Maka mereka tolak dengan cara mentahrīf.
Jahmiyyah yang paling parah, kemudian mu’tazilah yang menolak semua sifat Allāh Ta’āla, kemudian Asyaira yang menetapkan nama dan sifat dan menolak sebagian sifat yang lainnya. Ini semua masuk dalam mu’atthilah, ini para penolak sifat.
Baik menolaknya total atau menolak sebagian, dan ini adalah sebuah kebathilan.
Dimana kebathilannya?
Orang yang mereka menolak nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla itu adalah:
⑴ Dia mengesankan bahwa bertentangan antara kalam Allāh dengan realita yang ada. Pertentangannya antara kalam Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Bagaimana Allāh menetapkan nama dan sifatnya, lalu dianggap itu adalah hal yang akan menjadikan manusia kafir? Kalau menetapkannya. Ini tentu sebuah tuduhan yang keji dan menganggap Allāh Subhānahu wa Ta’āla bicara tanpa ilmu.
Allāh berbicara tidak disertai dengan kefasihan, sehingga bicaranya perlu ditakwil, perlu ditahrīf. Ini adalah sebuah kemungkaran.
⑵ Orang yang menolak nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengingkari kenyataan di dunia ini memiliki nama yang sama hakikatnya berbeda.
Contoh umpamanya:
Kaki, kaki memiliki makna yang sudah kita ketahui semua. Tapi ketika dikatakan kaki semut dengan kaki gajah, dengan kaki manusia, dengan kaki bebek dengan kaki ular. Tentu berbeda hakikatnya.
Kalau antar makhluk berbeda-beda bagaimana dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla?
Allāh berbicara dengan bahasa yang dipahami manusia tetapi hakikatnya berbeda antara makhluk dengan Allāh, antara Allāh dengan makhluk. Sehingga orang yang menolak nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla mereka betul-betul berada dalam kebathilan.
Kelompok yang kedua yang menyimpang dari nama dan sifat Allāh, adalah :
2. Kelompok Al-Musyabihah
Orang yang mereka menyerupakan Allāh dengan makhluk, mereka menetapkan nama-nama dan sifat Allāh, tetapi mereka menyerupakan Allāh dengan makhluk.
Karena mereka menyangka bahwasanya Allāh berbicara kepada manusia dengan bahasa yang dipahami manusia kemudian prasangka ini membawa, menyeret mereka menyerupakan Allāh dengan makhluk, ini adalah sebuah kebathilan.
Kenapa? Karena menyerupakan Allāh dengan makhluk itu diingkari oleh akal manusia dan didalam syariat agama.
Syariat menegaskan:
ۚلَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ
_”Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak serupa dengan apapun”_
(QS. Asy-Syura[42]: 11)
Sehingga menyerupakan Allāh dengan makhluk adalah sebuah kebathilan dan akal pun akan mengingkari bagaimana Allāh serupa dengan makhluknya.
Bahwa Allāh berbicara kepada manusia dengan bahasa yang mereka pahami, tetapi ini pada aslul makna, pada pokok maknanya.
Mendengar dipahami bahwa mendengar adalah menangkap suara. Tetapi hakikatnya tentu berbeda antara Allāh dengan makhluk.
Maka orang-orang yang mereka menyerupakan Allāh dengan makhluk, mereka terjatuh dalam sebuah kebathilan yang tidak dibenarkan dalam agama ini.
Sehingga ketika Ahlus Sunnah wal Jamā’ah mengimani umpamanya nama dan sifat Allāh istiwa’ maka istiwa’ pertama kita imani, Allāh beristiwa’ kemudian mengimani istiwa’nya Allāh sesuai dengan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan kita tidak menggambarkan bagaimana istiwa’nya Allāh karena kita tidak melihat Allāh, tidak melihat yang serupa dengan Allāh, tidak ada yang akurat bagaimananya istiwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Inilah cara Ahlus Sunnah mengimaninya, sehingga tidak mengingkari sebagaimana muathillah dan tidak menyerupakan Allāh dengan makhluk sebagaimana musyabihah.
Tetapi Ahlus Sunnah mengimani semua nama dan sifat tanpa melakukan menyerupakan Allāh dengan makhluk, tanpa menolak melakukan ta’thīl pengingkaran terhadap nama dan sifat Allāh baik dengan cara dia tolak mentah-mentah atau dengan cara dia melakukan tahrīf terhadap nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
