Gambaran Kenikmatan Surga yang Tidak Pernah Terlintas di Hati Manusia #Bagian 2

Gambaran Kenikmatan Surga yang Tidak Pernah Terlintas di Hati Manusia #Bagian 2

2 weeks yang lalu
Gambaran Kenikmatan Surga yang Tidak Pernah Terlintas di Hati Manusia #Bagian 2

Buah-Buahan Di Surga 

Allah ta’ala berfirman 

كُلَّمَا رُزِقُوا۟ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةࣲ رِّزۡقࣰا قَالُوا۟ هَـٰذَا ٱلَّذِی رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُوا۟ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهࣰاۖ

“Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami SEBELUMNYA”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa.” (QS: Al Baqarah: 25)

Ada 3 Tafsiran Tentang “Sebelumya”, sebagaimana dijelaskan Al Qurthubi rahimahullah:

Pertama, rezeki yang sebelumnya dijanjikan di dunia.

Kedua, rezeki yang sebelumnya didapatkan di dunia. Warna & bentuknya mirip, tapi rasanya berbeda.

Ketiga, rezeki yang mereka dapatkan sebelumnya di surga. Mereka senantiasa dapat buah-buahan yang mirip, tapi rasanya berbeda-beda.

Al Qurthubi rahimahullah berkata 

وَمَعْنَى (مِنْ قَبْلُ) يَعْنِي فِي الدُّنْيَا، وَفِيهِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا- أَنَّهُمْ قَالُوا هَذَا الَّذِي وُعِدْنَا بِهِ فِي الدنيا. والثاني- هذا الذي رزقنا الدُّنْيَا، لِأَنَّ لَوْنَهَا يُشْبِهُ لَوْنَ ثِمَارِ الدُّنْيَا، فَإِذَا أَكَلُوا وَجَدُوا طَعْمَهُ غَيْرَ ذَلِكَ وَقِيلَ: “مِنْ قَبْلُ” يَعْنِي فِي الْجَنَّةِ لِأَنَّهُمْ يُرْزَقُونَ ثُمَّ يُرْزَقُونَ، فَإِذَا أُتُوا بِطَعَامٍ وَثِمَارٍ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فَأَكَلُوا مِنْهَا، ثُمَّ أُتُوا مِنْهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ قَالُوا: هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ، يَعْنِي أُطْعِمْنَا فِي أَوَّلِ النَّهَارِ، لِأَنَّ لَوْنَهُ يُشْبِهُ ذَلِكَ، فَإِذَا أَكَلُوا مِنْهَا وَجَدُوا لَهَا طَعْمًا غَيْرَ طَعْمِ الْأَوَّلِ.

“Makna “(مِنْ قَبْلُ)” yaitu sebelumnya, maksudnya di dunia. Dalam hal ini ada 2 penafsiran:

Pertama, “Inilah yang dahulu telah dijanjikan kepada kami di dunia.”

Kedua, “Inilah yang dahulu diberikan kepada kami di dunia,” karena warna buah-buahan surga itu mirip dengan warna buah-buahan dunia. Namun ketika mereka memakannya, mereka mendapati rasanya berbeda.

Dan dikatakan pula bahwa makna “(مِنْ قَبْلُ)” yaitu di surga, karena  mereka diberi rezeki lalu diberi rezeki lagi. Maka apabila mereka didatangkan makanan dan buah-buahan pada awal siang, lalu mereka memakannya, kemudian didatangkan lagi kepada mereka pada akhir siang, mereka berkata: “Inilah yang telah diberikan kepada kami sebelumnya,” maksudnya: yang telah kami makan pada awal siang, karena warnanya serupa namun ketika mereka memakannya, mereka mendapati rasanya berbeda dengan rasa yang pertama.” (Tafsir Al Qurthubi)

Pasangan Di Surga

وَلَهُمۡ فِیهَاۤ أَزۡوَ ٰ⁠جࣱ مُّطَهَّرَةࣱۖ

“Dan disana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci.” (QS Al Baqarah: 25)

Selain tempat yang istimewa dan makanan yang istimewa, penduduk surga pun mendapatkan teman yang istimewa. Pasangan yang suci, belum pernah tersentuh sama sekali. Dalam ayat yang lain Allah sebutkan

{ فِیهِنَّ قَـٰصِرَ ٰ⁠تُ ٱلطَّرۡفِ لَمۡ یَطۡمِثۡهُنَّ إِنسࣱ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَاۤنࣱّ }

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” [QS Ar-Raḥmān: 56]

As Sa’di rahimahullah berkata 

﴿وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ﴾ فلم يقل ” مطهرة من العيب الفلاني ” ليشمل جميع أنواع التطهير، فهن مطهرات الأخلاق، مطهرات الخلق، مطهرات اللسان، مطهرات الأبصار، فأخلاقهن، أنهن عرب متحببات إلى أزواجهن بالخلق الحسن، وحسن التبعل، والأدب القولي والفعلي، ومطهر خلقهن من الحيض والنفاس والمني، والبول والغائط، والمخاط والبصاق، والرائحة الكريهة، ومطهرات الخلق أيضا، بكمال الجمال، فليس فيهن عيب، ولا دمامة خلق، بل هن خيرات حسان، مطهرات اللسان والطرف، قاصرات طرفهن على أزواجهن، وقاصرات ألسنتهن عن كل كلام قبيح.

“Dan disana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci.” 

Allah tidak berfirman, “disucikan dari cacat tertentu”, agar maknanya mencakup seluruh bentuk kesucian.

Mereka adalah pasangan yang:

# Suci akhlaknya,

# Suci penciptaannya (fisiknya),

# Suci lisannya,

# Suci pandangannya.

Akhlak mereka: para istri yang penuh cinta kepada suami, berperangai baik, pandai bergaul, serta beradab dalam ucapan dan perbuatan.

Fisik mereka disucikan dari haid, nifas, mani, air kencing, kotoran, lendir, ludah, dan bau tidak sedap.

Mereka juga disucikan dari sisi rupa: sempurna kecantikannya, tidak ada cela dan tidak ada keburukan bentuk; bahkan mereka adalah wanita-wanita yang baik lagi cantik.

Lisan dan pandangan mereka pun disucikan: mereka menundukkan pandangan hanya kepada suami-suami mereka, dan menahan lisan dari setiap perkataan yang buruk dan tercela.” (Tafsir as Sa’di)

Nikmat Yang Kekal Abadi

وَهُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ }

“Dan mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah: 25)

Kenikmatan-kenikmatan tersebut semakin lengkap dan indah dengan kekalnya nikmat tersebut dirasakan. Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

هَذَا  هُوَ تَمَامُ السَّعَادَةِ، فَإِنَّهُمْ مَعَ هَذَا النَّعِيمِ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ مِنَ الْمَوْتِ وَالِانْقِطَاعِ فَلَا آخِرَ لَهُ وَلَا انْقِضَاءَ، بَلْ فِي نَعِيمٍ سَرْمَدِيٍّ أَبَدِيٍّ على الدوام، والله المسؤول أَنْ يَحْشُرَنَا فِي زُمْرَتِهِمْ، إِنَّهُ جَوَادٌ كَرِيمٌ، بر رحيم.

“Inilah kesempurnaan kebahagiaan. Sesungguhnya mereka, dengan segala kenikmatan ini, berada di tempat yang aman dari kematian dan aman dari terputusnya kenikmatan; sehingga tidak ada akhir baginya dan tidak ada habisnya. Bahkan mereka berada dalam kenikmatan yang terus-menerus, kekal dan abadi selama-lamanya. Kepada Allah kita memohon agar mengumpulkan kita dalam golongan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia, Maha Baik lagi Maha Penyayang.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Tidak seperti nikmat di dunia, yang hanya dirasakan sementara saja. Semua nikmat akan berakhir dengan kematian. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَكثروا ذِكرَ هاذمِ اللَّذَّات يعني الموتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan yaitu kematian” (HR Tirmidzi)

Tak ada kematian di surga, penduduknya kekal abadi selamanya di dalam kenikmatan.

إذا صارَ أهْلُ الجَنَّةِ إلى الجَنَّةِ، وأَهْلُ النَّارِ إلى النَّارِ، جِيءَ بالمَوْتِ حتَّى يُجْعَلَ بيْنَ الجَنَّةِ والنَّارِ، ثُمَّ يُذْبَحُ، ثُمَّ يُنادِي مُنادٍ: يا أهْلَ الجَنَّةِ لا مَوْتَ، ويا أهْلَ النَّارِ لا مَوْتَ، فَيَزْدادُ أهْلُ الجَنَّةِ فَرَحًا إلى فَرَحِهِمْ، ويَزْدادُ أهْلُ النَّارِ حُزْنًا إلى حُزْنِهِمْ.

“Apabila penghuni syurga telah masuk ke surga dan penghuni neraka telah masuk ke neraka, maka kematian didatangkan lalu diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Setelah itu seorang penyeru berseru: ‘Wahai penghuni surga, tidak ada lagi kematian!’ dan ‘Wahai penghuni neraka, tidak ada lagi kematian!’ Maka bertambahlah kegembiraan penghuni surga di atas kegembiraan mereka, dan bertambahlah kesedihan penghuni neraka di atas kesedihan mereka.” (Muttafaqun alaihi)

Hakikat Surga, Lebih Sempurna

Satu hal yang perlu kita ketahui: Ayat-ayat al Qur’an, hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan penjelasan para ulama tentang kondisi surga & kenikmatanNya, adalah gambaran yang masing-masing manusia di setiap waktu, tempat & pengalaman mungkin bisa memikirkan yang berbeda-beda.

Hakikat kenikmatan-kenikmatan surga tersebut jauh lebih sempurna dari segala yang dipikirkan manusia tentangnya. Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: ﴿فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ﴾ [السجدة: 17]. متفق عليه.

“Aku menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh, balasan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, juga tidak pernah terlintas dalam hati seorangpun”. (Muttafaqun alaihi)

Semoga Allah memberikan kita Taufik & semangat untuk beramal shalih & Istiqomah serta memasukkan kita semua ke JannahNya. Aamiin yaa mujiibassaailiin.

Ditulis oleh Ustadz: Amrullah Akadhinta, S.T. hafidzhahullah

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link