Perbedaan Antara Tawakal Dan Isti’anah
![]()
Perbedaan Antara Tawakal Dan Isti’anah
Kata tawakkal, isti’anah (meminta pertolongan), dan i’timad (mengandalkan) memiliki makna yang mirip. Semuanya menunjukkan sikap menyerahkan urusan, pasrah, percaya kepada pihak lain, dan mengarah kepadanya saat butuh bantuan — secara umum maknanya seperti itu.
Baik tawakkal maupun isti’anah, keduanya mengandung makna i’timad (mengandalkan).
Tawakkal kepada Allah dan isti’anah kepada-Nya masing-masing mencakup makna bergantung kepada-Nya. Maka, i’timad (mengandalkan) adalah istilah yang lebih umum dan luas. Tawakkal adalah salah satu bentuk bergantung kepada Allah, dan isti’anah juga merupakan bentuk lain dari bergantung kepada-Nya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata :
قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله:
“والاستعانة: طلب العون بلسان المقال؛ كقولك: (اللهم أعني)، أو: (لا حول ولا قوة إلا بالله)، عند شروعك بالفعل.
أو: بلسان الحال؛ وهي أن تشعر بقلبك أنك محتاج إلى ربك عز وجل أن يعينك على هذا الفعل، وأنه إن وكلك إلى نفسِك وكلك إلى ضعفٍ وعجزٍ وعورةٍ.
أو: طلب العون بهما جميعا، والغالب أن من استعان بلسان المقال، فقد استعان بلسان الحال”، انتهى
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Isti’anah (Meminta Pertolongan) Bisa Dilakukan Dengan:
- Lisan secara langsung, seperti ketika engkau berdoa: ‘Ya Allah, tolonglah aku’, atau mengucapkan ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billaah’ saat mulai melakukan suatu amal.
- Lisanul hal (Sikap batin) yaitu ketika hatimu merasa bahwa engkau butuh pertolongan Allah untuk bisa melakukan suatu amal, dan bahwa jika Allah membiarkanmu sendiri, maka engkau akan lemah, tidak mampu, dan tidak punya daya apa pun.
- Atau dengan keduanya sekaligus. Dan umumnya, orang yang meminta pertolongan dengan ucapan, ia juga memohon dalam hatinya.” (Disarikan dari Al-Qaulul Mufid 2/368)
Dari penjelasan di atas bisa dipahami bahwa meminta pertolongan dengan hati atau merasa sangat bergantung pada Allah agar dimampukan menjalankan perintah-Nya, itu termasuk bagian dari tawakkal. Inilah maksud para ulama ketika mereka mengatakan:
التوكل هو الاستعانة.
“Tawakkal adalah bagian dari isti’anah.”
Perbedaan Tipis Antara Tawakal Dan Isti’anah
Setiap tawakal dan isti’anah (meminta pertolongan) mengandung makna bergantung dan menyerahkan urusan. Namun, di antara keduanya ada perbedaan tipis, dan yang paling utama adalah:
- Isti’anah lebih umum daripada tawakal dari sisi bentuk pelaksanaannya:
- Tawakal adalah amalan dan arah hati sepenuhnya, yang muncul dari pengetahuan dan keyakinan hati.
- Isti’anah bisa dilakukan dalam tiga bentuk:
- Dengan hati dan lisan sekaligus (misalnya: berdoa sambil merasa butuh),
- Dengan lisan saja (mengucapkan doa tanpa kesadaran hati),
- Dengan hati saja (hati merasa bergantung dan meminta tanpa ucapan).
Jika isti’anah dilakukan hanya dengan hati, maka ia menjadi tawakal, karena maknanya menjadi satu:
yaitu permintaan pertolongan dari hati kepada Allah dan bersandar penuh kepada-Nya dalam menjalankan perintah.
- Tawakal lebih luas daripada isti’anah dari sisi tujuan atau hal yang diminta.
- Tawakal mencakup segala hal, baik dalam mendatangkan manfaat maupun menolak bahaya, bahkan termasuk juga bersandar kepada Allah untuk sesuatu yang di luar kemampuan manusia.
- Adapun isti’anah terbatas pada saat melakukan suatu amal atau usaha saja.
- Tawakal adalah akar dari isti’anah dan penyebabnya.
- Sebab apa yang ada di dalam hati menjadi dasar bagi apa yang dilakukan oleh anggota badan.
- Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan: Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka ia pasti akan meminta pertolongan kepada-Nya (isti’anah).
Penutup
Dengan memahami perbedaan tipis antara tawakal dan isti’anah ini, dapat kita simpulkan bahwa:
tawakal adalah sikap hati yang sepenuhnya bersandar kepada Allah dalam segala urusan, sedangkan isti’anah mencakup dua bentuk
- Pertama, isti’anah yang bersifat ibadah hati (penyerahan diri), yang hanya boleh kepada Allah dan ini semakna dengan tawakal
- Kedua, isti’anah berupa meminta bantuan fisik atau usaha lahiriah, yang boleh dilakukan kepada sesama manusia selama ia mampu dan masih hidup.
Semoga bermanfaat, baarokallohu fiikum

