah ngalap berkah artinya mencari limpahan kebaikan yang bertambah dan terus mengalir. Dan Al-Qur’an termasuk sumber keberkahan yang paling agung.
Allah Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29)
Al-Qur’an penuh berkah karena semua yang berkaitan dengannya mengandung kebaikan: membacanya, mendengarkannya, memahaminya, mengamalkannya dan mengajarkannya. Semakin kuat hubungan seseorang dengan Al-Qur’an, semakin besar pula limpahan keberkahan yang Allah anugerahkan padanya. Sebagaimana penjelasan dari Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam kitab tafsir beliau:
{ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ } فيه خير كثير، وعلم غزير، فيه كل هدى من ضلالة، وشفاء من داء، ونور يستضاء به في الظلمات، وكل حكم يحتاج إليه المكلفون، وفيه من الأدلة القطعية على كل مطلوب، ما كان به أجل كتاب طرق العالم منذ أنشأه اللّه.
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan keberkahan.”
Yakni, di dalamnya terkandung kebaikan yang melimpah dan ilmu yang luas. Di dalam Al-Qur’an terdapat segala petunjuk dari kesesatan, penyembuh dari segala penyakit, serta cahaya yang menerangi dalam kegelapan. Ia mengandung segala hukum yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupan, baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah, maupun muamalah. Selain itu, di dalamnya terdapat dalil-dalil yang pasti dan kuat bagi setiap kebenaran yang dicari, hingga menjadikannya sebagai kitab paling agung yang pernah dikenal dunia sejak Allah menciptakannya.” (Taisir Karim Ar-Rahman/Tafsir As-Sa’di)
Namun, keberkahan ini bukan diperoleh dengan menggantung mushaf di rumah, menyimpannya dalam almari, atau sekadar membaca tanpa pemahaman. Keberkahan hanya akan hadir bila Al-Qur’an dibaca, dipahami, dan diamalkan.
Mentadabburi Al-Qur’an
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentadabburi Al-Qur’an, bukan sekadar membacanya dengan lisan.
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mentadabburi Al-Qur’an hatinya tertutup dari petunjuk. Membaca Al-Qur’an tanpa tadabbur seperti menanam tanpa menyiram. Ada benih, tetapi tidak tumbuh. Tadabbur menjadikan bacaan kita hidup dan berdampak pada amal.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
لا شيء أنفع للقلب من قراءة القرآن بالتدبر والتفكر، فإنه جامع لجميع منازل السائرين وأحوال العاملين ومقامات العارفين، وهو الذي يورث المحبة والشوق والخوف والرجاء والإنابة والتوكل والرضا والتفويض والشكر والصبر، وسائر الأحوال التي بها حياة القلب وكماله، وكذلك يزجر عن جميع الصفات والأفعال المذمومة التي بها فساد القلب وهلاكه
“Tak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur’an dengan penuh tadabbur (perenungan mendalam) dan tafakkur (pemikiran yang mendalam). Sebab, Al-Qur’an mencakup seluruh tingkatan perjalanan spiritual para penempuh jalan Allah, keadaan orang-orang yang beramal, serta kedudukan para arifin (orang-orang yang mengenal Allah). Al-Qur’anlah yang menumbuhkan rasa cinta, kerinduan, rasa takut, harapan, tobat, tawakal, ridha, pasrah, syukur, dan sabar, serta seluruh keadaan yang menjadi sumber kehidupan dan kesempurnaan hati. Begitu pula, Al-Qur’anlah yang mencegah manusia dari segala sifat dan perbuatan tercela yang menyebabkan kerusakan dan kehancuran hati.”(Miftah Dar as-Sa’adah)
Dengan demikian, Ibnul Qoyyim rahimahullah ingin menegaskan bahwa tadabbur terhadap Al-Qur’an adalah kunci kebahagiaan dan kesucian hati, serta merupakan jalan utama untuk mencapai kedekatan dan makrifat kepada Allah ‘azza wa jalla.
Senantiasa Sibuk Bersama Al-Qur’an
Kesibukan manusia bermacam-macam. Ada yang sibuk dengan urusan dunia, ada pula yang sibuk dengan ibadah. Dan kesibukan yang paling utama adalah menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.
Sibuk dengan Al-Qur’an artinya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam segala urusan. Ia membacanya setiap hari, memperbaiki bacaannya, mengajarkannya, mentadabburinya dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai penuntun langkah.
Setiap huruf dari Al-Qur’an bernilai besar di sisi Allah.
«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا»
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi)
Maka, jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa Al-Qur’an. Waktu yang dihabiskan bersama Al-Qur’an tidak akan pernah sia-sia. Ia menjadi sumber pahala, penenang hati, dan penyelamat di hari akhir.
Mempelajari dan mengajarkan Al-Quran, adalah kesibukan yang paling berkah mengisi umur seseorang. Dengannya seseorang dapat meraih martabat manusia yang paling baik di mata Allah ta’ala. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam-,
خَيرُكُم مَن تَعَلَّمَ القُرآنَ وعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:
ولهذا دَخَلَ في معنى قولِهِ: «خيرُكُم مَن تعَلَّمَ القُرآنَ وعَلَّمَهُ» تعليمُ حُرُوفِهِ ومَعانيهِ جميعاً؛ بلْ تعَلُّمُ مَعانيهِ هُوَ المقصُودُ الأوَّلُ بتعلِيمِ حُرُوفِهِ، وذلكَ هوَ الذي يَزيدُ الإيمانَ، كما قالَ جُندُبُ بنُ عبدِ اللهِ وعبدُ اللهِ بنُ عُمَرَ وغيرُهُما
“Oleh karena itu, makna sabda Nabi ﷺ: ‘Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,’ mencakup pengajaran huruf-hurufnya dan maknanya sekaligus. Bahkan, mempelajari makna-maknanya adalah tujuan utama dari mempelajari huruf-hurufnya. Sebab, itulah yang menambah keimanan. Sebagaimana dikatakan oleh Jundub bin Abdullah, Abdullah bin Umar, dan selain keduanya:
عَلَّمنَا الإيمانَ ثُمَّ تعَلَّمْنا القُرآنَ فازْدَدْنا إيماناً، وأنتُم تَتَعَلَّمُونَ القُرآنَ ثُمَّ تتَعَلَّمُونَ الإيمانَ
“Kami mempelajari iman terlebih dahulu, kemudian kami mempelajari Al-Qur’an, maka keimanan kami pun bertambah. Adapun kalian (wahai generasi setelah kami), kalian mempelajari Al-Qur’an terlebih dahulu, lalu baru mempelajari iman.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, keutamaan mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an tidak hanya sebatas pada kemampuan membaca huruf-hurufnya, tetapi terutama pada pemahaman terhadap makna dan kandungannya. Karena tujuan utama dari mempelajari teks Al Qur’an adalah agar seseorang mencapai peningkatan iman, sebagaimana ditunjukkan oleh para sahabat yang memulai dengan mempelajari iman, lalu mendalami Al Qur’an sehingga keimanan mereka semakin kuat. Dengan demikian, ilmu yang hanya berhenti pada lafadz tanpa memahami maksudnya belum memenuhi hakikat dari anjuran Nabi ﷺ tentang “sebaik-baik manusia” dalam hadits tersebut.
Menghabiskan Masa Tua dengan Al-Qur’an
Bagi sebagian orang, masa tua identik dengan lemah dan sepi. Namun bagi orang yang beriman, masa tua adalah masa panen amal. Dan di antara amal terbaik di masa tua adalah menyibukkan diri dengan Al-Qur’an. Di usia senja, membaca Al-Qur’an menjadi bentuk dzikir yang menenangkan. Setiap huruf yang dibaca menjadi bekal untuk kehidupan abadi.
Al-Qur’an akan menjadi teman setia di dunia, pelindung di kubur, dan pemberi syafaat di akhirat.
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ.
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
Keberkahan bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa Allah berkahi apa yang kita punya. Dan keberkahan terbesar ada pada kedekatan dengan Al-Qur’an.
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29)
Siapa yang hidup bersama al-qur’an, maka hidupnya akan allah penuhi dengan cahaya, keberkahan, dan petunjuk.
Dan siapa yang berpaling darinya, hidupnya akan sempit meski bergelimang dunia.
Wallahu a’lam bis showab.
Ditulis Oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

