Bencana Sumatra dan Peringatan Allah Melalui Kerusakan Alam
![]()
Bismillah, walhamdulillah, was-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.
Saudaraku yang hatinya peka terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah. Musibah banjir dan longsor yang melanda Bumi Sumatra bukan sekadar peristiwa alam biasa. Di balik air yang banjir dan tanah yang runtuh, ada jeritan alam yang kehilangan keseimbangannya karena ketamakan manusia. Berikut adalah tinjauan syariat mengenai kedudukan pohon dan dampak kerusakannya:
1. Pohon, Makhluk yang Sujud dan Bertasbih
Kita sering melihat pohon hanya sebagai kayu penghasil uang. Namun, Al-Qur’an menegaskan bahwa pohon adalah makhluk mukallaf dalam hal ibadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ
“Tidakkah kamu tahu bahwa kepada Allah-lah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?” (QS. Al-Hajj: 18).
Bahkan secara khusus Allah menyebutkan dalam surat Ar-Rahman:
وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ
“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan, keduanya tunduk (kepada Allah) bersujud.” (QS. Ar-Rahman: 6).
Imam Asy-Syaukani -semoga Allah merahmatinya menjelaskan makna ayat ini:
والمراد بسجودهما؛ انقيادهما لله تعالى انقياد الساجدين من المُكلَّفين
“Yang dimaksud dengan sujud keduanya (matahari dan bulan/bintang dan pohon) adalah ketundukan mereka yang mutlak kepada Allah Ta’ala; sebuah kepatuhan yang menyerupai tunduknya para hamba mukallaf saat mereka bersujud.” (Fathul Qodir 5/132).
Pohon-pohon di pedalaman hutan Sumatra itu adalah para hamba Allah yang sangat taat. Mereka bertasbih dengan cara yang tidak kita mengerti, mereka bersujud dengan ketetapan yang Allah gariskan. Ketika hutan digunduli secara serakah, kita sebenarnya bukan hanya sedang merusak ekosistem, tetapi sedang menghentikan tasbih para makhluk Allah yang selama ini menjaga bumi agar tetap tenang untuk kita pijak.
Sekali lagi kita renungkan, saat hutan Sumatra digunduli secara membabi buta, manusia sebenarnya sedang memutus tasbih ribuan makhluk Allah. Bagaimana mungkin keberkahan akan turun di suatu negeri jika “para ahli tasbih” di hutan-hutannya dibasmi demi kepentingan sesaat dan melampaui batas?
Wallahul musta’an…hanya kepada Allah kita berlindung.
2. Pohon Sebagai Nikmat yang Harus Dijaga
Pohon diciptakan sebagai salah satu nikmat terbesar bagi manusia, sebagaimana firman-Nya:
فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا
“Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah; yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya.” (QS. An-Naml: 60).
Ayat ini menunjukkan bahwa pohon bukan hanya indah dipandang, tapi berfungsi sebagai pasak bumi, pembersih udara, dan penyerap air. Ketika nikmat ini diingkari dengan cara dirusak (kufur nikmat), maka Allah akan menggantinya dengan musibah.
3. Larangan Merusak di Muka Bumi
Islam tidak melarang pemanfaatan alam, namun Islam melarang al-ifsad (perusakan). Tindakan deforestasi ilegal nan melampaui batas yang memicu bencana termasuk dalam kategori al-ifsad fil ardh (merusak di muka bumi). Allah Ta’ala sangat membenci perilaku ini:
وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 205).
Allah Ta’ala telah memperingatkan dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).
Ayat ini merupakan peringatan keras bagi mereka yang hanya mengejar keuntungan ekonomi (eksploitasi hutan) tanpa memikirkan kelestarian alam (al-harts). Banjir dan longsor di Sumatera adalah bentuk “rasa” dari buah kemaksiatan tersebut, yang pelakunya memikul beban dosa dari setiap manusia bahkan setiap makhluk yang terdzalimi.
4. Menanam Pohon, Ibadah Hingga Akhir Zaman
Begitu pentingnya menjaga keberadaan pohon, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat yang luar biasa:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon, maka apabila ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad).
Hadis ini adalah perintah untuk terus melakukan penghijauan (reboisasi) bahkan di masa-masa sulit sekalipun. Menanam kembali hutan Sumatera yang gundul adalah tugas keimanan, bukan sekadar tugas dinas lingkungan hidup.
Penutup
Bencana yang menimpa Sumatra adalah pengingat bahwa alam memiliki hak yang harus ditunaikan. Ketika pohon-pohon yang bersujud itu ditebang dengan cara yang zalim, maka perisai bencana pun hilang.
Mari kita kembali memandang hutan bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai hamparan makhluk Allah yang sedang bertasbih. Menjaga pohon adalah menjaga nafas kita sendiri. Setiap bibit yang kita tanam kembali di lereng-lereng yang gundul adalah bentuk taubat nyata kita kepada Sang Pencipta agar air tak lagi menjadi bah dan tanah tak lagi meruntuh.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Ditulis Oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

