Empat Bentuk Sembelihan: Antara Ibadah, Khurafat, dan Syirik Terselubung

 Empat Bentuk Sembelihan: Antara Ibadah, Khurafat, dan Syirik Terselubung

15 hours yang lalu
 Empat Bentuk Sembelihan: Antara Ibadah, Khurafat, dan Syirik Terselubung

 Empat Bentuk Sembelihan: Antara Ibadah, Khurafat, dan Syirik Terselubung

Kebiasaan menyembelih hewan saat mendapatkan nikmat sangat umum terjadi di masyarakat. Ketika seseorang diberi rezeki oleh Allah — seperti mendapatkan harta, membuka usaha baru, membeli mobil, atau menempati rumah baru — banyak orang langsung menyembelih sapi atau unta sebagai bentuk merayakan nikmat tersebut. Namun, niat di balik penyembelihan ini berbeda-beda, dan bisa dibagi menjadi beberapa keadaan:

  1. Menyembelih sebagai bentuk syukur kepada Allah.  
  2. Menyembelih untuk menangkal ‘ain (pandangan hasad) atau iri hati. 
  3. Menyembelih karena takut usahanya gagal atau rezekinya tertutup.  
  4. Menyembelih untuk Allah tetapi karena takut gangguan jin.

Empat bentuk ini menunjukkan bahwa satu amalan bisa tampak sama, tapi niat dan keyakinan di baliknya sangat menentukan nilai amal itu — apakah termasuk ibadah yang diterima, atau bahkan jatuh dalam bentuk kesyirikan?

Penjelasan Lebih Rinci Tentang 4 Hal Di Atas

Keadaan pertama: seseorang menyembelih sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, lalu ia memuliakan orang-orang dengan membagikan daging. Ia berkata, “Allah telah memberiku rezeki berupa usaha ini atau harta ini, maka aku bersyukur kepada-Nya atas nikmat tersebut, dan mengamalkan firman Allah: 

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ إبراهيم

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian’ (Ibrahim: 7).”

Maka ia menyembelih dan mengundang orang-orang untuk makan. Ini hukumnya boleh.

Namun, jika ia menjadikan penyembelihan atau jamuan tersebut sebagai cara untuk menolak hasad atau ‘ain, maka ia telah menjadikan sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah sebagai sebab untuk menolak ‘ain, sehingga terjatuh dalam syirik kecil. Karena cara menangkal ‘ain dan hasad adalah dengan membaca Al-Mu’awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Naas).

Keadaan kedua: seseorang menyembelih hewan untuk mengusir pandangan iri (‘ain), dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang menghalau ‘ain tersebut. Ia berkata, “Ini untuk Allah,” namun ia menjadikan penyembelihan sebagai sebab mengusir ‘ain.  

Namun, Allah tidak mengajarkan dalam Al-Qur’an maupun sunnah Nabi bahwa ‘ain dihalau dengan menyembelih. Jika mengusir ‘ain termasuk ibadah, maka caranya harus sesuai dengan Al-Qur’an atau sunnah. Allah berfirman: 

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ 

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan bagi mereka agama yang tidak Allah perbolehkan?” (Asy-Syura: 21).  

Allah sebagai Rabb menunjukkan sebab dan akibat yang benar. Ia telah memberitahu Nabi-Nya bahwa ‘ain itu nyata. Allah juga menurunkan obat untuk setiap penyakit. Dalam hadis disebutkan: “Berobatlah, wahai hamba Allah, dan jangan berobat dengan yang haram.”  

Jalan untuk mengusir ‘ain adalah dengan membaca Al-Mu’awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Naas) atau ruqyah syar’iyyah. Sementara menyembelih sebagai usaha mengusir ‘ain bertentangan dengan syariat Allah dan termasuk syirik kecil, karena meski diniatkan untuk Allah, tapi menjadikan penyembelihan sebagai sebab yang tidak disyariatkan Allah.

Keadaan ketiga: menyembelih untuk mempermudah urusan atau pekerjaan. Hukumnya tergantung niat. Jika seseorang paham bahwa dengan bersedekah kepada Allah, malaikat akan mendoakan kebaikan dan pengganti yang lebih baik, maka jika ia bersedekah dengan daging sembelihan, itu diperbolehkan.  

Namun, jika seseorang mengatakan bahwa menyembelih adalah sebab khusus untuk mendapatkan rezeki, maka ini adalah bid’ah dalam agama.  

Ini termasuk syirik kecil dan bisa menjadi jalan menuju syirik besar.  

Keadaan keempat: menyembelih untuk jin adalah syirik besar. Bahkan jika dia berkata, “Aku menyembelih untuk Allah karena takut pada jin,” ada pertentangan antara ucapan dan niat. Bukti kuat menunjukkan bahwa dia melakukannya untuk mengusir takutnya pada jin.  

Allah menjelaskan kekafiran orang-orang yang berlindung pada jin dalam Al-Qur’an:  

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنْ الإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنْ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً

“Dan sesungguhnya ada orang-orang dari manusia yang berlindung kepada orang-orang dari jin, maka mereka menambah kesusahan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 6)  

Ini syirik besar karena dia meyakini jin memberi manfaat atau mudharat yang hanya seharusnya diyakini kepada Allah.

Semoga kita selalu diberi pemahaman yang benar tentang ibadah dan niat kita, agar terhindar dari syirik dalam bentuk apapun. Ingatlah, hanya Allah-lah yang berkuasa memberi manfaat dan menolak bahaya. Mari perkuat keyakinan kita kepada-Nya dengan ikhlas dan ilmu yang benar.

Semoga bermanfaat baarokallohu fiikum

Sumber utama pembahasan di atas :

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link