Mengapa Allah Menegur Nabi? Pelajaran Besar Bagi Penuntut Ilmu

Mengapa Allah Menegur Nabi? Pelajaran Besar Bagi Penuntut Ilmu

2 hours yang lalu
Mengapa Allah Menegur Nabi? Pelajaran Besar Bagi Penuntut Ilmu

Pelajaran dari kisah Abdullah bin Ummi Maktum di pada surat ‘Abasa

Allah ta’ala berfirman di awal QS ‘Abasa

{ عَبَسَ وَتَوَلَّىٰۤ (1) أَن جَاۤءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ (2) وَمَا یُدۡرِیكَ لَعَلَّهُۥ یَزَّكَّىٰۤ (3) أَوۡ یَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰۤ (4) أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ (5) فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ (6) وَمَا عَلَیۡكَ أَلَّا یَزَّكَّىٰ (7) وَأَمَّا مَن جَاۤءَكَ یَسۡعَىٰ (8) وَهُوَ یَخۡشَىٰ (9) فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ (10) كَلَّاۤ إِنَّهَا تَذۡكِرَةࣱ (11) }

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan,” [QS ʿAbasa: 1-11]

Sebab Turunnya Ayat Ini

As Sa’di rahimahullah berkata

وسبب نزول هذه الآيات الكريمات، أنه جاء رجل من المؤمنين أعمى يسأل النبي صلى الله عليه ويتعلم منه.

وجاءه رجل من الأغنياء، وكان صلى الله عليه وسلم حريصا على هداية الخلق، فمال صلى الله عليه وسلم [وأصغى] إلى الغني، وصد عن الأعمى الفقير، رجاء لهداية ذلك الغني، وطمعا في تزكيته، فعاتبه الله بهذا العتاب اللطيف،

“Sebab turunnya ayat-ayat yang mulia ini adalah ketika seorang laki-laki mukmin yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau. Lalu datang pula seorang laki-laki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, maka beliau condong dan memberi perhatian kepada orang kaya itu, dan berpaling dari lelaki buta yang fakir, dengan harapan orang kaya tersebut mendapat hidayah dan menjadi bersih jiwanya. Maka Allah pun menegur beliau dengan teguran yang lembut.” (Tafsir as Sa’di)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan bahwa banyak ahli tafsir yang berpendapat bahwa lelaki buta itu adalah Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu Anhu.

Siapa Abdullah bin Ummi Maktum?

Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahkan beliau di antara orang Quraisy yang awal masuk Islam. 

Beliau, bersama Bilal bin Rabah dikenal juga sebagai muadzin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda 

إنَّ بلَالًا يُؤَذِّنُ بلَيْلٍ، فَكُلُوا واشْرَبُوا حتَّى يُنَادِيَ ابنُ أُمِّ مَكْتُومٍ، ثُمَّ قالَ: وكانَ رَجُلًا أعْمَى، لا يُنَادِي حتَّى يُقالَ له: أصْبَحْتَ أصْبَحْتَ.

“Sesungguhnya Bilal beradzan di waktu malam, maka makan & minumlah kalian dengan adzan Bilal sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum”.

Abdullah bin Umar berkata, “Ibnu Ummi Maktum adalah seorang buta, dia tidak akan adzan sampai dikatakan padanya “Sudah Subuh, Sudah Subuh”” (HR Bukhari Muslim)

Disebutkan pula dalam kitab-kitab yang membahas Sirah Nabawiyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terkadang mewakilkan kepemimpinan Madinah kepada Ibnu Ummi Maktum jika beliau keluar memimpin peperangan.

Ini semua menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sama sekali tidak sakit hati, bahkan memuliakan Ibnu Ummi Maktum radhiallahu anhu walaupun dia adalah penyebab Rasulullah mendapatkan teguran dari Allah azza wa jalla.

Di surat ini terdapat beberapa pelajaran bagaimana seharusnya sikap seorang penuntut ilmu. Kita coba membahasnya satu persatu.

Kendala Tidak Memupuskan Tekad

 أَن جَاۤءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ

“Ketika datang padanya seorang yang buta” (QS Abasa: 2)

Allah ceritakan kondisi sahabat Ibnu Ummi Maktum sebagai seorang yang buta, tak bisa melihat. Namun hal itu tidak menjadi alasan bagi beliau untuk mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam rangka belajar. Begitulah, dengan semangat yang kuat, beliau pun diabadikan dalam Al Qur’an.

Di zaman ini, mungkin seorang penuntut ilmu terkendala dengan cuaca, kurangnya harta, jauh dari keluarga, sulit untuk memahami dan lain-lain. Maka tetaplah bersabar, karena setiap perkara yang menyusahkan seorang mukmin, ada kebaikan di dalamnya. Apalagi jika kesusahan itu ia rasakan dalam rangka menuntut ilmu agama. 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ما مِن مُصِيبَةٍ تُصِيبُ المُسْلِمَ إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بها عنْه، حتَّى الشَّوْكَةِ يُشاكُها.

“Tidak ada satupun musibah yang menimpa seorang muslim kecuali Allah jadikan penebus dosa. Bahkan walaupun duri yang menusuknya” (HR Bukhari & Muslim)

Ingin Membersihkan Diri

وَمَا یُدۡرِیكَ لَعَلَّهُۥ یَزَّكَّىٰۤ

“Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya” (QS: Abasa: 3)

Niat yang lurus untuk membersihkan diri adalah modal besar untuk menuntut ilmu. Ingin membersihkan diri dari noda kesyirikan dan kekufuran, ingin membersihkan diri dari noda penyimpangan & kemaksiatan.

Sikap ini muncul dari kesadaran bahwa seseorang sedang dalam kondisi yang kurang baik karenanya ia akan berusaha memperbaiki diri. Adapun orang yang merasa dalam keadaan bersih, maka akan sulit untuk mau memperbaiki diri. Karenanya Allah melarang menjadi orang yang merasa bersih.

 فَلَا تُزَكُّوۤا۟ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰۤ }

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu bersih. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” [QS An-Najm: 32]

Ingin Diingatkan

“atau dia (ingin) mendapatkan peringatan, yang memberi manfaat kepadanya?” (QS Abasa: 4)

Poin lainnya yang menjadi sikap penting bagi penuntut ilmu: ia ingin diingatkan dengan peringatan yang membawa manfaat untuknya. Dalam ayat lain Allah berfirman:

{ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ }

“Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” [QS: Adh-Dhāriyāt: 55]

Sikap ingin diingatkan ini lahir dari sikap tawadhu’. Orang yang sombong, akan menolak untuk diingatkan dengan kebenaran. Ketika ditanya tentang apa itu sombong, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمْطُ النَّاسِ.

“Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR Muslim)

Orang yang tawadhu’ (termasuk penuntut ilmu yang tawadhu’), itulah yang akan mendapatkan kemuliaan.

وما تَواضَعَ أحَدٌ للَّهِ إلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali pasti Allah akan memuliakannya” (HR Muslim)

Mendatangi Ilmu

وَأَمَّا مَن جَاۤءَكَ یَسۡعَىٰ

“Adapun yang datang padamu dengan segera” (QS: ‘Abasa: 8)

Ibnu Ummi Maktum mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mendapatkan ilmu. Begitulah semestinya adab menuntut ilmu, ia mendatangi sumber ilmu, para ulama. 

Dalam Al Qur’an, kita juga mendapati bagaimana Nabi Musa alaihissalam mengembara untuk mencari ilmu, atas perintah Allah. Allah berfirman menceritakan perkataan Musa pada pembantunya:

{ وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَاۤ أَبۡرَحُ حَتَّىٰۤ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَیۡنِ أَوۡ أَمۡضِیَ حُقُبࣰا }

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.” [QS Al-Kahf: 60]

Imam Malik rahimahullah pernah diminta oleh Khalifah untuk datang ke istana membacakan kitab hadits Al Muwaththa yang beliau susun. Namun beliau berkata:

إنَّ العِلْم يُؤْتى ولا يَأْتي

“Ilmu itu didatangi dan bukan mendatangi”.

Semangat Dalam Belajar

{ وَأَمَّا مَن جَاۤءَكَ یَسۡعَىٰ }

“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran)”.(QS: ‘Abasa: 8)

Allah ta’ala menyebutkan bagaimana kondisi Ibnu Ummi Maktum ketika hendak mendapatkan ilmu: bersegera datang. Sikap ini lahir dari semangat untuk mempelajari kebenaran.

Semangat belajar adalah salah satu modal penting dalam menuntut ilmu. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

أَخي لَن تَنالَ العِلمَ إِلّا بِسِتَّةٍ

سَأُنبيكَ عَن تَفصيلِها بِبَيانِ

ذَكاءٌ وَحِرصٌ وَاِجتِهادٌ وَبُلغَةٌ

وَصُحبَةُ أُستاذٍ وَطولُ زَمانِ

“Saudaraku, engkau tak kan meraih ilmu kecuali dengan 6 perkara.

Aku kan sampaikan padamu dengan jelas perinciannya.

Kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh & modal harta.       

Kemudian bersama dengan guru & waktu yang lama.”

Dari mana semangat belajar agama ini bersumber? Dari keyakinannya yang besar dengan Allah & hari akhir. Dia betul-betul beriman bahwa kehidupan terbaik adalah kehidupan yang diisi dengan a

amal saleh, dan untuk mengetahui bagaimana amal saleh itu dia pun mesti mempelajarinya. Allah ta’ala berfirman.

{ مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحࣰا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَلَنُحۡیِیَنَّهُۥ حَیَوٰةࣰ طَیِّبَةࣰۖ وَلَنَجۡزِیَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ }

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [QS: An-Naḥl: 97]

Takut Pada Allah

{ وَهُوَ یَخۡشَىٰ }

“sedang dia takut (kepada Allah),” (QS: Abasa: 9)

Sifat berikutnya yang Allah sebutkan tentang Abdullah bin Ummi Maktum radhiallahu Anhu adalah rasa takutnya kepada Allah. Begitulah semestinya seorang penuntut ilmu, dia belajar karena rasa takutnya pada Allah, tak ingin terkena sedikitpun bagian dari azabNya.

Ketika dia mendapatkan ilmu, maka ilmunya itu pun akan membuat dia semakin takut kepada Allah. Allah berfirman:

 إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ 

“Sesungguhnya orang yang takut pada Allah hanyalah ulama (orang-orang berilmu)”. (QS: Fāṭir: 28)

Pesan Untuk Para Guru & Pengajar Ilmu

Selain pelajaran penting untuk para penuntut ilmu. Peristiwa ini juga menjadi pesan untuk para guru, pengajar, ustadz, kyai dan siapapun agar tidak meremehkan orang-orang yang belajar, apalagi yang terlihat bersemangat dalam belajar. Bimbinglah ia walaupun ia memiliki kekurangan, beri semangat agar ia terus belajar dan menjadikan ilmunya bermanfaat. Boleh jadi dengan segala kekurangan murid kita sekarang, di masa depan dia menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, penerus ilmu-ilmu yang kita berikan dan akhirnya pahala kebaikan pun mengalir deras walaupun kita telah wafat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له.

“Jika seorang muslim wafat, terputuslah amalnya kecuali dari 3 jalan: dari sedekah jariyah, atau ilmunya yang dimanfaatkan manusia, atau anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim)

As Sa’di berkata dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini.

فدل هذا على القاعدة المشهورة، أنه: ” لا يترك أمر معلوم لأمر موهوم، ولا مصلحة متحققة لمصلحة متوهمة ” وأنه ينبغي الإقبال على طالب العلم، المفتقر إليه، الحريص عليه أزيد من غيره.

“Ayat-ayat ini menunjukkan sebuah kaidah penting: jangan tinggalkan sesuatu yang sudah jelas karena perkara yang belum jelas, jangan tinggalkan maslahat yang nampak untuk mendapatkan maslahat yang samar-samar. Semestinya (bagi seorang guru -pent) untuk menyambut penuntut ilmu yang benar-benar mencarinya serta bersemangat untuk menyambutnya dengan sambutan yang lebih baik dari selainnya”. (Tafsir as-Sa’di)

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menuntut ilmu, mengamalkannya & mengajarkannya. 

Baarakallahufikum

Ditulis oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.

 

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link