(Nikmat Islam dan Sunah, serta Larangan Merayakan Hari Raya Kristen)
🎙️ Syekh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri hafizhahullah
Tatkala tauhid rububiyah telah diakui oleh manusia dengan dasar fitrah dan pengamatan mereka terhadap alam semesta. Namun, pengakuan itu saja tidak cukup untuk beriman kepada Allah dan tidak akan menyelamatkan pemiliknya dari azab, sehingga dakwah para rasul menitikberatkan pada tauhid al-uluhiyyah (mengesakan Allah dalam seluruh ibadah), terkhusus dakwah penutup para rasul, Nabi kita Muhammad ‘alaihi wa ‘alaihim afdhalush-shalatu was-salam.
Beliau menyeru agar orang-orang mengucapkan “Laa ilaaha illallaah (tidak ada sesembahan yang benar selain Allah),” yang mencakup makna menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan apapun selain Dia. Tetapi mereka malah berpaling darinya dan berkata,
أَجَعَلَ ٱلۡـَٔالِهَةَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ
Apakah ia telah menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi satu Tuhan? Sesungguhnya ini adalah hal yang mengherankan.
QS Sad: 5
Mereka berusaha membujuk Rasulullah untuk meninggalkan ajakan ini dan membiarkan mereka menyembah berhala. Mereka menggunakan segala cara untuk melakukannya; kadang-kadang dengan bujukan dan kadang-kadang dengan intimidasi. Ayat-ayat Allah diturunkan kepada beliau menyerukan tauhid ini, membantah syubhat-syubhat kaum musyrik, dan menegakkan bukti-bukti yang membongkar kebatilan yang mereka lakukan.
Al-Qur’an menggunakan berbagai cara dalam menyerukan tauhid al-uluhiyyah. Di antaranya adalah:
1. Berupa perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyembah-Nya dan meninggalkan penyembahan selain Dia; sebagaimana dalam firman-Nya,
وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَيۡـًٔا
Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun!
QS An-Nisa’: 36
2. Di antaranya berupa pemberitahuan-Nya subhanahu wa ta’ala bahwa Dia menciptakan makhluk untuk menyembah-Nya; sebagaimana dalam firman Allah taala,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.
QS Az-Zariyat: 56
3. Di antaranya berupa pemberitahuan Allah bahwa Dia telah mengutus semua rasul dengan seruan untuk beribadah kepada-Nya dan melarang beribadah kepada selain-Nya; sebagaimana firman Allah taala,
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang berkata, “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”
QS An-Nahl: 36
4. Di antaranya berupa pembuktian tauhid al-uluhiyyah dengan keesaan Allah dalam hal kekuasaan, penciptaan, dan pengaturan; sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ …
Wahai manusia, sembahlah Rab kalian, yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian …
QS Al-Baqarah: 21
5. Di antaranya berupa pengambilan dalil kewajiban untuk menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dengan keesaan-Nya dalam sifat-sifat kesempurnaan dan ketiadaan sifat-sifat tersebut pada tuhan-tuhan kaum musyrik; sebagaimana dalam firman Allah taala,
فَٱعۡبُدۡهُ وَٱصۡطَبِرۡ لِعِبَٰدَتِهِۦ ۚ هَلۡ تَعۡلَمُ لَهُۥ سَمِيًّا
Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam menyembah-Nya. Apakah kamu mengetahui sesuatu yang setara dengan Dia?
QS Maryam: 65
Dan firman Allah tentang khalilullah Ibrahim ‘alaihis-salam bahwa ia berkata kepada ayahnya,
يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعۡبُدُ مَا لَا يَسۡمَعُ وَلَا يُبۡصِرُ وَلَا يُغۡنِى عَنكَ شَيۡـًٔا
Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat memberikan manfaat kepadamu sama sekali?
QS Maryam: 42
6. Di antaranya adalah menerangkan kelemahan tuhan-tuhan kaum musyrik, sebagaimana firman Allah Taala,
أَيُشۡرِكُونَ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـًٔا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرًا وَلَآ أَنفُسَهُمۡ يَنصُرُونَ
Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.
QS Al-A’raf: 191-192
Dan firman Allah taala,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَٱسۡتَمِعُوا۟ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُوا۟ ذُبَابًا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ وَإِن يَسۡلُبۡهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيۡـًٔا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُ ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلۡمَطۡلُوبُ
Hai manusia, suatu perumpamaan telah dibuat, maka dengarkanlah oleh kalian perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.
QS Al-Hajj: 73
7. Di antaranya adalah menerangkan bodohnya kaum musyrik yang menyembah selain Allah, sebagaimana dalam firman Allah taala,
قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـًٔا وَلَا يَضُرُّكُمۡ أُفٍّ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Ibrahim berkata: Maka mengapa kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kalian? Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka apakah kalian tidak memahami?
QS Al-Anbiya’: 66-67
8. Di antaranya adalah menjelaskan nasib orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah dan menjelaskan akhir keadaan mereka bersama tuhan-tuhan yang mereka sembah. Bahwa nanti sesembahan itu akan mengingkari mereka pada saat situasi yang paling genting; sebagaimana dalam firman-Nya,
وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُوا۟ لَهُمۡ أَعۡدَآءً وَكَانُوا۟ بِعِبَادَتِهِمۡ كَٰفِرِينَ
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.
QS Al-Ahqaf: 5-6
Dan firman Allah taala,
وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِىٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِى بِحَقٍّ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai ‘Isa putra Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?”
‘Isa menjawab, “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).”
QS Al-Maidah: 116
9. Di antaranya adalah jawaban Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang-orang musyrik yang mengambil perantara antara mereka dan Allah, bahwa syafaat adalah milik-Nya subhanahu wa ta’ala. Syafaat tidak dicari kecuali dari-Nya dan tidak ada seorang pun yang bisa memberi syafaat kecuali dengan izin-Nya setelah keridaan-Nya terhadap orang yang dimohonkan syafaatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
أَمِ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُفَعَآءَ ۚ قُلۡ أَوَلَوۡ كَانُوا۟ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡـًٔا وَلَا يَعۡقِلُونَ قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًا ۖ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ
Bahkan mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal?”
Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi.”
QS Az-Zumar: 43-44
Dan firman Allah,
وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِى شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali sesudah Allah ijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-Nya.
QS An-Najm: 26
Demikianlah, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam ayat-ayat ini bahwa syafaat hanya milik-Nya semata. Syafaat tidak dimohonkan kecuali dari-Nya dan syafaat tidak terwujud kecuali setelah izin-Nya kepada pemberi syafaat dan rida-Nya kepada orang yang dimohonkan syafaat.
10. Di antaranya adalah Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa sembahan selain Dia tidak mendatangkan manfaat apa pun bagi orang-orang yang menyembahnya dan siapa saja yang keadaannya seperti ini, maka ia tidak layak disembah, sebagaimana firman Allah taala,
قُلِ ٱدۡعُوا۟ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۖ لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَهُمۡ فِيهِمَا مِن شِرۡكٍ وَمَا لَهُۥ مِنۡهُم مِّن ظَهِيرٍ
Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit dan di bumi. Mereka juga tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.
QS Saba’: 22
11. Di antaranya adalah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan banyak contoh dalam Al-Qur’an yang menjelaskan batilnya kesyirikan. Contohnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,
وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ أَوۡ تَهۡوِى بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ
Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.
QS Al-Hajj: 31
Allah subhanahu wa ta’ala menyerupakan tauhid dari sisi ketinggian, keluasan, dan kemuliaannya dengan langit. Allah menyerupakan orang yang meninggalkan tauhid dengan orang yang jatuh dari langit ke tempat yang paling rendah, karena ia telah jatuh dari ketinggian iman ke dasar kekafiran. Allah menyerupakan setan-setan yang mengganggunya dengan burung-burung yang mencabik-cabik anggota tubuhnya. Allah menyerupakan hawa nafsunya yang menjauhkannya dari kebenaran dengan angin yang menerbangkannya ke tempat yang jauh.
Ini hanyalah satu contoh di antara banyak contoh dalam Al-Quran, yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menunjukkan batilnya kesyirikan dan kerugian orang musyrik di dunia dan akhirat.
Apa yang telah kami sajikan di sini tentang metode Al-Qur’an dalam menyeru kepada tauhid al-uluhiyyah dan menerangkan batilnya kesyirikan hanyalah sebagian kecil. Seorang muslim hanya perlu membaca Al-Qur’an dengan tadabur untuk mendapatkan kebaikan yang banyak, dalil yang meyakinkan, dan bukti yang jelas yang akan meneguhkan akidah tauhid ke dalam hati orang beriman dan mencabut semua syubhat dari hatinya.
Khotbah Kedua
Wahai hamba-hamba Allah, di antara nikmat terbesar yang harus diingat oleh setiap muslim, disyukuri kepada Allah, dan diusahakan untuk tetap teguh di atasnya adalah nikmat Islam dan sunah.
لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولًا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُوا۟ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
QS Ali Imran: 164
Lihatlah kepada agama-agama kafir. Lihatlah kepada penganut agama Kristen yang kebingungan dan telah menyimpang dari jalan yang benar, sehingga menjadikan tiga tuhan, menjadikan para alim dan orang suci sebagai tuhan selain Allah, dan menjadikan ‘Isa sebagai anak Allah. Atau lihatlah penganut agama Yahudi yang membuat kehancuran dan mendatangkan kerusakan di bumi, menyulut api fitnah, melanggar perjanjian dengan Allah, dan mempermainkan nas-nas kitabnya sampai mengubah dari tempat-tempatnya.
Atau penganut agama Majusi yang menyembah api dan menjadikan dua dewa untuk kebaikan dan kejahatan. Atau orang-orang Hindu yang menyembah sapi dan hewan. Atau kaum Shabiin yang menyembah planet dan bintang, dan meyakini pengaruhnya terhadap bumi. Mereka bahkan sampai menyembah setan yang terkutuk.
Lalu lihatlah bagaimana Allah menyelamatkanmu dari kesesatan dan kekufuran ini serta bagaimana Allah membuatmu benar-benar menyembah Rab bumi dan langit? Itu adalah nikmat terbesar dan karunia yang paling agung, terlebih khusus lagi bahwa Allah telah menyelamatkanmu dari hawa nafsu dan bidah serta penyelisihan mereka dari kebenaran, kemudian membimbingmu ke jalan yang lurus dan jalan-Nya yang benar.
Dari Mujahid, dia berkata, “Aku tidak tahu nikmat mana yang lebih besar: bahwa Allah membimbingku kepada Islam atau bahwa Allah menyelamatkanku dari hawa nafsu-hawa nafsu ini.”
Allah taala berfirman,
قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَيۡرٌ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
QS Yunus: 58
Alamah Ibnu Al-Qayyim berkata, “Pendapat-pendapat para salaf menafsirkan bahwa karunia dan rahmat Allah adalah Islam dan sunah. Kehidupan hati seseorang sesuai dengan kebahagiaan hati terhadap dua hal tersebut. Semakin kuat seseorang berpegang pada Islam dan sunah, semakin besar kebahagiaan hatinya. Sampai-sampai, hati seseorang yang paling sedih sekali pun bisa menari gembira ketika merasakan semangat sunah. Hati seseorang yang paling takut sekali pun akan dipenuhi dengan rasa aman.”
Bersama kemuliaan dan kedudukan yang dimiliki oleh nikmat ini, kita dapati di antara kaum muslimin ada yang menghinakan dirinya di hari-hari ini dengan mengucapkan selamat kepada orang-orang Kristen pada hari-hari raya mereka yang kufur, yang mereka menyatakan Allah memiliki anak, padahal Allah Maha Suci dan Maha Tinggi dari apa yang dikatakan oleh orang-orang Kristen. Maka, pertahankanlah agamamu, wahai Muslim, dan ketahuilah bahwa merayakan tahun baru atau mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir adalah termasuk perbuatan yang haram dan tidak boleh dianggap remeh.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata dalam kitabnya yang agung Ahkam Ahlidz-Dzimmah:
Mengucapkan selamat kepada mereka atas syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama. Contohnya adalah mengucapkan selamat kepada mereka pada hari raya mereka, seperti mengatakan: “Hari rayamu diberkahi” atau “Selamat hari raya”. Atau dengan ucapan-ucapan yang kita dengar sekarang. Jika orang yang mengucapkan ini selamat dari kekufuran–kita berlindung kepada Allah–, maka itu masih termasuk perbuatan yang haram. Hal ini sama seperti mengucapkan selamat kepada seseorang yang sujud kepada salib. Bahkan ini lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada mengucapkan selamat kepada orang yang minum khamar, membunuh jiwa, atau melakukan zina, dan sebagainya. Barang siapa yang mengucapkan selamat kepada seseorang atas perbuatan maksiat, bidah, atau kekufuran, maka dia telah menantang kemurkaan dan kemarahan Allah.
Sumber:
