Dan Allāh menegaskan,
وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌۭ
_”Tidak ada sebuah umatpun kecuali (pasti) Allāh mengirimkan kepada mereka نَذِيرٌۭ (seorang pemberi peringatan) yaitu rasul.”_
(QS. Fāthir: 24)
بشر مخلوقون
Para rasul ini adalah makhluk, (manusia biasa).
ليش لهم من خصائص الربوبية والألوهين
Yang tidak memiliki kekhususan yang berkaitan dengan Rububiyyah dan Uluhiyyah.
Tidak ada sifat ketuhanan kepada diri rasul, termasuk Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga Allāh memerintahkan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk menyampaikan kepada manusia bahwa dirinya tidak memiliki sifat ketuhanan.
Seperti ayat:
قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى نَفْعًۭا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ
Katakanlah wahai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam: _”Saya ini tidak mempunyai kuasa apapun kepada diriku sendiri untuk mendatangkan manfaat, untuk menolak mudharat kecuali apa yang dikehendaki Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”_
وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ لَٱسْتَكْثَرْتُ مِنَ ٱلْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِىَ ٱلسُّوٓءُ ۚ
_”Seandainya aku tahu perkara yang ghaib niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak akan tersentuh keburukan.”_
(QS. Al-Arāf: 188)
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diperintahkan untuk menjelaskan dan mengumumkan kepada manusia bahwa dirinya adalah manusia biasa (makhluk biasa) tidak memiliki sifat ketuhanan.
Sebagaimana ayat yang lain, dikatakan:
قُلْ إِنِّى لَآ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّۭا وَلَا رَشَدًۭا
Katakanlah: _”Sesungguhnya aku tidak mempunyai kekuasaan untuk menolak mudharat dan juga tidak untuk membimbing manusia agar hatinya terbuka di jalan yang lurus.”_
(QS. Al-Jinn: 21)
قُلْ إِنِّى لَن يُجِيرَنِى مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٌۭ
_”Dan kalau Allāh menghendaki untuk menempatkan adzab, tidak ada yang bisa melindungi aku sama sekali._
وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلْتَحَدًا
_”Dan tidak ada tempat kembali (berlindung) kecuali hanya kepada Allāh.”_
(QS. Al-Jinn: 22)
Nabi dan rasul, yang merupakan manusia biasa juga mengalami seperti kita (manusia) seperti sakit, mengalami kematian, butuh makan dan minum dan yang lainnya.
Sehingga Nabiyullāh Ibrahim mengatakan:
وَٱلَّذِی هُوَ یُطۡعِمُنِی وَیَسۡقِینِ
_”Dia-lah, Allāh yang memberikan kepadaku makan dan minum.”_
وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ یَشۡفِینِ
_”Jika aku sakit, Allāh yang menyembuhkan diriku.”_
وَٱلَّذِی یُمِیتُنِی ثُمَّ یُحۡیِینِ
_”Dan Dia-lah, Allāh yang mematikan dan menghidupkanku.”_
(QS. Asy-Syu’ara: 79 – 81)
Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun diperintahkan Allāh untuk menegaskan:
إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ
_”Sesungguhnya aku manusia biasa seperti kalian”_
Sehingga tidak ada keistimewaan apapun pada Nabi sebagai manusia, kecuali keistimewaannya adalah diberikan wahyu oleh Allāh dan Allāh menjaga beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam (ma’shum).
Sedangkan sifat-sifat manusia biasa, seperti lupa itu adalah sifat yang biasa pada Nabi, sehingga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah shalat dan beliau lupa jumlah rakyatnya, tetapi sifat lupa manusiawinya ini, tidak berdampak kepada syariat. Allāh yang betul-betul menjaga sehingga tidak berdampak pada masalah syariat
Kemudian Allāh mensifati nabi dengan sifat Ubudiyyah yang paling sempurna, hamba yang paling sempurna penghambaannya.
Sehingga Allāh mengatakan tentang nabi Nuh :
ۚإِنَّهُۥ كَانَ عَبْدًۭا شَكُورًۭا
_”Sesungguhnya Nuh adalah hamba Allāh yang sangat bersyukur”_
(QS. Al-Isrā: 3)
Kalimat abdun (عَبْدًۭا) artinya hamba yang paling sempurna penghambaannya.
Kita ini hamba, tetapi penghambaan kita banyak sekali kurangnya kepada Allāh. Sehingga yang paling sempurna penghambaannya adalah para nabiyullāh alayhishshalātu wassalām.
Kemudian beriman kepada rasul ini, meliputi beberapa pembahasan, dan In syā Allāh akan kita sampaikan pada pembahasan yang akan datang biidznillāh.
Yang ini kita selesaikan dulu.
