Fitnah Hawa Nafsu, Tak Mau Beriman, Akhirnya Tersesat 

Fitnah Hawa Nafsu, Tak Mau Beriman, Akhirnya Tersesat 

4 weeks yang lalu
Fitnah Hawa Nafsu, Tak Mau Beriman, Akhirnya Tersesat 

Allah ta’ala berfirman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

{ أَفَرَءَیۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمࣲ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةࣰ فَمَن یَهۡدِیهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ }    

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan ilmuNya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk selain Allah?! Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS Al-Jāthiyah: 23]

Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk memperhatikan orang yang mengikuti hawa nafsu dan bagaimana karakteristik mereka. Tentunya bukan untuk diikuti, namun untuk diwaspadai sebagaimana kita meminta pada Allah agar ditunjukkan jalan kebaikan & keburukan 

{ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ (6) صِرَ ٰ⁠طَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ (7) }

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [QS Al-Fātihah: 6-7]

Menjadikan Hawa Nafsu Sebagai Sesembahan

 أَفَرَءَیۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (Al Jatsiyah: 23)

As Sa’di rahimahullah berkata 

فما هويه سلكه سواء كان يرضي الله أو يسخطه

“Apa yang cocok dengan hawa nafsunya maka akan ia jalani, baik itu diridhoi atau dimurkai oleh Allah” (tafsir as Sa’di)

Allah menyebutkan perilaku ini seperti orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilah/sesembahan, dia mengikuti & tunduk pada hawa nafsunya seperti menyembahnya. 

Dalam ayat lain Allah sebutkan mereka adalah orang yang tak mau mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam 

{ فَإِن لَّمۡ یَسۡتَجِیبُوا۟ لَكَ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا یَتَّبِعُونَ أَهۡوَاۤءَهُمۡۚ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَیۡرِ هُدࣰى مِّنَ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَهۡدِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِینَ }

“Maka jika mereka tidak menjawabmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS Al-Qaṣaṣ: 50]

Berilmu Tapi Sesat

وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمࣲ

“Allah membiarkannya sesat dengan ilmu” (Al Jatsiyah: 23)

Ada 2 tafsiran “sesat dengan ilmu”. Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

وَقَوْلُهُ: ﴿وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ﴾ يَحْتَمِلُ قَوْلَيْنِ:

أحدها  وَأَضَلَّهُ اللَّهُ لِعِلْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ. وَالْآخَرُ: وَأَضَلَّهُ اللَّهُ بَعْدَ بُلُوغِ الْعِلْمِ إِلَيْهِ، وَقِيَامِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ

“Allah membiarkannya sesat dengan ilmu”, mengandung 2 tafsiran:

Pertama, Allah membiarkannya sesat dengan ilmuNya. Allah tahu bahwa ia berhak mendapatkan kesesatan tersebut.

Kedua, Allah membiarkannya tersesat setelah ilmu sampai & hujjah tegak kepadanya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Hal ini seharusnya membuat kita tetap tawadhu’, jangan sombong & ujub dengan ilmu kita (termasuk ilmu agama). Bisa jadi seseorang justru sesat & menyimpang walaupun dia berilmu karena sebab keburukan yang ada di hatinya. Mungkin kita sudah pernah melihat sendiri fenomena seperti itu. Kita berlindung kepada Allah dari kondisi tersebut.

Pintu Hidayah Tertutup

Allah berfirman 

وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةࣰ 

“dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya” (QS Al Jatsiyah: 23)

Allah menutup pintu hidayah baginya. Telinga yang dengannya dia bisa mendengarkan kebenaran dari firman Allah & hadits Rasulullah, tertutup untuk mendengarkannya. Hati yang dengannya dia bisa merenung & mengolah apa yang didengarnya, rusak tak bisa lagi berfungsi. Mata, yang dengannya dia bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, menjadi tertutup dengan kabut hawa nafsu.

Al Qurthubi rahimahullah berkata 

وَخَتَمَ عَلى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ” أَيْ طَبَعَ عَلَى سَمْعِهِ حَتَّى لَا يَسْمَعَ الْوَعْظَ، وَطُبِعَ عَلَى قَلْبِهِ حَتَّى لَا يَفْقَهُ الْهُدَى . “وَجَعَلَ عَلى بَصَرِهِ غِشاوَةً” أَيْ غِطَاءً حَتَّى لَا يُبْصِرَ الرُّشْدَ.

“dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya”, menyumpal pendengarannya sehingga ia tak mendengar nasihat, menyumpal hatinya sehingga ia tak memahami petunjuk. “Serta meletakkan tutup atas penglihatannya”, yaitu menghalangi pandangannya sehingga ia tak melihat kebenaran.” (Tafsir Al Qurthubi).

Dalam ayat lain Allah berfirman,

{ وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبࣱ لَّا یَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡیُنࣱ لَّا یُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانࣱ لَّا یَسۡمَعُونَ بِهَاۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡغَـٰفِلُونَ }

“Dan Sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [QS Al-Aʿrāf: 179]

Tak Ada Yang Memberi Hidayah Kecuali Allah

Allah ta’ala berfirman 

فَمَن یَهۡدِیهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ

“Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk selain Allah?!” (QS Al Jatsiyah: 23)

Allah menyebutkan tentang kekuasaanNya dalam memberikan petunjuk ataupun menjadikan manusia tersesat. Kondisi manusia yang sudah tertutup pintu hidayah, tak ada yang bisa membuka pintu itu kecuali Allah. Namun ini bukan berarti seseorang menyerah dalam mendakwahkan kebenaran pada orang-orang seperti itu. Masih ada pintu lain: berdoa kepada Allah agar Allah bukakan pintu hidayah baginya.

As Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini:

أي: لا أحد يهديه وقد سد الله عليه أبواب الهداية وفتح له أبواب الغواية، وما ظلمه الله ولكن هو الذي ظلم نفسه وتسبب لمنع رحمة الله عليه

“Yaitu: tak ada seorangpun yang bisa memberi hidayah kepadanya setelah Allah menutup pintu hidayah dan membuka pintu kesesatan untuknya. Bukan karena Allah zhalim padanya, namun ia yang menzhalimi dirinya sendiri yang menyebabkan dirinya terhalang dari rahmat Allah” (Tafsir as Sa’di)

Jadikan Pelajaran

Allah berfirman 

افَلَا تَذَكَّرُونَ }

“Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS Al-Jāthiyah: 23]

Pertanyaan ini adalah renungan bagi para pembaca Al Qur’an sekaligus ajakan untuk mengambil pelajaran dari fenomena tersebut. Ada orang-orang yang berilmu, namun karena mengikuti hawa nafsu dan tidak mengikut kebenaran akhirnya Allah sesatkan.

Renungan agar jangan sampai seperti itu, renungan agar ketika seseorang memiliki ilmu hendaklah ia berjalan & beramal di atas ilmu tersebut.

Dalam tafsir Al Mukhtasar disebutkan:

أفلا تتذكرون ضرر اتباع الهوى، ونفع اتباع شرع الله

“Apakah kalian tidak mengambil pelajaran dari bahaya mengikuti hawa nafsu dan manfaat mengikuti syariat Allah?!” (Tafsir Al Mukhtasar)

Wallahu a’lam. Semoga Allah senantiasa membimbing kita pada kebenaran.

Ditulis Oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link