١٥٧٩ – [عبد الله بن سلام الإسرائيلي]:
1579. ‘Abdullah bin Salam Al-Isra`ili
عبد الله بن سلام بن الحارث الإسرائيلي، ثم الأنصاري، يكنى أبا يوسف، وهو من
ولد يوسف بن يعقوب صلى الله عليهما، كان حليفا للأنصار. يقال كان حليفا
للقواقلة من بنى عوف بن الخزرج، وكان اسمه في الجاهلية الحصين، فلما أسلم سماه
رسول الله ﷺ عبد الله، وتوفى بالمدينة في خلافة معاوية سنة ثلاث وأربعين، وهو
أحد الأحبار، أسلم إذ قدم النبي ﷺ المدينة.
‘Abdullah bin Salam bin Al-Harits Al-Isra`ili kemudian Al-Anshari. Ia dikenal
dengan kunyah Abu Yusuf dan merupakan keturunan Yusuf bin Ya’qub—shallallahu
‘alaihima—. Ia merupakan sekutu kaum Ansar. Ada yang mengatakan bahwa ia
merupakan sekutu Qawaqilah dari bani ‘Auf bin Al-Khazraj. Namanya di masa
jahiliah adalah Al-Hushain, tetapi ketika ia masuk Islam,
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberinya nama ‘Abdullah. Ia wafat
di Madinah pada masa kekhalifahan Mu’awiyah tahun 43 H. Ia adalah salah
seorang rabi. Ia masuk Islam ketika Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di
Madinah.
قال عبد الله بن سلام: خرجت في جماعة من أهل المدينة لننظر إلى رسول الله ﷺ في
حين دخوله المدينة، فنظرت إليه وتأملت وجهه، فعلمت أنه ليس بوجه كذاب، وكان أول
شيء سمعته منه: (أيها الناس، أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصلوا الأرحام،
وصلوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام). وشهد رسول الله ﷺ لعبد الله بن
سلام بالجنة. وروى أبو إدريس الخولاني؛ عن زيد بن عميرة أنه سمع معاذ بن جبل
يقول: سمعت رسول الله ﷺ يقول لعبد الله بن سلام: (إنه عاشر عشرة في
الجنة).
‘Abdullah bin Salam berkata: Aku pergi bersama sekelompok penduduk Madinah
untuk melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau telah
masuk Madinah. Aku memandang dan mengamati wajahnya, dan aku tahu bahwa itu
bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang kudengar beliau katakan
adalah, “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, jalinlah tali
silaturahmi, dan salatlah di malam hari ketika orang-orang sedang tidur,
niscaya kalian akan masuk janah dengan selamat.”
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersaksi bahwa ‘Abdullah bin Salam
akan masuk janah. Abu Idris Al-Khaulani meriwayatkan dari Zaid bin ‘Umairah,
bahwa ia mendengar Mu’adz bin Jabal berkata: Aku mendengar
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepada ‘Abdullah bin Salam
bahwa dia adalah orang kesepuluh dari sepuluh orang yang ada di janah.
وقد ذكرنا هذا الخبر بإسناده في باب أبى الدرداء، وهو حديث حسن الإسناد صحيح.
وروى ابن وهب، وأبو مسهر، وجماعة عن مالك بن أنس، عن أبى النضر، عن عامر بن سعد
بن أبى وقاص، عن أبيه قال: ما سمعت رسول الله ﷺ يقول لأحد يمشي على وجه الأرض
أنه من أهل الجنة إلا لعبد الله بن سلام. وهذا أيضا حديث ثابت صحيح لا مقال فيه
لأحد. وقال بعض المفسرين – في قول الله عز وجل: ﴿وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنۢ بَنِىٓ
إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ مِثۡلِهِۦ فَـَٔامَنَ وَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡ﴾ [الأحقاف: ١٠]،
هو عبد الله بن سلام. وقد قيل في قول الله عز وجل: ﴿وَمَنۡ عِندَهُۥ عِلۡمُ
ٱلۡكِتَٰبِ﴾ [الرعد: ٤٣] إنه عبد الله بن سلام. وأنكر ذلك عكرمة والحسن، وقالا:
كيف يكون ذلك والسورة مكية وإسلام عبد الله بن سلام كان بعد؟
Kami telah menyebutkan riwayat ini beserta mata rantainya dalam bab tentang
Abu Ad-Darda` dan ini merupakan hadis yang baik sanadnya dan sahih. Ibnu Wahb,
Abu Mushir, dan sekelompok lainnya meriwayatkan dari Malik bin Anas, dari Abu
An-Nadhr, dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash, dari ayahnya. Beliau berkata,
“Aku tidak pernah mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata
kepada siapa pun yang berjalan di muka bumi bahwa ia termasuk penghuni janah
kecuali ‘Abdullah bin Salam.”
Ini juga merupakan hadis yang sudah pasti lagi sahih dan tidak seorang pun
yang membicarakannya.
Sebagian mufasir berpendapat, terkait firman Allah, “Dan seorang saksi dari
bani Israil telah bersaksi tentang (kebenaran) yang serupa dengan (yang
tersebut dalam) Al-Qur’an lalu ia beriman, sedangkan kalian menyombongkan
diri” (QS Al-Ahqaf: 10), bahwa orang tersebut adalah ‘Abdullah bin Salam.
Telah disebutkan pula terkait firman Allah, “Dan orang yang memiliki ilmu
tentang Al-Kitab” (QS Ar-Ra’d: 43), bahwa orang tersebut adalah ‘Abdullah bin
Salam. Namun, ‘Ikrimah dan Al-Hasan menolak hal ini dengan mengatakan:
Bagaimana mungkin hal ini terjadi, padahal surah tersebut makiyah sementara
‘Abdullah bin Salam memeluk Islam setelah itu?
قال أبو عمر رحمه الله: وكذلك سورة الۡأحقاف مكية، فالقولان جميعا لا وجه لهما
عند الاعتبار، إلا أن يكون في معنى قوله: ﴿فَسۡـَٔلِ ٱلَّذِينَ يَقۡرَءُونَ
ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكَ﴾ [يونس ٩٤]. وقد تكون السورة مكية، وفيها آيات مدنية؛
كالأنعام وغيرها. وقال أيوب، عن محمد بن سيرين، قال: نبئت أن عبد الله بن سلام
قال: سيكون بينكم وبين قريش قتال، فإن أدركنى القتال وليس في قوة فاحملوني على
سرير حتى تضعوني بين الصفين.
Abu ‘Umar berkata: Demikian pula, surah Al-Ahqaf adalah makiyah. Oleh karena
itu, kedua penafsiran tersebut tidak dapat dipertahankan jika dikaji, kecuali
jika dikaitkan dengan makna firman Allah, “Maka tanyakanlah kepada orang-orang
yang membaca kitab sebelum kamu.” (QS Yunus: 94). Suatu surah bisa saja
makiyah tetapi mengandung ayat-ayat madaniah, sebagaimana halnya dengan surah
Al-An’am dan lainnya.
Ayyub berkata, dari Muhammad bin Sirin. Beliau berkata: Aku diberitahu bahwa
‘Abdullah bin Salam berkata: Akan terjadi pertempuran antara kalian dan kaum
Quraisy. Jika aku mendapati pertempuran itu namun aku tidak kuat, pikullah aku
di atas tandu sampai kalian letakkan aku di antara dua barisan pasukan.
