حكم إبقاء الزوجة إذا زنت وتابت
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال:
Pertanyaan:
أحد الإخوة يسأل أن امرأة حملت من سفاح، وجاءت بمولود منذ أربع سنوات، واعترفت لزوجها، وعرف الحقيقة وهو الآن لا يدري هل يطلقها، أم يمسكها؟ وليس لها أحد إلا هو، واعترفت وهي تصلي، وتصوم، واعترفت بغلطتها، فما رأي سماحتكم؟
Salah satu saudara bertanya: Seorang perempuan (yang bersuami) hamil karena perzinaan dan melahirkan empat tahun yang lalu. Ia mengaku kepada suaminya dan suaminya tahu yang sebenarnya. Sekarang suaminya tidak tahu apakah harus menceraikannya atau mempertahankannya. Perempuan itu tidak punya siapa-siapa lagi selain suaminya. Ia masih melakukan kewajiban salat dan puasa, serta mengakui kesalahannya. Bagaimana pendapat Anda, Yang Mulia?
الجواب:
Jawaban:
عليها أن تحسن إلى هذا الطفل، وتربيه لعل الله يهديه، وينفع به بعد ذلك، والإثم على من فعل الزنا لا عليه، وأما الإثم؛ على من فعل الزنا من الزاني والمرأة، عليهما هما أصحاب الإثم -نسأل الله السلامة- والطفل لا حرج عليها بتربيته، والإحسان إليه، والقيام بحقه، حتى ينشئه الله في الإسلام.
Perempuan itu harus memperlakukan anak ini dengan baik dan membesarkannya agar Allah memberinya petunjuk dan memberi manfaat bagi orang lain melalui dirinya setelah itu. Dosa ada pada orang yang berzina, bukan pada diri anaknya. Dosa ditanggung orang yang berzina, yaitu: laki-laki dan perempuan yang berzina itu. Merekalah yang menanggung dosanya—kita memohon keselamatan kepada Allah—. Tidak masalah baginya untuk mendidik anak itu, berbuat baik kepadanya, dan memenuhi hak-haknya, hingga Allah membesarkannya dalam Islam.
والمرأة إذا تابت، ورجعت إلى الله -جل وعلا- فزوجها يمسكها، كونها زنت لا يحرّمها عليه زناها، ولكن عليها أن تتوب إلى الله توبة صادقة، وعليها أن ترجع عن هذا الباطل، وأن تتحفظ بعد ذلك، وعلى زوجها أن يلاحظها، وأن يعتني بها، وأن يحرص على أسباب حفظها، وسلامتها، ونجاتها من هذا الشيء، ولا حرج عليه في بقائها، فليس زناها يحرمها عليه إذا تابت واستقامت.
Jika perempuan itu telah bertobat dan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala, suaminya boleh mempertahankannya, karena perzinaannya tidak membuatnya haram baginya. Namun, perempuan itu harus bertobat kepada Allah dengan tobat yang jujur. Ia harus rujuk dari kebatilan ini dan menjaga kehormatan diri setelahnya. Suaminya harus memperhatikannya, mengurusnya, dan mengupayakan sebab-sebab untuk penjagaannya dan keselamatannya dari hal ini. Tidak masalah baginya jika ia tetap bersamanya, karena perzinaannya tidak membuatnya haram baginya jika perempuan itu telah bertobat dan beristikamah.
أما إذا كان يتهمها، ويظن أنها تخونه؛ فلا خير في بقائها عنده، لكن ما دام أظهرت التوبة، وظن بها الظن الحسن، وظهر منها ما يدل على رجوعها في الصواب، والحق، والهدى؛ فلا بأس أن يستر عليها، ولا يبين هذا الشيء، بل يكون بينه وبينها فقط، وأن يحسن إليها بالنصيحة، والتوجيه، والإرشاد، والتحذير إلى العودة إلى ما حرم الله عليها، والله يتوب على التائبين .
Namun, jika si suami masih mencurigai si istri dan mengiranya berselingkuh, maka tidak ada baiknya ia tetap bersamanya. Akan tetapi, apabila si istri telah tampak bertobat dan si suami berprasangka baik terhadapnya, serta telah muncul indikasi yang menunjukkan bahwa si istri sudah rujuk kepada kebenaran dan hidayah, maka tidak ada salahnya baginya untuk menutupi aib si istri dan tidak membongkar hal ini, sehingga permasalahan ini hanya antara dirinya dan istrinya. Ia harus memperlakukan istrinya dengan baik dengan nasihat, bimbingan, arahan, dan peringatan agar tidak kembali kepada perbuatan yang diharamkan oleh Allah. Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.
Sumber: حكم-ابقاء-الزوجة-اذا-زنت-وتابت
