Bagaimana Merasa Allah Sedang Menyapa Kita Saat Membaca Al-Qur’an?
![]()
Bagaimana Merasa Allah Sedang Menyapa Kita Saat Membaca Al-Qur’an?
Banyak ulama menekankan pentingnya menghadirkan hati saat membaca Al-Qur’an, seolah-olah setiap ayat adalah pesan langsung dari Allah kepada kita. Tapi muncul pertanyaan: bagaimana mungkin seorang Muslim bisa merasakan bahwa Allah sedang berbicara kepadanya, ketika ayat tersebut justru berisi kecaman terhadap orang-orang kafir, musyrik, atau pendusta agama? Apakah mungkin kita juga termasuk sasaran ayat itu? Artikel ini mengajak Anda merenungkan bagaimana menjadikan setiap ayat Al-Qur’an sebagai cermin untuk diri, sekalipun konteksnya bukan secara langsung ditujukan pada kita.
Merasa Ditegur Langsung oleh Allah: Kunci Tadabbur yang Menghidupkan Hati
Meresapi bahwa Allah sedang berbicara kepada kita melalui Al-Qur’an terjadi dengan cara menyimak bacaan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, mentadabburi dengan baik, dan mengamalkannya dengan benar. Seorang Muslim meyakini bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an untuk berbicara kepada hamba-hamba-Nya—dalam bentuk perintah, larangan, nasihat, atau peringatan—baik kepada kelompok tertentu maupun secara umum.
Ketika Allah secara khusus menyebut orang-orang beriman, maka seorang Muslim hendaknya merasa bahwa panggilan itu juga ditujukan kepadanya, lalu meresponsnya dengan sikap tunduk dan taat. Seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
إِذَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) فَأَرْعِهَا سَمْعك، فَإِنَّهُ خَيْرٌ يَأْمُرُ بِهِ أَوْ شَرٌّ يَنْهَى عَنْهُ ” .
“Jika engkau mendengar Allah berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman’, maka perhatikanlah baik-baik, karena itu adalah kebaikan yang Allah perintahkan, atau keburukan yang Allah larang.” (تفسير ابن كثير (1/ 374)
Untuk itu apabila Allah memberikan khitab (seruan) secara umum kepada seluruh manusia, maka seorang hamba hendaknya menghadirkan perasaan bahwa Allah sedang langsung berbicara kepadanya. Jika dalam ayat itu ada perintah, maka ia laksanakan; jika larangan, maka ia jauhi; dan jika berupa nasihat atau peringatan, maka ia ambil pelajaran dan mengamalkannya.
Perbedaan Dalam Menyambut Seruan Allah Di Setiap Ayat
Seorang hamba hendaknya selalu menghadirkan perasaan bahwa Allah sedang berbicara langsung kepadanya dalam setiap ayat Al-Qur’an yang ia baca. Namun bentuk kesadarannya berbeda-beda sesuai isi ayat yang sedang dibaca:
– Jika ayat tersebut menyebutkan tentang ketaatan, ia merasa Allah memerintahkannya untuk melakukannya.
– Jika ayat menyebutkan maksiat, ia merasa Allah sedang melarangnya dari perbuatan tersebut.
– Jika ayat membicarakan orang-orang beriman, ia merasa Allah memerintahkannya untuk mencintai dan loyal kepada mereka.
– Jika ayat menyebutkan orang-orang kafir dan munafik, ia merasa Allah sedang memerintahkannya untuk membenci dan memusuhi mereka.
– Jika disebutkan tentang setan, ia merasa Allah sedang memperingatkannya agar memusuhi setan, tidak mengikutinya, dan tetap taat kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
“Bukankah Aku telah berpesan kepadamu wahai anak-anak Adam, agar tidak menyembah setan? Sungguh ia adalah musuh yang nyata bagimu. Dan sembahlah Aku, inilah jalan yang lurus.” (Yasin: 60–61)
– Jika ayat menyebutkan tentang kejujuran dan orang-orang jujur, ia merasa Allah sedang memerintahkannya agar menjadi bagian dari mereka.
– Jika disebutkan tentang dusta dan para pendusta, ia merasa Allah sedang melarangnya agar tidak termasuk golongan mereka.
Nasihat Ulama
Imam Abu Bakr Al-Ajurri rahimahullah berkata dengan penuh makna:
Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia telah menyeru hamba-hamba-Nya untuk merenungi firman-Nya yang agung. Bukan sekadar bacaan di lisan, tapi perenungan yang mengetuk hati yang hidup. Allah berfirman:
“أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Dan Allah berfirman pula:
“أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا”
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)
Tidakkah kau melihat, wahai jiwa yang rindu petunjuk?
- Rabbmu yang Maha Pemurah memanggilmu, mengajarkanmu untuk menyelami lautan firman-Nya.
- Siapa yang mentadabburi Al-Qur’an, dia akan mengenal Tuhan-Nya…
- Mengenal keagungan-Nya, kekuasaan-Nya, kasih sayang-Nya, dan kewajiban untuk taat kepada-Nya.
Dia akan gemetar kala membaca peringatan-Nya,
- Akan tergerak kala membaca janji dan kabar gembira-Nya.
- Hatinya tersulut cinta, jiwanya terdorong taat
- Lisannya berkata lirih, “Ya Rabb, Inikah Pesan-Mu Untukku?”
Bagi yang membaca dengan hati yang terjaga,
- Al-Qur’an menjadi penawar luka…
- Ia menjadi cukup tanpa harta, mulia tanpa kerabat,
- Tenang dalam kesendirian yang menakutkan bagi yang lain.
Jika membaca surat, bukan “kapan aku selesai?”
- Tapi “kapan aku terbangun?”
- Kapan aku menangis, kapan aku berubah,
- Kapan aku paham bahwa ini adalah kalam dari Allah untukku?
Karena tilawah adalah ibadah,
- Dan ibadah tak pantas dilakukan dalam kelalaian.
[Terjemah bebas dari kitab Akhlaq Hamalatul-Qur’an]
Sesungguhnya Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi cahaya petunjuk yang hidup dalam jiwa. Bila kita membacanya dengan hati yang hadir dan telinga yang mendengar seruan-Nya, maka setiap ayat akan menjadi pesan cinta, peringatan, dan pelajaran dari Rabb semesta alam.
Mari belajar bukan hanya mengkhatamkan lafaznya, tapi juga memahami maksud-Nya dan meresapi sapaan-Nya, karena bahagia sejati adalah ketika hati terikat dengan firman Allah, dan hidup berjalan di bawah bimbingan-Nya.
Semoga bermanfaat baarokallohufikum

