Tauhīd itu mempersembahkan totalitas ibadah hanya kepada Allāh Ta’āla.
② Apapun dan siapapun tidak boleh kita berikan kepadanya ibadah. Walaupun itu malaikat yang terdekat, nabi yang diutus oleh Allāh Ta’āla, orang-orang shalih, atau jin dan semisalnya.
Maka apapun dan siapapun tidak dibedakan antara mempersembahkan ibadah kepada malaikat atau kepada batu, kepada nabi atau kepada kuburan. Sama saja.
Orang yang mereka mempersembahkan ibadah kepada siapapun selain Allāh namanya musyrik. Baik itu malaikat atau kuburan, nabi atau batu, jin atau pohon sama saja. Tidak dibedakan.
Ini buah yang pertama, ketika kita mengimani Allāh dengan cara yang benar kita akan betul-betul mewujudkan tauhīd yang benar.
*Poin Kedua* | Bahwa kecintaan kita dan pengagungan kita kepada Allāh Ta’āla tidak akan bisa terwujud dengan sebenarnya kecuali kita memahami nama dan sifat Allāh Ta’āla. Memiliki, memahami tentang keindahan nama-nama Allāh dan kesempurnaan sifat-sifat Allāh Ta’āla.
√ Orang semakin paham siapa Allāh maka semakin mencintai Allāh, semakin mengagungkan Allāh. Maka ada istilah, “Tak kenal maka tak sayang”, tidak kenal maka dia tidak sayang.
√ Orang yang tidak mengenal Allāh, tidak akan tumbuh kecintaan yang sempurna kepada Allāh Ta’āla.
Orang yang tidak mengenal Allāh, maka tidak akan tumbuh rasa pengagungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Maka di sinilah kewajiban kita mengimani, mempelajari nama-nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ada buku yang sangat bagus yang mengantarkan kita memahami nama dan sifat Allāh, lalu bagaimana kita mewujudkan ibadah kita kepada Allāh dengan nama dan sifat itu.
Silahkan baca dan simak kitab Syaikh Abdurrazaq “Fiqih Asmaul Husna” dan alhamdulillāh sudah ada terjemahannya.
Silahkan dibaca, maka itu sedikit banyak akan menuntun kita memahami nama-nama dan sifat Allāh, lalu bagaimana kita mewujudkan ibadah kepada Allāh sesuai dengan kandungan nama dan sifat-sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
تحقيق عبادته بفعل ما أمر به واجتناب ما نهى عنه
*Poin Ketiga* | Orang yang mereka mengenal nama-nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Orang yang mengenal Allāh dengan benar, mengimani Allāh dengan benar, dia akan mewujudkan penghambaan yang terbaik kepada Allāh Ta’āla.
Mewujudkan penghambaan kepada Allāh dengan melakukan semua yang diperintahkan Allāh, menjauhi semua yang dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Penghambaan kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla seperti ini, itu sangat berkaitan dengan sejauh mana kita mengenal siapa itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Sehingga tanpa kita benar-benar mengenal siapa itu Allāh, dan kemudian mengimani Allāh sesuai dengan apa yang telah Allāh ajarkan kepada kita, tidak akan muncul penghambaan kepada Allāh yang sesungguhnya.
Oleh karena itulah para salaf kita di antaranya mereka sampai pada tingkat bisa menikmati segala macam amal ibadah, kelezatan ibadah, kelezatan dia merasakan surga dunia bagi dia, dengan cara mengenal Allāh Ta’āla.
Maka seorang salaf mengatakan:
مساكين أهل الدنيا
Yang dikatakan orang yang betul-betul miskin di kalangan ahli dunia.
Siapa itu?
Mereka adalah:
خرجوا من الدنيا ولم يذقوا طيب نعيمها
Orang yang dikatakan miskin, layak dikasihani dari kalangan ahli dunia bukan orang tidak punya perabot, bukan orang yang tidak punya uang, bukan orang yang tidak punya jabatan tapi yang layak dikasihani, betul-betul miskin adalah orang yang mereka sampai matinya tidak merasakan sesuatu yang paling lezat yang paling nikmat alias tidak merasakan surga dunia.
Padahal manusia semuanya ingin mengejar kebahagiaan, mendapatkan yang paling lezat paling nikmat, sehingga dia kejar harta dia kejar jabatan, dia kejar kekuasaan dan ternyata tidak mendapat semuanya karena salah yang mereka kejar.
Ketika ditanyakan, “Apa yang paling lezat yang paling nikmat itu?”
