Hukum bagi Orang yang Ingat saat Salat bahwa Ada Najis pada Pakaiannya – إسماعيل بن عيسى

🎙 Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

السؤال:

صليت بجماعة، وبينما أنا في الصلاة ذكرت أن سروالي به نجاسة، فخجلت من ذلك، وأتممت الصلاة، فماذا أعمل، هل يعيد الناس الصلاة.. ؟

Pertanyaan:

Saya mengimami salat berjemaah. Saat sedang salat saya teringat bahwa celana saya terkena najis, saya malu akan hal itu dan saya menyelesaikan salat saya. Apa yang harus saya lakukan? Apakah makmum harus mengulangi salat tersebut?

الجواب:

Jawaban:

إذا صلى الإنسان، ثم ذكر في نفس الصلاة أن ثوبه فيها نجاسة، أو سراويله فيها نجاسة؛ فليخلعه إن كان عليه ثوب ثان، إن كان للثوب رفيق تحته ثوب ساتر، يخلع الثوب الفوقي، أو السروال يخلعه، وصلاته يستمر فيها، فإن استمر في الثوب الذي فيه نجاسة، أو السروال الذي فيه نجاسة؛ يعيدها، يعيد الصلاة إذا درى عن النجاسة، وهو في الصلاة.

Jika seseorang sedang salat, kemudian teringat di tengah salat bahwa pakaian atau celananya bernajis, maka ia harus melepasnya. Jika ia mengenakan pakaian rangkap kedua, dan jika pakaian tersebut adalah pakaian yang menutupi aurat, maka ia harus melepas pakaian atau celana bagian luar dan melanjutkan salatnya. Jika ia tetap mengenakan pakaian atau celana yang bernajis tersebut, maka ia harus mengulangi salatnya. Ia harus mengulangi salat jika ia menyadari adanya najis saat sedang salat.

أما لو ما درى إلا بعد الصلاة؛ فما عليه شيء، وصلاته صحيحة إذا ما علم إلا بعد الصلاة أن ثيابه فيها شيء، أو سراويله فيها شيء، لكن إذا علم وهو في الصلاة؛ فيخلع إن تيسر؛ لأن الرسول لما نبه بأن في نعليه أذى؛ خلعهم -عليه الصلاة والسلام- واستمر في الصلاة، فإذا خلع سراويله، واستمر في صلاته؛ فلا بأس.

Tetapi jika dia baru mengetahuinya setelah salat, maka tidak ada kewajiban yang harus dilakukannya. Salatnya tetap sah jika dia baru mengetahui ada najis di pakaian atau celananya setelah salat. Tetapi jika dia mengetahuinya saat sedang salat, maka dia harus melepasnya jika memungkinkan, karena ketika Rasulullah diberitahu bahwa ada kotoran (najis) di sandalnya, beliau melepasnya –‘alaihish-shalatu was-salam– dan melanjutkan salat. Jadi jika dia melepas celananya dan melanjutkan salat, maka tidak ada yang salah dengan itu.

المقصود: إذا كان عليه شيء ساتر، وخلع سراويله إن أمكنه … لا بأس .. وإذا قطع الصلاة؛ فهو واجب عليه إذا ما استطاع يقطع الصلاة.

Maksudnya adalah: jika dia mengenakan pakaian lain yang menutupi auratnya, dan dia melepas celananya jika mampu, tidak ada masalah. Jika dia tidak mampu melepas pakaian yang terkena najis, wajib baginya untuk menghentikan salat.

السؤال: وإن كان إمامًا؟

Pertanyaan:

Walaupun dia sedang menjadi imam?

الجواب: والإمام كذلك يقطع الصلاة، ويقدم واحدًا يصلي بهم، يقدم واحدًا يكمل بهم، واحد يستخلفه، ويكمل بهم، ويروح هو.

Jawaban:

Imam juga harus menghentikan salat dan memajukan seseorang untuk mengimami salat. Imam itu memajukan seseorang untuk menyempurnakan salat mereka. Satu orang ini menggantikan imam dan menyempurnakan salat mereka, lalu imam yang pertama tadi bisa pergi.

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link