تصديق ما صح عنهم من أخبارهم
⑶ Beriman kepada rasul itu wajib membenarkan khabar-khabar yang datang dari para nabi dan para rasul.
Apa yang disampaikan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan shahīh (wajib syarat riwayat itu shahīh) karena di zaman kita ini banyak riwayat hadīts yang maudhu (palsu) karena banyaknya para zindiq (para pemalsu hadīts, pemalsu riwayat), sehingga jihadnya para ulama adalah memisahkan riwayat yang shahīh, riwayat yang dhaif atau bahkan palsu.
Ketika riwayat itu telah shahīh dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka wajib bagi kita membenarkan, baik akal kita bisa menerima atau belum bisa menerima. Wajib kita membenarkan karena khabar itu datang dari orang yang paling jujur yang diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan Abū Bakar Ash-Shidiq, dikatakan ash-shidiq karena beliau senantiasa تصدق membenarkan khabar dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tanpa ada keraguan.
العمل بشريعة من أرسل إلينا
⑷ Kewajiban mengimani rasul itu meliputi mengamalkan syariat rasul yang diutus oleh Allāh kepada kita.
Kalau kerasulan kita adalah Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Allāh mengutus Muhammad untuk semua manusia, maka wajib setiap kita untuk tunduk dan patuh kepada risalah yang dibawa oleh beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Jika tidak ada ketundukan, tidak ada kepatuhan kita kepada risalah yang beliau bawa, maka kita dianggap kafir atau munafik karena kita tidak mengimani atau tidak ada kepatuhan kepada risalah yang diajarkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Ketika Allāh mensifati sifat orang-orang mukmin.
Allāh berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
_”Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam seluruh urusan kehidupan mereka”_
Kesiapan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjadi hakim untuk memutuskan perkara
ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًۭا مِّمَّا قَضَيْتَ
_”Lalu ketika mereka telah mendapatkan keputusan dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mereka tidak merasa keberatan terhadap putusan yang telah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berikan”_
وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًۭا
_”Dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”_
(QS. An-Nissā: 65)
Kemudian setelah kita mengenal nama-nama nabi dan rasul (ada nama nabi atau rasul yang tidak disebutkan) kemudian kisah-kisah mereka, bagaimana mereka betul-betul mengemban tugas, mengemban amanah risalah Allāh.
Maka dengan mengimani para rasul ini akan membuahkan satu ilmu pengetahuan untuk kita.
العلم برحمة الله تعالي وعنايته بعباده
① Dengan mengimani para rasul, kita akan mengetahui tentang rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan pertolongan Allāh kepada hamba-Nya
Dengan diutusnya rasul, yang membawa risalah, menjelaskan risalah, menjadi teladan sehingga para rasul ini betul-betul membimbing kita kepada jalan yang lurus. Kemudian menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Karena akal kita tidak akan sanggup untuk merumuskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allāh dengan benar.
② Ketika kita mengetahui tentang kehadiran Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ini merupakan nikmat yang luar biasa yang akan mendorong kita untuk mensyukuri nikmat tersebut.
Apalagi kedatangan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah nikmat di atas segala nikmat. Nikmat itu jenisnya banyak tetapi nikmat risalah ini adalah nikmat di atas segala nikmat.
Sehingga Allāh mengatakan:
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًۭا
_”Sungguh Allāh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allāh mengutus di antara mereka seorang rasul.”_
(QS. Āli-Imrān: 164)
Sehingga kedatangan rasul ini merupakan sebuah kenikmatan khusus yang menjadikan kita betul-betul terbimbing, bagaimana hidup dengan benar.
