Menangis Karena Anak Meninggal, Apakah Termasuk Protes terhadap Takdir?

Menangis Karena Anak Meninggal, Apakah Termasuk Protes terhadap Takdir?

11 hours yang lalu
Menangis Karena Anak Meninggal, Apakah Termasuk Protes terhadap Takdir?

Bismillah walhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Ujian wafatnya buah hati memang ujian yang berat. Oleh karenanya tulisan ini kami buka dengan doa dukungan untuk mereka yang mendapat ujian ini semoga Allah memberikan pahala atas musibah yangalamal ia alami, menggantinya dengan yang lebih baik, memberikan kesabaran, serta melipatgandakan pahala untuknya Ada sebuah kabar gembira bagi siapa saja yang merespon musibah dengan ridho, tabah dan sabar, sebuah janji Allah khusus untuk mereka yang diuji lalu bersabar:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Terkait dengan tangisan karena wafatnya anak, berikut adalah beberapa poin penjelasan dari sudut pandang syariat:

Pertama, Sedih dan Menangis Bukanlah Bentuk Protes

Jika seorang telah bersabar dan mengharap pahala dari musibah yang ia alami, maka sekadar rasa sedih di hati dan tetesan air mata bukanlah bentuk protes terhadap takdir Allah. Hal ini tidak menafikan kesabaran dan tidak mengurangi pahala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah menangis saat putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia. Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا

“Sesungguhnya mata itu menangis dan hati itu bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami.” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini sekaligus penguat untuk siapa saja yang diuji dengan ujian ini, Bahwa manusia terbaik dan hamba Allah paling Allah cintai, pernah mengalami ujian yang sama. Cukuplah ini sebagai energi untuk tabah dan ridha kepada takdir Allah ‘azza wa jalla.

Yang dilarang dan dapat menggugurkan pahala adalah tangisan yang disertai dengan niyahah (meratap), seperti menjerit-jerit, memukul-mukul pipi, merobek pakaian, atau mengucapkan kata-kata yang menunjukkan ketidak ridhoan atas keputusan Allah.

Kedua, Menangis Sebagai Tanda Rahmat

Alhamdulillah, tangisan yang karena berpisah dengan anak adalah tangisan sebagai tanda rahmat. Seperti tangisnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditinggal wafat putranya; tangis yang muncul dari naluri manusia. Mari kita simak hadis berikut:

دَخَلْنَا مع رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى أَبِي سَيْفٍ القَيْنِ، وكانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عليه السَّلَامُ، فأخَذَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إبْرَاهِيمَ، فَقَبَّلَهُ، وشَمَّهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا عليه بَعْدَ ذلكَ وإبْرَاهِيمُ يَجُودُ بنَفْسِهِ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ تَذْرِفَانِ، فَقالَ له عبدُ الرَّحْمَنِ بنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه: وأَنْتَ يا رَسولَ اللَّهِ؟ فَقالَ: يا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ، ثُمَّ أَتْبَعَهَا بأُخْرَى، فَقالَ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، والقَلْبَ يَحْزَنُ، ولَا نَقُولُ إلَّا ما يَرْضَى رَبُّنَا، وإنَّا بفِرَاقِكَ يا إبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ.

Kami masuk bersama Rasulullah ﷺ menemui Abu Saif al-Qain, yang merupakan suami dari ibu susuan Ibrahim (putra Nabi) ‘alaihissalam. Rasulullah ﷺ kemudian mengambil Ibrahim, menciumnya, dan menghirup aromanya.

Kemudian kami masuk lagi menemuinya setelah itu, sementara Ibrahim dalam keadaan sakaratul maut (nafasnya tersengal-sengal). Maka kedua mata Rasulullah ﷺ pun meneteskan air mata.

Melihat hal itu, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu bertanya: ‘Bahkan Anda juga menangis, wahai Rasulullah?’

Beliau menjawab:

يا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ، ثُمَّ أَتْبَعَهَا بأُخْرَى

 “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (rasa kasih sayang).”

Kemudian beliau melanjutkan dengan kalimat lainnya:

إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، والقَلْبَ يَحْزَنُ، ولَا نَقُولُ إلَّا ما يَرْضَى رَبُّنَا، وإنَّا بفِرَاقِكَ يا إبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ.

“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kami. Dan sungguh, kami sangat bersedih dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)

Karena tangisan seperti itu adalah tanda rahmat, maka tidaklah berlebihan jika dipahami bisa bernilai pahala. Karena ada hadits shahih yang menyatakan bahwa orang yang penyayang di dunia ini akan disayang oleh Yang Maha Penyayang; Allah ‘Azza wa Jalla.

الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ.

“Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) Tabaraka wa Ta’ala. Kasihilah siapa yang ada di bumi, niscaya Yang ada di langit akan mengasihimu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dari hadis ini terbentuklah kaidah Islam dikenal al-jaza’ min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan jenis perbuatannya). Siapa yang memberi kasih sayang kepada makhluk, akan menerima kasih sayang dari Sang Khaliqnya.

Ketiga, Bertemu di Akhirat

Para ulama menjelaskan bahwa anak-anak yang meninggal sebelum usia baligh akan menjadi tabungan (dzukhr) bagi orang tuanya di akhirat. Mereka akan menunggu orang tuanya di pintu surga dan memberikan syafaat dengan izin Allah, asalkan orang tuanya bersabar dan rida. Mari kita simak hadis yang amat menenangkan berikut ini:

لَا يَمُوتُ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ تَمَسُّهُ النَّارُ إِلَّا تَحِلَّةَ الْقَسَمِ

“Tidaklah salah seorang dari kaum muslimin ditinggal mati oleh tiga anaknya, lalu ia menyentuh api neraka kecuali sekadar melaksanakan sumpah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tahillatal Qosam (sekedar melaksanakan sumpah maksudnya: hanya melewati di atasnya saat melewati Shirath; jembatan tipis, licin yang dibentangkan di atas neraka. (Sumber: dorarDnet-Syaikh Abdul Qadir As-Saqof).

Lalu hadis lainnya, dari Abu Hassan, ia berkata kepada Abu Hurairah:

إنه قد مات لي ابنان، فما أنت محدثي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم بحديث تطيب به أنفسنا عن موتانا؟ قال: نعم، «صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ، يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ -أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ- فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ… فَلَا يَتَنَاهَى حَتَّى يُدْخِلَهُ اللهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ»

“Dua anakku telah meninggal, apakah engkau punya hadis dari Rasulullah ﷺ yang bisa menghibur jiwa kami?” Abu Hurairah menjawab: “Ya, anak-anak kecil mereka adalah ‘da’amish’ (penghuni kecil/anak emas) surga. Salah seorang dari mereka menemui ayahnya lalu memegang pakaiannya… dan ia tidak melepaskannya hingga Allah memasukkan dirinya dan ayahnya ke dalam surga.” (HR. Muslim).

Jadi, tangisan yang mengalir secara alami tanpa disertai ratapan adalah hal yang manusiawi dan tidak berdosa. Teruslah berdoa memohon ketabahan dan yakinlah bahwa Allah telah menyiapkan tempat yang mulia bagi para orang tua yang bersabar atas kehilangan buah hatinya.

Wallahu a’lam.

Ditulish Oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link