Apa Makna Jamaah Haji dan Umrah adalah Tamu Allah?
![]()
Bismillah, walhamdulillah, was-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.
Istilah “Tamu Allah” atau dalam bahasa Arab disebut Dhuyufurrahman (ضُيُوفُ الرَّحْمَنِ) merupakan kehormatan yang Allah berikan kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Istilah ini memiliki akar yang kuat dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengandung konsekuensi yang luar biasa bagi mereka yang melaksanakan ibadah haji dan umrah.
Berikut penjelasan mengenai makna mendalam dari gelar tersebut:
1. Mereka Adalah Tamu Allah (Wafdullah)
Secara bahasa, tamu yang mengunjungi raja atau penguasa disebut sebagai Al-Wafd (utusan/rombongan). Jamaah haji dan umrah disebut sebagai Wafdullah karena mereka datang mengunjungi Baitullah dengan maksud ibadah.
Dalam sebuah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
– الحجَّاجُ والعمَّارُ وفدُ اللهِ، إن دعوه أجابهم، وإن استغفَروه غفَر لهم
“Orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu Allah (utusan Allah). Jika mereka memohon kepada-Nya, Allah beri, jika mereka meminta ampunannya Allah ampuni.” (HR. An-Nasa’i danIbnu Majah).
Dalam hadis yang lain, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وفد الله ثلاثة : الغازي، والحاج، والمعتمر
“Tamu Allah itu ada 3, yaitu orang yang berperang di jalan Allah, para jamaah haji dan umrah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah).
Di dalam kitab Mirqoh Al-Mafatih dijelaskan makna hadits shahih ini:
وفد الله ثلاثة أشخاص أو أجناس: المجاهد مع الكفار لإعلاء الدين، والحاج والمعتمر: المتميزون عن سائر المسلمين بتحمل المشاق البدنية والمالية ومفارقة الأهلين… ثم قال: والحاصل أنهم قومٌ معظمون عند الكرماء، ومكرمون عند العظماء، تُعطى مطالبهم وتُقضى مآربهم
“Tamu-tamu Allah ada tiga macam:
(1) orang yang berjihad melawan orang-orang kafir demi meninggikan agama Islam Islam ,
(2) orang yang berhaji dan berumrah; yaitu mereka yang memiliki keistimewaan dibandingkan kaum muslimin lainnya karena kesediaan mereka menanggung kesulitan fisik dan beban harta, serta berpisah dari keluarga dan orang-orang tercinta.
Kemudian beliau melanjutkan:
“Kesimpulannya, mereka adalah kaum yang diagungkan oleh para dermawan dan dimuliakan oleh orang-orang besar; permohonan mereka dikabulkan dan segala hajat mereka dipenuhi.”
Penjelasan ini menegaskan bahwa orang-orang yang disebut sebagai wafdullāh (tamu-tamu Allah) menempati kedudukan yang sangat mulia di sisi-Nya. Kemuliaan tersebut bukan hanya karena status ibadah yang mereka lakukan, tetapi karena pengorbanan besar yang menyertainya, baik berupa tenaga, harta, rasa aman, maupun keterpisahan dari keluarga dan kenyamanan hidup. Pengorbanan inilah yang menjadi sebab keistimewaan mereka dibandingkan kaum muslimin lainnya.
Lebih jauh, ungkapan bahwa mereka “diagungkan oleh para dermawan dan dimuliakan oleh orang-orang besar” menunjukkan Allah memuliakan mereka dengan pengabulan doa dan pemenuhan hajat, sebagai bentuk balasan atas keikhlasan dan kesungguhan mereka dalam beribadah kepada-Nya.
Dengan demikian, hadis dari penjelasan ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kemuliaan di sisi Allah sebanding dengan tingkat pengorbanan dan kesungguhan dalam menaati-Nya. Semakin besar kesulitan yang ditanggung demi tujuan yang benar dan ikhlas, semakin tinggi pula derajat kemuliaan dan perhatian Allah kepada hamba tersebut.
Gelar tamu ini lahir karena adanya proses “undangan”. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk memanggil manusia agar berhaji. Allah abadikan dalam Al-Qur’an:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Serulah manusia wahai Ibrahim untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).
Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat tersebut:
أي ناد في الناس داعياً لهم إلى الحج إلى البيت الذي أمرناك ببنائه ، فذكر أنه قال : يا رب كيف أبلغ الناس وصوتي لا ينفذهم ؟ فقال : ناد وعلينا البلاغ ، فقام على مقامه ، وقيل على الحجر ، وقيل على الصفا ، وقيل على أبي قبيس (جبل قريب من الكعبة) ، وقال : يا أيها الناس إن ربكم قد اتخذ بيتاً فحجوه ، فيقال : إن الجبال تواضعت حتى بلغ الصوت أرجاء الأرض ، وأسمع من في الأرحام والأصلاب ، وأجابه كل شيء سمعه من حجر ومدر وشجر ، ومن كتب الله أنه يحج إلى يوم القيامة : لبيك اللهم لبيك
“Maksudnya adalah: serulah manusia dengan satu seruan agar mereka datang menunaikan haji ke Baitullah yang telah Kami perintahkan kepadamu untuk membangunnya.”
Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim berkata: ‘Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku dapat menyampaikan seruan ini kepada manusia, sementara suaraku tidak akan mampu menjangkau mereka?’
Maka Allah berfirman: ‘Serulah, dan Kamilah yang akan menyampaikannya.’
Lalu Ibrahim berdiri di maqomnya; ada pula yang mengatakan di atas batu, ada yang mengatakan di atas Shafa, dan ada pula yang mengatakan di atas Abu Qubais (sebuah gunung yang dekat dengan Ka‘bah). Kemudian ia berseru:
‘Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian telah menetapkan sebuah Rumah, maka berhajilah kalian ke sana!’
Diriwayatkan bahwa gunung-gunung pun merendahkan diri sehingga suara itu menjangkau seluruh penjuru bumi, terdengar oleh siapa pun yang berada di dalam rahim dan di dalam tulang sulbi. Setiap makhluk yang mendengarnya—baik dari batu, tanah, maupun pepohonan—menjawab seruan tersebut.
Dan siapa saja yang telah Allah tetapkan akan berhaji hingga hari Kiamat, ia pun menjawab:
‘Labbaik Allahumma labbaik.’ Artinya : “Aku penuhi panggilan Engkau ya Allah…aku penuhi.”
(Riwayat Ibnu Abbas, Mujahiddin, Ikramah, Sa’id bin Zubair, Ibnu Jarir Ibn, Ibnu Abi Hatim dan sejumlah ulama salaf. Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya).
Ketika seorang mukmin berangkat haji atau umrah, mereka pada hakikatnya sedang memenuhi undangan Sang Khaliq. Karena mereka telah memenuhi undangan-Nya, maka Allah memberikan pemuliaan khusus sebagaimana seorang tuan rumah memuliakan tamunya.
3. Jaminan Pengabulan Doa dan Ampunan
Apa yang di dapat oleh orang-orang yang bertamu? Mereka wajib dihormati, bahkan dalam Islam ini bagian dari iman. Sehingga mereka disambut dengan baik, dimuliakan, disuguhi makanan, dijamin keamanannya oleh tuan rumah, didengar obrolannya dan lain sebagainya. Jika demikian yang diperoleh oleh tamunya manusia, maka bagaimana dengan tamunya Allah?! Sungguh akan mendapatkan kemuliaan dan keutamaan yang lebih besar lagi.
Berdasarkan hadis di atas, sebagai “Tuan Rumah” Yang Maha Pemurah, Allah menjamin beberapa hal bagi para tamu-Nya:
- Pemberian apa yang diminta: Sebagaimana tamu yang dijamu, Allah memberikan apa yang diminta oleh jamaah haji dan umrah sebagai bentuk penghormatan.
- Ampunan Dosa: Salah satu bentuk jamuan tertinggi dari Allah adalah penghapusan dosa-dosa bagi mereka yang memohon ampunan (istighfar) selama di tanah suci.
4. Berada dalam Lindungan dan Penjagaan Allah
Seorang tamu berada dalam tanggung jawab tuan rumahnya. Jamaah haji dan umrah berada dalam dzimmatullah (tanggungan Allah) dan pemeliharaan-Nya. Mereka menempuh perjalanan jauh, mengeluarkan biaya yang besar, dan menanggung kelelahan fisik hanya untuk mencari rida-Nya. Itulah sebabnya kedudukan mereka sangat mulia di sisi Allah.
Ringkasan Keistimewaan Tamu Allah
| Keistimewaan | Makna dan Dampaknya |
| Ijabah Doa | Allah lebih dekat dan lebih cepat mengabulkan doa mereka. |
| Maghfirah | Ampunan Allah terbuka lebar bagi yang beristighfar. |
| Ikram (Kemuliaan) | Allah memuliakan mereka karena pengorbanan harta dan fisik. |
| Penjagaan | Allah memberikan perlindungan dari segala yang membahayakan iman dan kehidupannya . |
Menjadi tamu Allah adalah impian setiap mukmin. Maknanya bukan berarti Allah bertempat di Ka’bah, namun itu adalah bentuk penisbahan kemuliaan (tasyrif). Allah memuliakan mereka karena mereka datang dengan ketaatan, meninggalkan keluarga dan tanah air demi memenuhi panggilan-Nya.
Oleh karena itu, bagi siapa saja yang dikaruniai kesempatan menjadi tamu Allah, hendaknya ia menjaga adab sebagaimana layaknya seorang tamu di hadapan Raja Diraja, yaitu dengan memperbanyak ibadah, menjauhi maksiat, dan menjaga keikhlasan.
Semoga kita termasuk yang beruntung menjadi Tamu Allah…
Aamiin.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

