Tiga Jenis Kesabaran; Billah, Lillah, Ma’allah
![]()
Tiga Jenis Kesabaran; Billah, Lillah, Ma’allah
Bismillah…
Sabar adalah ibadah hati yang sangat agung. Di baliknya terkandung pahala tanpa batas. Ia perjalanan hati yang tumbuh seiring dengan kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Karena itu, para ulama terdahulu banyak membahas sabar dari sisi yang lebih dalam, bukan hanya perilaku lahiriah, tapi keadaan batin yang menjadi tolok ukur keimanan seseorang.
Syekh al-Islam al-Harawi rahimahullah menjelaskan bahwa sabar memiliki tiga tingkatan yang menunjukkan kematangan iman Seorang hamba:
Tingkat pertama adalah sabar dalam menahan diri dari maksiat.
Seseorang menahan dirinya dari dosa karena sadar akan ancaman Allah, karena ingin menjaga cahaya iman di dalam dada, dan karena takut menodai hatinya dengan yang haram. Namun, yang lebih indah dari itu adalah sabar meninggalkan maksiat karena rasa malu kepada Allah, malu karena karunia-Nya terlalu besar untuk dikhianati, malu karena nikmat-Nya tidak layak dibalas dengan dosa.
Tingkat kedua adalah sabar dalam ketaatan.
Yakni kesabaran yang lahir dari tekad untuk mengerjakan amal ibadah, menjaganya secara terus-menerus, menghidupkannya dengan keikhlasan, dan memperindahnya dengan ilmu. Ia bukan sekadar melakukan ibadah, tetapi merawatnya agar tetap bernilai di sisi Allah.
Tingkat ketiga adalah sabar dalam menghadapi ujian.
Inilah sabar yang menguji keteguhan hati, ketika segala daya upaya telah dikerahkan dan satu-satunya sandaran hanyalah Allah. Pada saat itu, sabar bukan berarti diam tanpa daya, tetapi keyakinan yang teguh bahwa di balik luka ada hikmah, dan di balik setiap kehilangan ada kasih sayang Allah yang sedang bekerja.
Tiga Jenis Sabar Menurut Ibnul Qayyim
Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarijus Salikin (2/157-Maktabah Shamela) menuturkan, sabar itu ada tiga jenis: sabar karena Allah, sabar untuk Allah, dan sabar bersama Allah.
Sabar karena Allah (biLlāh) adalah sabar yang tumbuh dari keyakinan bahwa tiada daya tanpa pertolongan-Nya.
Hati menyadari bahwa Allah-lah yang menguatkan langkah, bukan kekuatan diri. Sebagaimana firman-Nya:
(وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ)
“Dan bersabarlah; tiada kesabaranmu itu melainkan dengan (pertolongan) Allah.” (QS. an-Nahl: 127)
Artinya, jika Allah tidak meneguhkan hatimu, engkau takkan sanggup bersabar.
Sabar untuk Allah (liLlāh) adalah sabar yang dilandasi cinta, bukan karena ingin tampak kuat, bukan pula karena gengsi, tetapi karena ingin ridha-Nya. Inilah sabar yang lembut, sabar yang bersumber dari cinta yang dalam kepada Sang Pencipta.
Sabar bersama Allah (ma‘aLlāh) adalah sabar yang tumbuh seiring dengan kehendak-Nya. Seorang hamba berjalan di bawah bimbingan takdir dan syariat-Nya, menundukkan diri sepenuhnya kepada hukum-hukum Allah, dan meniti hidup dengan kesadaran bahwa setiap langkah harus selaras dengan jalan yang diridhai-Nya.
Sabar, Kepala dari Tubuh Iman
Sabar, dalam pandangan para salaf, ibarat kepala bagi tubuh, tidak ada iman bagi siapa pun yang tak memiliki kesabaran, sebagaimana tidak ada kehidupan bagi tubuh tanpa kepala.
Umar bin Khaththab radhiyallāhu ‘anhu berkata:
خير عيش أدركناه بالصبر.
“Sebaik-baik kehidupan yang kami rasakan adalah kehidupan yang ditempuh dengan kesabaran.”
Dalam hadis sahih riwayat Muslim disebutkan:
والصبر ضياء
“Sabar itu cahaya yang menyinari.”
Dan Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim:
“عجباً لأمر المؤمن، إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن، إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
Sabar, Setengah Dari Iman
Ibnul Qayyim menulis dalam Madarij as-Salikin bahwa sabar disebutkan dalam enam belas bentuk dalam Al-Qur’an, sementara Imam Ahmad rahimahullāh menyebutkan bahwa sabar hadir di sekitar sembilan puluh ayat dalam Kitabullah.
Ia bukan sekadar akhlak, tetapi kewajiban yang disepakati oleh seluruh ulama, dan merupakan setengah dari iman.
Karena Iman Itu Terdiri Dari Dua Sayap:
Syukur dan sabar.
Dengan syukur, kita menjaga nikmat; dengan sabar, kita menanggung ujian.
Tanpa keduanya, iman pincang, hidup kehilangan arah, dan jiwa kehilangan ketenangan.
Semoga Allah menjadikan kita di antara hamba-hamba-Nya yang sabar dalam ujian, sabar dalam ketaatan, dan sabar dalam menahan maksiat, hingga kesabaran itu sendiri menjadi cahaya yang menuntun langkah kita menuju ridha-Nya.
Wallāhu a‘lam.
Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc.,M.Pd.

