Memahami Ngalap Berkah Yang Benar: Tiga Kaidah Penting Dalam Islam

Memahami Ngalap Berkah Yang Benar: Tiga Kaidah Penting Dalam Islam

9 hours yang lalu
Memahami Ngalap Berkah Yang Benar: Tiga Kaidah Penting Dalam Islam

Tabarruk (ngalap berekah) merupakan salah satu pembahasan yang kerap disalahpahami, baik dengan sikap berlebih-lebihan maupun dengan penolakan tanpa perincian. Padahal, syariat telah meletakkan rambu-rambu yang jelas dalam masalah keberkahan. Memahami kaidah-kaidahnya secara tepat akan menuntun seorang muslim untuk bersikap adil, ilmiah, dan selamat dari sikap berlebihan terkhusus kepada orang shalih

Berikut tiga kaidah penting yang kami sarikan dari kitab Qawaidu Fii Tauhid Ar-Rububiyyah Wal Uluhiyyah wal Asma was-shifat. Karya Syaikh Walid bin Rasyid As-Su’aidan -hafidzahullah-

Kaidah Pertama : Allah Satu-Satunya Penetap Keberkahan

واضع البركة هو الله وحده لا شريك له

Yang menetapkan dan menciptakan keberkahan hanyalah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Maknanya, tidak ada satupun makhluk—baik orang saleh, wali, maupun tempat tertentu—yang memiliki keberkahan dengan sendirinya. Jika ada keberkahan pada sesuatu, itu murni karena Allah yang menaruhnya, bukan karena zat makhluk tersebut.

Kaidah Kedua : Tabarruk Harus Berdasarkan Dalil

لا يجوز التبرك بالشيء إلا بدليل

“Tidak boleh bertabarruk dengan sesuatu kecuali ada dalilnya.”

Keberkahan adalah perkara ghaib. Kita tidak bisa mengetahui di mana Allah meletakkan keberkahan kecuali melalui wahyu, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu, tabarruk tidak boleh dibangun di atas perasaan, tradisi, kebiasaan masyarakat, atau logika semata, tetapi harus ada dalil yang sahih dan jelas.

Kaidah Ketiga : Perbedaan Barakah Zat Dan Barakah Maknawi

البركة الذاتية منتقلة والبركة المعنوية لازمة

Keberkahan zat bisa berpindah, sedangkan keberkahan maknawi itu melekat dan tidak berpindah.

Keberkahan Terbagi Menjadi Dua:

Pertama, Barakah Dzātiyyah (Keberkahan Zat).

Yaitu keberkahan fisik yang dapat berpindah melalui sentuhan atau penggunaan langsung. Keberkahan ini khusus pada Nabi Muhammad ﷺ, seperti bekas wudhu beliau, ludah beliau, dan rambut beliau. Para sahabat bertabarruk dengan hal-hal tersebut, dan ini dibolehkan karena ada dalil yang jelas.

Kedua, Barakah Ma‘nawiyyah (Keberkahan Maknawi).

Yaitu keberkahan iman, ilmu, amal, dan ketakwaan. Keberkahan ini melekat pada orangnya, tidak berpindah ke benda, tidak menular kepada orang lain, dan tidak berpindah ke kuburannya.

Karena itu, para sahabat tidak pernah bertabarruk dengan ludah Abu Bakar, Umar, atau sahabat lainnya, meskipun mereka adalah manusia terbaik setelah Nabi ﷺ.

Penutup

Tiga kaidah ini menegaskan bahwa keberkahan sepenuhnya berada di tangan Allah, hanya dapat ditetapkan dengan dalil, dan memiliki batasan yang tegas antara yang bersifat zat dan makna. Dengan berpegang pada kaidah tersebut, seorang muslim dapat memposisikan tabarruk secara benar, mencintai orang-orang saleh tanpa melampaui batas, serta tetap istiqamah di atas aqidah yang lurus.

Wallahu a’lam, Semoga bermanfaat, Baarokallohufikum

Ditulis oleh ustadz Nurhadi Nugroho hafidzhohulloh

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link