Dan kehidupan Allāh adalah kehidupan yang sempurna, kehidupan yang tidak mengenal kematian, kehidupan yang tidak berawal dari tidak ada, kehidupan yang kekal. Ini adalah kehidupan Allāh yang tidak dihinggapi rasa kantuk apalagi tidur. Ini adalah kesempurnaan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh memiliki nama-nama dan sifat-sifat.
Kemudian, berapa jumlah nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla?
Di dalam hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan:
إِنَّ للهِ تِسْعَةُ وَ تِسْعِيْنَ اسْمًا
_”Allāh memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama”_
مَنْ أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّة
_’Barangsiapa yang mengihshā maka dia akan masuk surga”_
[Dikeluarkan Imam Bukhari, Kitabusy Syuruth, bab maa yajuuzu minasy syuruth …: 2376, dan Muslim Kitabudz Dzikri wad Du’a, bab asma` illah Ta’ala wa tadhlu man ahshaha: 2677]
Mengihshā (أحصا) artinya:
⑴ Dia mengetahui bahwa itu nama Allāh Ta’āla.
⑵ Dia paham makna nama Allāh tersebut yang mengandung sifat-sifat Allāh yang sempurna.
⑶ Dia beribadah kepada Allāh sesuai dengan kandungan nama tersebut.
Contoh (umpamanya):
Allāh memiliki nama Ar-Rahman (الرحمن), Ar-Rahman adalah nama Allāh Ta’āla. Kita tahu makna Ar-Rahman adalah Dzat yang Maha Pemurah. Dalam nama Allāh Ar-Rahman ini, mengandung sifat Allāh, Dzu Ar-Rahmah Al-Wāsi’ah (ذو الرحمة الواسعة) memiliki rahmat yang luas. Pemilik rahmat yang luas yang tanpa batas
Bagaimana ibadah kita kepada Allāh dengan nama Ar-Rahman yang sifatnya ذو الرحمة الواسعة tersebut?
⑴ Kita mencintai Allāh karena rahmat Allāh, meliputi semua hamba.
⑵ Kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Karena luasnya rahmat Allāh Ta’āla dan Allāh perintahkan demikian. Allāh melarang kita untuk tidak putus asa dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla
Para pemirsa.
Maka orang yang melakukan tiga hal inilah yang dikatakan Man Ashā hā (من أحصاها) barang siapa yang mengihsā. Allāh memiliki 99 nama, barangsiapa dia mengihsā nama-nama tersebut maka akan masuk ke dalam surga.
Akan tetapi 99 nama ini bukanlah batasan jumlah nama dan sifat Allāh Ta’āla.
Kenapa, darimana kita tahu?
Dari sebuah hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang Nabi mengatakan dalam doanya.
اللهمّ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
_”Ya Allāh, aku meminta kepada-Mu dengan seluruh nama yang Engkau miliki, nama-nama yang Engkau namai diri-Mu dengan nama-nama itu. Nama-nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu, nama yang Engkau turunkan di dalam kitāb-Mu atau nama yang Engkau simpan di ilmu ghaib-Mu.”_
(HR. Ahmad 6/247, di shahihkan oleh syekh Al Bani)
Nama yang Allāh simpan di ilmu ghaib-Nya kita tidak mengetahui, sehingga para ulama menjelaskan bahwa nama-nama Allāh dan sifat-sifat Allāh tidak terbatas, hanya Allāh yang mengetahuinya.
Sembilan puluh sembilan yang Allāh jelaskan itu terikat dengan kalimat tadi من أحصاها barangsiapa yang dia mengihsā, oleh karena itu jumlah nama-nama Allāh, kita kembalikan kepada Allāh, karena Allāh yang lebih tahu. Tetapi 99 nama itu bukanlah pembatasan jumlah daripada nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita dengan nama-nama tersebut,
فَادْعُوهُ بِهَا
_”Berdoalah kepada Allāh dengan nama-nama Allāh Ta’āla”_
(QS. Al-A’raf: 180)
Berdoa kepada Allāh dengan nama-nama itu maksudnya,
⑴ Supaya kita bertawassul sebelum kita meminta kepada Allāh, hendaklah kita mengawali dengan menyebut nama-nama Allāh Ta’āla.
Ya Rahman, ya Rahīm, ya Ghafar, ya Tawwab dan seterusnya.
Baru kita mengajukan permintaan kepada Allāh Ta’āla.
⑵ Makna فَادْعُوهُ بِهَا, supaya kita beribadah kepada Allāh dengan kandungan nama tersebut.
Contoh di antaranya:
