Tafsir Surah An-Nazi’at Ayat 42-46 – إسماعيل بن عيسى

﴿يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا * فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ * إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ * إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا * كَأَنَّهُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَهَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓا۟ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَىٰهَا﴾ [النازعات: ٤٢-٤٦].

  1. Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?
  2. Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?
  3. Kepada Rabmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).
  4. Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)
  5. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.

(QS An-Nazi’at: 42-46).

﴿يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا﴾ ﴿يَسۡـَٔلُونَكَ﴾ يعني: يسألك الناس، كما قال تعالى في آية أخرى: ﴿يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِ ۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ﴾ [الۡأحزاب: ٦٣]، ﴿مُرۡسَىٰهَا﴾؛ أي: متى وقوعاها؟ وسؤال الناس عن الساعة ينقسم إلى قسمين: سؤال استبعاد وإنكار، وهذا كفر، كما سأل المشركون النبي ﷺ عن الساعة واستعجلوها، وقد قال الله عن هؤلاء: ﴿يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَا ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مُشۡفِقُونَ مِنۡهَا وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّ﴾ [الشورى: ١٨].

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?”

“Mereka bertanya kepadamu” artinya orang-orang bertanya kepadamu, sebagaimana Allah taala berfirman dalam ayat lain,

يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِ ۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.”

QS Al-Ahzab: 63

Mursāhā” artinya kapan terjadinya? Pertanyaan-pertanyaan manusia tentang datangnya hari kiamat terbagi menjadi dua. (Pertama,) pertanyaan dalam rangka penolakan dan pengingkaran. Ini merupakan kekufuran, sebagaimana orang-orang musyrik bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang hari kiamat dan mereka minta segera didatangkan.

Allah taala telah berfirman tentang mereka ini,

يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَا ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مُشۡفِقُونَ مِنۡهَا وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّ

Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi).

QS Asy-Syura: 18

وسؤال عن الساعة، يسأل: متى الساعة؟ ليستعد لها، وهذا لا بأس به، وقد قال رجل للنبي عليه الصلاة والسلام: يا رسول الله، متى الساعة؟ قال له: (ماذا أعددت لها؟) قال: حب الله ورسوله. قال: (المرء مع من أحب)، فالناس يسألون النبي عليه الصلاة والسلام، ولكن تختلف نياتهم في هذا السؤال، ومهما كانت نياتهم ومهما كانت أسئلتهم فعلم الساعة عند الله؛ ولهذا قال:

﴿فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ﴾ يعني: أنه لا يمكن أن تذكر لهم الساعة، لأن علمها عند الله، كما قال تعالى في آية أخرى: ﴿قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ﴾ [الأحزاب: ٦٣].

(Kedua,) pertanyaan tentang hari kiamat, dengan bertanya: Kapankah hari kiamat itu?, dalam rangka mempersiapkan diri untuknya. Ini diperbolehkan.

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—, “Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu?”

Beliau balik bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?”

Laki-laki itu menjawab, “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau bersabda, “Seseorang itu bersama siapa yang dicintainya.”

Maka orang-orang bertanya kepada Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—, tetapi niat mereka dalam pertanyaan ini berbeda-beda. Apa pun niat mereka dan apa pun pertanyaan mereka, pengetahuan tentang hari kiamat itu ada di sisi Allah. Itulah sebabnya Allah berfirman,

فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ

Artinya, tidak mungkin engkau bisa menyebutkan waktunya kepada mereka karena ilmunya ada di sisi Allah, sebagaimana Allah taala berfirman di ayat yang lain,

قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ

Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.”

QS Al-Ahzab: 63

وقد سأل جبريل عليه السلام -وهو أعلم الملائكة بوحي الله- النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم -وهو أعلم البشر بذلك- قال: أخبرني عن الساعة؟ فقال له النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: (ما المسؤول عنها بأعلم من السائل)، يعني أنت إذا كانت خافية عليك فأنا خافية علي، وإذا كان أعلم الملائكة وأعلم البشر بوحي الله لا يعلمان متى الساعة فما بالك بمن دونهما؟! وبهذا نعرف أن ما يشيعه بعض الناس من أن الساعة تكون في كذا وفي كذا، وفي زمن معين كله كذب، نعلم أنه كذب؛ لأنه لا يعلم متى الساعة إلا الله عز وجل.

Jibril—‘alaihis-salam—, malaikat yang paling mengetahui wahyu Allah, bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—, manusia yang paling mengetahui tentang hal itu, dengan mengatakan, “Beritahu aku tentang hari kiamat?”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—berkata kepadanya, “Orang yang ditanya tentang hal itu tidak lebih mengetahui dari orang yang bertanya.”

Artinya jika pengetahuan tentangnya tersembunyi darimu, maka pengetahuan itu juga tersembunyi dariku. Jika malaikat yang paling mengetahui dan manusia yang paling mengetahui tentang wahyu Allah tidak mengetahui kapan hari kiamat akan terjadi, lalu bagaimana dengan mereka yang derajatnya lebih rendah dari mereka?! Dengan ini kita tahu bahwa klaim yang disebarkan oleh sebagian orang tentang hari kiamat terjadi pada tanggal sekian dan waktu sekian adalah dusta. Kita tahu bahwa itu dusta karena tidak ada yang tahu kapan hari kiamat akan terjadi kecuali Allah—‘azza wa jalla.

﴿إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا﴾ يعني: ليس عندك علم منها، ولكنك منذر ﴿مَن يَخۡشَىٰهَا﴾؛ أي: يخافها وهم المؤمنون، أما من أنكرها واستبعدها وكذبها فإن الإنذار لا ينفع فيه ﴿وَمَا تُغۡنِى ٱلۡـَٔايَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُونَ﴾ [يونس: ١٠١]؛ ولهذا نقول: لا تسأل متى تموت؟ ولا أين تموت؟ لأن هذا أمر لا يحتاج إلى سؤال، أمر مفروغ منه ولابد أن يكون، ومهما طالت بك الدنيا فكأنما بقيت يومًا واحدًا، بل كما قال تعالى هنا: ﴿كَأَنَّهُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَهَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓا۟ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَىٰهَا﴾.

“Engkau hanyalah pemberi peringatan bagi orang-orang yang takut akan hari kiamat.” Artinya: Engkau tidak mengetahui waktu terjadinya hari kiamat, tetapi engkau adalah pemberi peringatan bagi “orang-orang yang takut akan hari kiamat”, yaitu orang-orang yang takut kepadanya dan mereka adalah orang-orang yang beriman. Adapun orang-orang yang mengingkarinya, menolaknya, dan tidak mempercayainya, maka peringatan itu tidak akan bermanfaat bagi mereka.

وَمَا تُغۡنِى ٱلۡـَٔايَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُونَ

“Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”

QS Yunus: 101

Oleh karena itu, kami katakan: Jangan bertanya kapan engkau akan mati atau di mana engkau akan mati! Karena ini adalah sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan. Ini adalah sesuatu yang sudah pasti dan pasti akan terjadi. Berapa pun lamanya engkau hidup di dunia ini, seolah-olah engkau hanya tinggal selama satu hari, bahkan seperti yang Allah taala firmankan di sini, “Pada hari mereka melihat hari kiamat, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.”

ولكن السؤال الذي يجب أن يرد على النفس ويجب أن يكون لديك جواب عليه هو: على أي حال تموت؟! ولست أريد على أي حال تموت هل أنت غني أو فقير، أو قوي أو ضعيف، أو ذو عيال أو عقيم، بل على أي حال تموت في العمل، فإذا كنت تسأل نفسك هذا السؤال فلابد أن تستعد؛ لأنك لا تدري متى يفجَؤُك الموت، كم من إنسان خرج يقود سيارته ورجع به محمولًا على الأكتاف، وكم من إنسان خرج من أهله يقول: هيئوا لي طعام الغداء أو العشاء، ولكن لم يأكله، وكم من إنسان لبس قيمصه وزر أزرته ولم يفكها إلا الغاسل يغسله، وهذا أمر مشاهد لكل أحد بحوادث بغتة.

Namun pertanyaan yang harus Anda ajukan pada diri sendiri dan yang harus Anda ketahui jawabannya adalah: Dalam keadaan apa Anda akan meninggal? Bukanlah yang saya maksudkan dalam keadaan apa Anda akan meninggal, apakah Anda kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki anak atau mandul. Tetapi yang saya maksudkan, bagaimana keadaan amalan Anda ketika Anda meninggal. Jika Anda mengajukan pertanyaan ini pada diri sendiri, maka Anda harus bersiap-siap, karena Anda tidak tahu kapan kematian akan tiba-tiba menjemput Anda. Berapa banyak orang yang pergi mengendarai mobil mereka dan kembali dalam keadaan digendong di pundak? Berapa banyak orang yang meninggalkan keluarga mereka dengan berkata: Siapkan makan siang atau makan malam untukku, tetapi mereka tidak memakannya? Berapa banyak orang yang mengenakan kemeja mereka dan mengancingkannya, kemudian tidak dibuka kecuali oleh orang yang memandikan jenazahnya. Ini adalah sesuatu yang disaksikan semua orang dalam kecelakaan mendadak.

فانظر الان وفكر على أي حال تموت؛ ولهذا ينبغي لك أن تكثر من الاستغفار ما استطعت، فإن الاستغفار فيه من كل هم فرج، ومن كل ضيق مخرج، حتى إن بعض العلماء يقول: إذا استفتاك شخص فاستغفر الله قبل أن تفتيه؛ لأن الذنوب تحول بين الإنسان وبين الهدى، واستنبط ذلك من قول الله تبارك وتعالى: ﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَآئِنِينَ خَصِيمًا ۝١٠٥ وَٱسۡتَغۡفِرِ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [النساء: ١٠٥-١٠٦]، وهذا استنباط جيد، ويمكن أيضًا أن يستنبط من قوله تعالى: ﴿وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡا۟ زَادَهُمۡ هُدًى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ﴾ [محمد: ١٧]، والاستغفار هو الهدى؛ لذلك أوصيكم بالمراقبة، وكثرة الاستغفار، ومحاسبة النفس؛ حتى نكون على أهبة الاستعداد؛ خشية أن يفجأُنا الموت -نسأل الله أن يحسن لنا الخاتمة-.

Maka lihatlah sekarang dan pikirkanlah dalam keadaan apa kamu akan meninggal. Oleh karena itu, hendaklah kamu memohon ampunan sebanyak mungkin, karena memohon ampunan mendatangkan kelapangan dari setiap kesedihan dan jalan keluar dari setiap kesulitan. Sampai-sampai sebagian ulama berkata: Jika seseorang meminta fatwa kepadamu, mohon ampunan kepada Allah sebelum kamu memberikan fatwa kepadanya, karena dosa menghalangi seseorang dari petunjuk. Kesimpulan ini berasal dari firman Allah—tabaraka wa ta’ala—,

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَآئِنِينَ خَصِيمًا ۝١٠٥ وَٱسۡتَغۡفِرِ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran agar kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu. Dan janganlah kamu membela orang-orang yang khianat. Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

QS An-Nisa’: 105-106

Ini adalah kesimpulan yang bagus. Selain itu, juga dapat disimpulkan dari firman Allah taala,

وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡا۟ زَادَهُمۡ هُدًى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.”

QS Muhammad: 17

Permohonan ampun adalah petunjuk. Oleh karena itu, saya menasihati Anda untuk selalu merasa diawasi, banyak memohon ampun, dan introspeksi diri, agar kita siap sedia, khawatir kematian mendadak menjemput kita. Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan husnulkhatimah kepada kita.

﴿كَأَنَّهُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَهَا﴾ أي: يرون القيامة ﴿لَمۡ يَلۡبَثُوٓا۟ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَىٰهَا﴾ العشية من الزوال إلى غروب الشمس، والضحى من طلوع الشمس إلى زوالها، يعني: كأنهم لم يلبثوا إلا نصف يوم، وهذا هو الواقع، لو سألنا الان: كم مضى من السنوات علينا؟ هل نشعر الان بأنه سنوات أو كأنه يوم واحد؟ لا شك أنه كأنه يوم واحد.

“Pada hari ketika mereka melihatnya,” maksudnya: melihat hari kiamat, “mereka merasa seolah-olah tidak tinggal (di dunia ini) kecuali (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” ‘Asyiyyah adalah waktu setelah tengah hari sampai matahari terbenam. Duha adalah waktu dari matahari terbit hingga tengah hari. Yakni mereka merasa seolah-olah tidak tinggal kecuali untuk setengah hari.

Demikianlah kenyataannya. Jika kita bertanya sekarang: Berapa tahun telah kita lalui? Apakah kita sekarang merasakannya bertahun-tahun atau seolah-olah hanya satu hari? Jawabannya tidak diragukan lagi, bahwa masa yang kita lalui seakan-akan hanya satu hari.

والإنسان الآن بين ثلاثة أشياء: يوم مضى فهذا قد فاته، ويوم مستقبل لا يدري أيدركه أو لا يدركه، ووقت حاضر هو المسؤول عنه، وأما ما مضى فقد فات، وما فات فقد مات، هلك عنك الذي مضى، والمستقبل لا تدري أتدركه أم لا، والحاضر هو الذي أنت مسؤول عنه، نسأل الله تعالى أن يحسن لنا العاقبة، وأن يجعل عاقبتنا حميدة، وخاتمتنا سعيدة، إنه جواد كريم.

Manusia sekarang berada di antara tiga waktu:

  • hari yang telah berlalu, yang telah dilewatinya;
  • hari di masa yang akan datang yang tidak ia ketahui apakah akan ia dapati atau tidak; dan
  • masa kini yang akan dipertanggungjawabkan.

Hari yang telah berlalu, berarti telah hilang. Hari yang telah hilang berarti telah mati. Waktu yang telah berlalu telah hilang dari Anda. Waktu yang akan datang, Anda tidak tahu apakah Anda akan mendapatinya atau tidak. Masa sekarang inilah yang menjadi tanggung jawab Anda.

Kami memohon kepada Allah taala agar menjadikan akhir hidup kami baik, terpuji, dan bahagia. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Baik.


Sumber: Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, surah An-Nazi’at, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (wafat 1421 H) rahimahullah

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link