Menjadi Dewasa Tanpa Pernah Benar-Benar Disiapkan

Ada satu fase hidup yang sering datang tanpa permisi: dewasa. Ia tidak datang bersama buku panduan. Tidak pula hadir dengan pengumuman resmi bahwa “kamu siap sekarang”. Tahu-tahu, kita dituntut mengerti. Diminta kuat. Diharapkan bijak. Padahal di dalam hati, masih ada anak kecil yang bingung, takut, dan merasa lelah.

Banyak dari kita tumbuh tanpa pernah benar-benar disiapkan untuk dewasa. Kita diajari patuh, tapi tidak diajari mengambil keputusan. Kita dibiasakan menurut, tapi tidak dilatih memikul konsekuensi. Kita tahu apa itu dosa dan pahala, tapi tidak pernah diajari bagaimana bertahan ketika hidup tidak berjalan lurus. Maka jadilah kita dewasa yang canggung. Usia bertambah, tanggung jawab menumpuk, tetapi batin sering tertinggal.

Dewasa yang datang lewat paksaan, bukan persiapan

Sebagian orang menjadi dewasa karena keadaan, bukan karena kesiapan. Ada yang harus cepat matang karena kehilangan orang tua. Ada yang dipaksa kuat karena ekonomi. Ada pula yang belajar tangguh karena tak punya tempat bersandar.

Islam memahami kondisi ini. Karena tidak semua kedewasaan lahir dari proses ideal. Sebagian justru lahir dari luka. Dan Allah tidak menilai manusia dari rapi tidaknya perjalanan, tetapi dari kesungguhan bertahan dalam ujian.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan janji bahwa hidup akan mudah, tetapi jaminan bahwa tidak ada ujian yang datang tanpa kapasitas untuk bertahan, meski kapasitas itu baru kita sadari setelah terjatuh berkali-kali.

Dewasa bukan soal tahu segalanya, tapi tahu kepada siapa bersandar

Kesalahan besar dalam memahami dewasa adalah mengira bahwa dewasa berarti tidak boleh rapuh. Padahal dalam Islam, kedewasaan justru terlihat ketika seseorang tahu ke mana membawa rapuhnya.

Rasulullah ﷺ, manusia paling dewasa secara iman dan akhlak, tetap menangis, tetap mengadu, tetap bersimpuh dalam doa. Kedewasaan beliau bukan pada hilangnya rasa lemah, tetapi pada kejelasan arah ketika lemah.

Banyak dari kita tumbuh dengan kalimat, “Sudah gede, masa begitu?” Padahal yang lebih jujur seharusnya, “Sudah dewasa, maka wajar jika merasa lelah, asal tidak menyerah.”

Ketika tidak ada yang mengajarkan cara mengelola hidup

Ada luka yang jarang dibahas: luka karena tidak pernah diajari. Tidak diajari mengelola emosi. Tidak diajari menyusun prioritas. Tidak diajari berdamai dengan kegagalan. Tidak diajari bahwa hidup kadang abu-abu, tidak selalu hitam-putih seperti di buku pelajaran.

Islam tidak menuntut manusia langsung sempurna. Yang dituntut adalah belajar dan bertumbuh. Bahkan tobat sendiri adalah bukti bahwa Allah membuka ruang bagi manusia yang jatuh karena ketidaktahuan, keliru karena ketergesaan, dan salah karena keterbatasan. Dewasa dalam Islam bukan tentang tidak salah, tetapi tentang tidak membela kesalahan dan tidak betah berlama-lama di dalamnya.

Dewasa yang sehat: Bertanggung jawab tanpa kehilangan hati

Ada orang yang tampak dewasa secara fungsi (bekerja, mengurus keluarga, memikul peran) tetapi hatinya kering. Semua dijalani sebagai beban, bukan amanah. Ini bukan kedewasaan yang utuh, melainkan kelelahan yang dipendam. Islam mengajarkan keseimbangan: tanggung jawab tanpa kehilangan rahmah, ketegasan tanpa mematikan empati, dan keteguhan tanpa memusuhi diri sendiri.

Jika hari ini kita dewasa tanpa pernah benar-benar disiapkan, itu bukan aib. Aibnya adalah ketika kita menolak belajar, enggan bertanya, dan enggan kembali kepada Allah.

Menjadi dewasa tanpa persiapan memang menyakitkan. Tapi sering kali, justru di sanalah Allah menempa manusia. Tidak semua orang dewasa karena bimbingan. Sebagian dewasa karena doa yang tak henti dipanjatkan dalam diam. Sebagian dewasa karena berkali-kali jatuh, lalu memilih bangkit tanpa tepuk tangan. Dan mungkin, kedewasaan paling jujur adalah ini: tetap berjalan, meski tahu diri belum sepenuhnya siap, sambil terus belajar, sambil terus meminta petunjuk, dan sambil terus berharap rahmat Allah tidak pernah jauh.

Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

***

Penulis: Junaidi Abu Isa

Artikel Muslim.or.id

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link