Dimana Allah Berada? Penjelasan Aqidah Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Dimana Allah Berada? Penjelasan Aqidah Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

5 hours yang lalu
Dimana Allah Berada? Penjelasan Aqidah Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Assalamu’alaikum, Ustaz. Saya sering mendengar ungkapan bahwa “Allah itu ada tanpa tempat dan tidak terikat waktu”. Sebagian orang mengatakan ini adalah bentuk penyucian kepada Allah, namun sebagian lagi menyebut ini menyelisihi dalil yang menyatakan Allah di atas Arsy. Bagaimanakah cara memahami masalah ini sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah, walhamdulillah, was-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.

Masalah keberadaan Allah adalah bagian dari Shifatul ‘Uluw (Sifat Ketinggian) Allah. Dalam memahami istilah “tempat” (al-makan) bagi Allah, para ulama menekankan perlunya merujuk pada lafal-lafal yang digunakan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menghindari istilah baru yang bersifat ambigu (mujmal).

Berikut adalah ringkasan penjelasan dari para ulama ahlussunnah tentang pembahasan ini:

Pertama, Prinsip Dasar dalam Asma’ was Shifat Allah; Cukupkan dengan Menggunakan Narasi (lafal/istilah) Syar’i

Istilah “Allah ada tanpa tempat” tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi ﷺ, tidak pula dalam pernyataan para sahabat maupun Salafus Shalih. Bagi seorang muslim, sikap yang paling selamat dan menenangkan jiwa adalah menetapkan apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri, serta apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya, sesuai dengan keagungan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Sempurna.

Kita mencukupkan diri dengan narasi-narasi syar’i yang telah termaktub indah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam memahami keberadaan Allah, kita mengimani sifat Al-‘Uluw (Ketinggian Zat dan Sifat-Nya), Al-Fauqiyyah (Keberadaan-Nya yang berada di atas seluruh makhluk), Al-Istiwa (Maha Tinggi di atas Arsy-Nya), turunnya sesuatu dariNya, naiknya sesuatu kepadaNya dan keberadaanNya yang di langit.

Tentang sifat Al-’Uluw Allah berfirman:

وهو العلي العظيم

“Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS. Al-Baqarah: 255)

سبح اسم ربك الأعلى

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” (QS. Al-A’la: 1)

Tentang Al-Fauqiyyah Allah berfirman:

وهو القاهر فوق عباده

“Dialah Yang Maha Perkasa di atas hamba-hamba-Nya” (QS. Al-An’am: 18)

يخافون ربهم من فوقهم ويفعلون ما يؤمرون

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada diatas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. An-Nahl: 50)

Tentang Al-Istiwa Allah berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang Bersemayam di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5).

Tentang Turunnya segala sesuatu dariNya, sebagaimana firman-Nya:

يدبر الأمر من السماء إلى الأرض

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi” (As-Sajdah: 5)

إنا نحن نزلنا الذكر

 “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an” (Al-Hijr: 9), dan yang semakna dengan ayat ini banyak.

Naiknya segala sesuatu kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal saleh diangkat-Nya” (Fatir: 10),

serta:

تعرج الملائكة والروح إليه

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik menghadap kepada-Nya” (Al-Ma’arij: 4).

Keberadaan-Nya di atas langit, sebagaimana firman-Nya:

أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض

“Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit, bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu?” (Al-Mulk: 16).

Kedua, Membedah Makna “Tempat” (Al-Makan)

Ulama menjelaskan bahwa istilah “tempat” bagi Allah memiliki dua kemungkinan makna, sehingga kita tidak boleh menolak atau menerimanya secara mutlak tanpa rincian:

–   Makna Pertama: Tempat sebagai sesuatu yang melingkupi (Makan Wujudi)

Jika maknanya adalah Allah berada di dalam sebuah ruang atau tempat yang melingkupi-Nya (seperti kita berada di dalam kamar), maka makna ini batil. Allah Maha Besar, tidak ada makhluk yang mampu melingkupi-Nya. Dalam konteks ini, perkataan “Allah ada tanpa tempat” benar secara makna.

–   Makna Kedua: Arah ketinggian di atas seluruh makhluk (Makan ‘Adami).

Jika maksud menolak “tempat” adalah menolak keberadaan Allah di atas langit dan di atas Arsy-Nya, maka penolakan ini salah. Dalil-dalil mutawatir menunjukkan bahwa Allah berada di arah atas, terpisah dari makhluk-Nya. (Majmu’ Fatawa war Rosail Ibni ‘Utsaimin, 1/196-197).

Allah berfirman menegaskan keberadaan-Nya di atas langit:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu?” (QS. Al-Mulk: 16).

Dan juga sebagaimana hadis Nabi ﷺ saat bertanya kepada seorang budak wanita:

“أَيْنَ اللهُ؟” قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: “أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ”

“Di mana Allah?” Budak itu menjawab: “Di atas langit.” Beliau bersabda: “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang mukminah.” (HR. Muslim no. 537).

Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah pernah ditanya:

“Bagaimana kita mengenal Rabb kita?”

Beliau menjawab:

بِأَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ

“Kita mengenal-Nya bahwa Dia berada di atas Arsy-Nya, terpisah (bā-in) dari makhluk-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Ar-Rad ‘alal Marisi).

Ungkapan “terpisah dari makhluk” ini sangat penting untuk membantah pemikiran Wihdatul Wujud (Allah menyatu dengan makhluk) atau pemikiran bahwa Allah berada di mana-mana secara zat. Allah berada di atas Arsy, namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Ketiga, Mengenai Waktu (Az-Zaman)

Terkait ungkapan “Allah tidak terikat waktu”, secara makna benar bahwa Allah adalah Al-Awwal (Yang Paling Awal, tidak ada sesuatu sebelum-Nya) dan Al-Akhir (Yang Paling Akhir, tidak ada sesuatu setelah-Nya). Allah berfirman:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir.” (QS. Al-Hadid: 3).

Allah menciptakan waktu, maka Dia tidak diatur oleh waktu sebagaimana makhluk. Dan Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah melakukan perbuatan sesuai kehendak-Nya (Af’al Ikhtiyariyah) kapan pun Dia mau.

Keempat, Kesimpulan Keyakinan yang Benar Tentang Ini

 

Istilah Status Sikap Ahlussunnah
Al-‘Uluw, Al-Fauqiyyah, Al-Istiwa, turunnya sesuatu dariNya, naiknya sesuatu kepadaNya dan keberadaanNya yang di langit.

 

Syar’i/pelafalan yang digunakan dalam Quran dan Sunnah Wajib ditetapkan sesuai keagungan-Nya tanpa tasybih (disamakan dengan makhluk).
Tempat (Makan) Bid’ah/Lafal Baru Dirinci: Tolak jika maknanya Allah diliputi ruang. Tetapkan jika maknanya Allah di atas seluruh makhluk.

 

Ungkapan “Allah ada tanpa tempat” adalah istilah yang sering digunakan oleh kaum teolog (mutakallimin) untuk menolak sifat ketinggian Allah. Secara syar’i, kita wajib mengikuti lafal Al-Qur’an dan As-Sunnah:

  1. Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya.
  2. Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit ketujuh.
  3. Zat Allah terpisah dari makhluk, namun ilmu-Nya menyertai mereka dimanapun mereka berada (ma’iyyah ilmiyah).

Menggunakan lafal-lafal Al-Qur’an (seperti Istiwa dan ‘Uluw) jauh lebih menyelamatkan akidah dan menentramkan daripada terjebak dalam istilah-istilah filsafat yang samar.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Ditulis Oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link