Allah Menerima Taubat Namun Keras Azab-Nya!

Allah Menerima Taubat Namun Keras Azab-Nya!

20 hours yang lalu
Allah Menerima Taubat Namun Keras Azab-Nya!

Tadabbur QS: Al Mukmin: 3

Allah ta’ala berfirman tentang diriNya:

{ غَافِرِ ٱلذَّنۢبِ وَقَابِلِ ٱلتَّوۡبِ شَدِیدِ ٱلۡعِقَابِ ذِی ٱلطَّوۡلِۖ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَۖ إِلَیۡهِ ٱلۡمَصِیرُ }

“Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, keras hukuman-Nya; yang memiliki karunia. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali.” [QS Ghāfir: 3]

Ayat ini mengingatkan hamba-hamba Allah, para pembaca Al Qur’an tentang dosa-dosanya. Mendorong mereka segera bertaubat dan jangan terus menerus dalam dosa. Mereka adalah hamba Allah Yang Maha Pengampun sekaligus dahsyat siksaNya.

Selain dinamakan Surat al Mu’min, surat ini juga dikenal dengan surat Ghafir karena adanya lafal “Ghafir” pada ayat ini.

Mengampuni Dosa

 غَافِرِ ٱلذَّنۢبِ

“Yang mengampuni dosa” (Al Mukmin: 3)

Allah mensifati dirinya dengan Zat yang mengampuni dosa sebelum menerima taubat. Padahal semestinya taubat itu lebih dahulu dari diampuninya dosa. Seakan-akan Allah ingin memotivasi hamba-hamba-Nya: wahai hamba-hambaKu, Aku mengampuni dosa maka bertaubatlah kalian padaKu.

Ketika seseorang mendapatkan ampunan Allah, maka ada 2 hal yang dia dapatkan:

Dosanya ditutupi 

Hukumannya dicabut

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

 «المغفرة شيء زائد عن الستر؛ لأن المغفرة معناها: وقاية شر الذنب؛ بحيث لا يعاقب عليه العبد، وأما مجرد ستر الذنوب فهذا لا يستلزم إسقاط العقوبة، فالله سبحانه قد يستر على من يعاقب ومن لا يعاقب»6.

“Maghfirah/ampunan adalah sesuatu yang lebih dari sekadar menutupi dosa. Karena makna maghfirah adalah melindungi dari dampak buruk dosa, sehingga seorang hamba tidak diazab karena dosa tersebut. Adapun sekadar menutupi dosa, maka itu tidak mesti berarti gugurnya hukuman. Allah ta’ala bisa saja menutupi dosa namun ia tetap di azab, dan juga menutupi dosa orang yang tidak Dia azab.” (Majmu Fatawa 10/180)

Selain diampuninya dosa, istighfar juga bisa mendatangkan kebaikan yang sangat besar bagi seorang mukmin. Allah ta’ala berfirman:

{ فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُوا۟ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارࣰا }

{ یُرۡسِلِ ٱلسَّمَاۤءَ عَلَیۡكُم مِّدۡرَارࣰا (11) وَیُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَ ٰ⁠لࣲ وَبَنِینَ وَیَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّـٰتࣲ وَیَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَـٰرࣰا (12) }

“Nuh berkata pada kaumnya, “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Dia kan menurunkan hujan untuk kalian, Dia pun kan memperbanyak harta & keturunan kalian, Dia pun kan menjadikan kebun-kebun & sungai mengalir untuk kalian”. [QS Nūḥ: 10-12]

Betapa dahsyatnya buah istighfar dalam kehidupan seseorang, baik di dunia maupun akhirat.

Menerima Taubat

وَقَابِلِ ٱلتَّوۡبِ

“Menerima taubat” (Al Mukmin: 3)

Allah ta’ala menerima taubat hamba-Nya, bahkan Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya. Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bagaimana gembiranya Allah dengan taubat hambaNya dalam satu hadits:

إنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأنَّهُ قاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخافُ أنْ يَقَعَ عليه، وإنَّ الفاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبابٍ مَرَّ علَى أنْفِهِ فقالَ به هَكَذا، قالَ أبو شِهابٍ: بيَدِهِ فَوْقَ أنْفِهِ. ثُمَّ قالَ: لَلَّهُ أفْرَحُ بتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِن رَجُلٍ نَزَلَ مَنْزِلًا وبِهِ مَهْلَكَةٌ، ومعهُ راحِلَتُهُ، عليها طَعامُهُ وشَرابُهُ، فَوَضَعَ رَأْسَهُ فَنامَ نَوْمَةً، فاسْتَيْقَظَ وقدْ ذَهَبَتْ راحِلَتُهُ، حتَّى إذا اشْتَدَّ عليه الحَرُّ والعَطَشُ أوْ ما شاءَ اللَّهُ، قالَ: أرْجِعُ إلى مَكانِي، فَرَجَعَ فَنامَ نَوْمَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، فإذا راحِلَتُهُ عِنْدَهُ.

“Sesungguhnya orang beriman melihat dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah sebuah gunung, ia takut gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, lalu ia mengusirnya begitu saja.”

Abu Syihab berkata: dengan tangannya di atas hidungnya.

Kemudian beliau bersabda lagi:

“Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan seorang lelaki yang singgah di suatu tempat yang membinasakan, sementara bersamanya ada untanya yang membawa makanan dan minumannya. Ia meletakkan kepalanya lalu tertidur sejenak. Ketika terbangun, ternyata untanya hilang. Hingga ketika panas dan haus terasa sangat berat baginya, atau sesuai kehendak Allah, ia berkata: Aku akan kembali ke tempatku semula. Maka ia kembali lalu tertidur lagi. Kemudian ia mengangkat kepalanya, tiba-tiba untanya sudah ada di sisinya.” (HR Bukhari)

Syarat Taubat

Taubat bukan sekedar menyesal kemudian terlupa lagi dari dosa-dosa. Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang benar itu ada ketentuannya. Untuk lebih memahaminya, mari kita simak penjelasan Imam an Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin, beliau berkata:

: “قال العلماء: التوبة واجبة من كل ذنب، فإن كانت المعصية بين العبد وبين الله تعالى لا تتعلق بحق آدمي، فلها ثلاثة شروط:

أحدها: أن يقلع عن المعصية.

والثاني: أن يندمَ على فعلها.

والثالث: أن يعزم ألا يعود إليها أبدًا، فإن فقد أحد الثلاثة لم تصحَّ توبته.

وإن كانت المعصية تتعلق بآدمي فشروطها أربعة: هذه الثلاثة، وأن يبرأ من حق صاحبها، فإن كانت مالاً أو نحوَه رده إليه، وإن كانت حدَّ قذف ونحوه مكَّنه منه، أو طلب عفوه، وإن كانت غِيبةً استحله منها، ويجب أن يتوب من جميع الذنوب، فإن تاب من بعضها صحت توبته – عند أهل الحقِّ – من ذلك الذنب، وبقي عليه الباقي.

“Para ulama berkata: Taubat itu wajib dari setiap dosa. Jika maksiat tersebut terjadi antara seorang hamba dengan Allah Ta‘ala dan tidak berkaitan dengan hak sesama manusia, maka taubatnya memiliki 3 syarat:

– Meninggalkan perbuatan maksiat tersebut.

– Menyesali perbuatannya.

– Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi selama-lamanya.

Jika salah satu dari 3 syarat ini tidak terpenuhi, maka taubatnya tidak sah.

Adapun jika maksiat tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka syaratnya ada 4:

3 syarat di atas, ditambah harus melepaskan diri dari hak orang yang dizalimi. 

Jika berupa harta atau semisalnya, maka harus dikembalikan kepada pemiliknya. Jika berupa hukuman had seperti qadzaf (menuduh zina), maka ia harus menyerahkan diri untuk ditegakkan hukuman tersebut atau meminta maaf darinya. Jika berupa ghibah, maka ia harus meminta kehalalan (kerelaan) darinya.

Seseorang wajib bertaubat dari seluruh dosa. Jika seseorang bertaubat dari sebagian dosa saja, maka menurut para ulama, taubatnya sah dari dosa yang ditaubati tersebut, namun dosa-dosa yang lain masih tetap menjadi tanggungannya.”

 

Sangat Dahsyat Azabnya

شَدِیدِ ٱلۡعِقَابِ

“Sangat dahsyat Azabnya” (QS. Ghafir: 3)

Selain menyebutkan kasih sayang Allah Yang mengampuni dosa & menerima taubat, Allah pun menyebutkan murkaNya, bahwa azabNya itu sangat dahsyat. Dalam ayat lain, Allah berfirman:

{ فَیَوۡمَىِٕذࣲ لَّا یُعَذِّبُ عَذَابَهُۥۤ أَحَدࣱ }

“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya” [QS Al-Fajr: 25]

Ancaman ini Allah sebutkan untuk menumbuhkan sikap khauf (takut) kepada pembaca Al Qur’an setelah tumbuh sikap raja’ (harap). Kedua sikap ini mesti ada dalam diri seseorang dengan seimbang. Dengan sikap harap, seseorang tidak putus asa dari rahmat Allah. Dengan sikap takut, seseorang tidak terlena/tertipu dengan rahmat Allah.

Begitulah seorang mukmin yang baik bersikap kepada Allah. Setelah menyebutkan tentang kisah para Nabi & Rasul, Allah berfirman tentang sikap mereka.

 إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ یُسَـٰرِعُونَ فِی ٱلۡخَیۡرَ ٰ⁠تِ وَیَدۡعُونَنَا رَغَبࣰا وَرَهَبࣰاۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِینَ }

“Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh HARAP DAN CEMAS. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” [QS Al-Anbiyāʾ: 90]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan QS Ghafir: 3 ini:

[وَقَدِ اجْتَمَعَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ الرَّجَاءُ وَالْخَوْفُ]  . وَهَذِهِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ﴾ [الْحِجْرِ: ٤٩،٥٠] يَقْرِنُ هَذَيْنِ الْوَصْفَيْنِ كَثِيرًا فِي مَوَاضِعَ مُتَعَدِّدَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ؛ لِيَبْقَى الْعَبْدُ بَيْنَ الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ.

“Dan dalam ayat ini telah terkumpul antara harapan dan rasa takut. Hal ini seperti firman Allah Ta‘ala:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hambaKu bahwa sesungguhnya Aku adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS Al-Ḥijr: 49–50).

Allah sering menggandengkan 2 sifat ini dalam banyak tempat di dalam Al-Qur’an, agar seorang hamba senantiasa berada di antara harapan dan rasa takut.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Pemilik Rahmat

ذِی ٱلطَّوۡلِۖ

“Pemilik Rahmat” (QS. Ghafir: 3)

As Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini:

  أي: التفضل والإحسان الشامل.

“Yaitu yang memiliki karunia & kebaikan yang sempurna” (Tafsir as Sa’di)

Allah ta’ala tidak seperti manusia. Jika kita berbuat salah pada seseorang, kemudian kita meminta maaf padanya, mungkin ia akan memaafkan namun pasti ada perasaan berbeda setelahnya. Sehingga muncul ungkapan, “bisa memaafkan namun tak bisa melupakan”.

Allah ta’ala menyebutkan bahwa Dialah pemilik Rahmat/kasih sayang. Dia lah yang akan kembali menyayangi orang-orang yang berdosa jika mereka bertaubat & beristighfar. Dalam ayat lain, Allah menjelaskan:

{ وَٱلَّذِینَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ یُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمۡ یَعۡلَمُونَ (135) أُو۟لَـٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُم مَّغۡفِرَةࣱ مِّن رَّبِّهِمۡ وَجَنَّـٰتࣱ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۚ وَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَـٰمِلِینَ (136) }

“dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.” [QS Āli-ʿImrān: 135-136]

Tak Ada yang Berhak Disembah Kecuali Dia

 لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَۖ

“Tak ada yang berhak disembah kecuali Dia” (QS. Ghafir: 3)

Allah menyebutkan UluhiyahNya di ayat ini, menjelaskan bahwa istighfar dan taubat (yang keduanya merupakan ibadah) hanyalah untuk Allah ta’ala semata seperti ibadah-ibadah lainnya. Sebagaimana ayat ini juga mengisyaratkan bahwa diampuninya dosa & diterimanya taubat adalah balasan bagi orang-orang yang bertauhid, bukan untuk selain mereka.

Inilah dakwah tauhid yang merupakan seruan dakwah seluruh para Nabi & Rasul kepada umat manusia.

{ وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَیۡهِ ٱلضَّلَـٰلَةُۚ فَسِیرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِینَ }

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [QS An-Naḥl: 36]

KepadaNya Kita Kembali

 إِلَیۡهِ ٱلۡمَصِیرُ

“KepadaNya kita kembali” (QS. Al Mukmin: 3)

Allah menutup ayat ini dengan seruan untuk beriman kepada akhirat dengan mengingatkan kondisi seluruh manusia: “semua akan kembali kepada Allah”. Tentunya bukan hanya kembali, namun diiringi pertanggungjawaban atas amal yang sudah dilakukan.

Allah berfirman 

{ إِنَّ إِلَیۡنَاۤ إِیَابَهُمۡ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَیۡنَا حِسَابَهُم (26) }

“Sungguh, kepada Kami lah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami lah membuat perhitungan atas mereka.” [QS Al-Ghāshiyah: 25-26]

Jangan sampai baru menyesal dengan segala keburukan setelah kita menghadap Allah. Beristighfarlah & bertaubatlah di dunia ini ketika taubat kita masih bermanfaat, ketika jiwa kita masih ada di tubuh kita. Sehingga ketika kita kembali pada Allah, dalam keadaan bersih dari dosa. 

{ یَـٰۤأَیَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَىِٕنَّةُ (27) ٱرۡجِعِیۤ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِیَةࣰ مَّرۡضِیَّةࣰ (28) }

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” [QS Al-Fajr: 27-28]

Kisah Umar bin Khattab

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan kisah bagaimana Umar bin Khattab menyadarkan seseorang yang bermaksiat dengan ayat ini.

Dari Yazid bin al-Ashamm, ia berkata:

Ada seorang lelaki penduduk Syam yang dikenal kuat dan berani. Ia biasa datang menemui Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari Umar kehilangan kabar tentang nya, lalu bertanya, “Apa yang terjadi dengan Fulan bin Fulan?”

Orang-orang menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, ia tenggelam dalam minuman (khamr).”

Maka Umar memanggil sekretarisnya dan berkata:

“Tulislah: ‘Dari Umar bin Khaththab kepada Fulan bin Fulan. Salamun alaik. Amma ba‘du:

Sesungguhnya aku memuji Allah di hadapanmu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, “Yang Maha Pengampun dosa dan Maha Penerima tobat, Yang keras siksa-Nya, Yang mempunyai karunia. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, kepada-Nya-lah tempat kembali.’”

Kemudian Umar berkata kepada para sahabatnya, “Doakanlah saudara kalian agar Allah menunjukkan hatinya pada kebenaran dan agar Allah menerima taubatnya.”

Ketika surat Umar sampai kepada lelaki itu, ia pun membacanya berulang-ulang sambil berkata:

“(Allah) Maha Pengampun dosa dan Maha Penerima taubat, keras siksa-Nya! Ia telah memperingatkanku dari hukumanNya dan menjanjikan ku ampunan.”

Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Hafizh Abu Nu‘aim dari hadits Ja‘far bin Burqan dengan tambahan:

“Lelaki itu terus-menerus mengulang-ulang kalimat tersebut dalam dirinya, kemudian ia menangis, lalu ia pun wafat dalam keadaan yang terbaik.”

Ketika kabarnya sampai kepada Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Beginilah seharusnya kalian berbuat. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah ia, bimbinglah ia, dan doakanlah kepada Allah agar Dia menerima taubatnya. Janganlah kalian menjadi penolong setan atasnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Semoga Allah tunjukkan kita pada taubat, terima taubat kita dan mengampuni dosa-dosa kita. 

Semoga Bermanfaat, wa Baarokallohufikum

Ditulis Oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link