Kisah ini termuat dalam surat Al-Baqarah ayat 72.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَإِذۡ قَتَلۡتُمۡ نَفۡسٗا فَٱدَّٰرَٰٔتُمۡ فِيهَاۖ
_”Ketika kalian membunuh seseorang, lalu kalian tuduh-menuduh tentang (urusan) itu_
وَٱللَّهُ مُخۡرِجٞ مَّا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ
_Dan Allāh ingin membongkar (menyingkap) apa yang kalian sembunyikan (siapa yang membunuh orang tersebut)_
فَقُلۡنَا ٱضۡرِبُوهُ بِبَعۡضِهَاۚ
Maka Kami berfirman, _’Pukullah, mayit itu dengan sebagian anggota (bagian dari sapi) itu !’_
كَذَٰلِكَ يُحۡيِ ٱللَّهُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ
_Demikianlah Allāh menghidupkan orang yang mati dan memperlihatkan kepada kalian ayat-ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, agar kalian berpikir.”_
(QS. Al-Baqarah: 72-73)
Ini adalah kisah yang pernah terjadi pada zaman nabiyullāh Musa alayhishshalātu wassalām, di mana ada orang yang terbunuh, kemudian mereka saling curiga lalu Allāh tampakkan siapa pembunuh orang tersebut dengan cara memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi dan memukulkan bagian dari potongan sapi tersebut kepada mayit, lalu mayit tersebut hidup dan berbicara (mengatakan) siapa yang telah membunuhnya.
⑶ Kisah sebuah kaum yang mereka keluar dari rumahnya karena takut mati. Adanya wabah sehingga mereka (ribuan manusia) keluar dari kampungnya. Lalu Allāh mematikan mereka semua kemudian Allāh hidupkan kembali.
Sehingga mereka betul-betul merasakan kematian yang dihidupkan Allāh lagi.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيَـٰرِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ ٱللَّهُ مُوتُوا۟ ثُمَّ أَحْيَـٰهُمْ ۚ
_”Apakah anda tidak memperhatikan orang-orang yang mereka keluar dari kampung halaman, jumlahnya ribuan karena takut mati (karena wabah)_
Lalu Allāh katakan kepada mereka:
مُوتُوا۟ ثُمَّ أَحْيَـٰهُمْ
_Matilah kalian semua, lalu Allāh menghidupkan mereka.”_
(QS. Al-Baqarah: 243)
Itulah di antara bukti bagaimana Allāh menghidupkan orang-orang yang mati.
⑷ Kisah yang terjadi pada sebuah kampung yang sudah hancur berantakan.
Ada orang yang mereka berkomentar, bagaimana Allāh akan menghidupkan bumi yang telah hancur (kampung yang telah mati)?
Maka Allāh katakan:
أَوْ كَٱلَّذِى مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍۢ وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا
_”Atau seperti orang yang melewati sebuah kampung, yang kampung itu temboknya sudah menutupi atapnya artinya sudah runtuh sampai temboknya menutupi atapnya (sudah ambruk semuanya)_
Lalu Orang itu berkomentar,
أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ
_Bagaimana Allāh akan menghidupkan kampung yang sudah mati seperti ini?_
Maka apa yang Allāh lakukan?
فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِاْئَةَ عَامٖ ثُمَّ بَعَثَهُۥۖ
_Allāh mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian Allāh menghidupkan mereka kembali_
قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَۖ
_Dan (Allāh) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal di sini?”_
قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۖ
_Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal di sini sehari atau setengah hari”_
قَالَ بَل لَّبِثۡتَ مِاْئَةَ عَامٖ
Allah berfirman, _”Tidak! Engkau telah tinggal di sini seratus tahun_
فَٱنظُرۡ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۖ
_Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah_
وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ
_Tetapi lihatlah himār (keledaimu) telah menjadi tulang belulang_
وَلِنَجۡعَلَكَ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِۖ
_Dan agar menjadi ayat (tanda kebesaran) bagi manusia_
وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَيۡفَ نُنشِزُهَا
_Lalu Allāh perintahkan agar dia memperhatikan tulang belulang (himār) yang sudah berantakan, Bagaimana Allāh membungkus lagi dan menghidupkan himār itu?_
ثُمَّ نَكۡسُوهَا لَحۡمٗاۚ
_Allāh bungkus dengan daging artinya Allāh hidupkan lagi himār itu, sehingga dia menyaksikan bagaimana Allāh menghidupkan sesuatu yang telah mati”_
