Hijaukan Aceh dan Sumatera dengan Menanam Pohon, Panen Pahala Jariyah
![]()
Bismillah, walhamdulillah, was-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.
Saudaraku yang hatinya peka terhadap keindahan ciptaan Allah. Seringkali kita memandang pohon hanya sebatas kayu yang bernilai rupiah, atau sekadar peneduh di kala terik. Padahal, setiap batang pohon yang berdiri di tanah Nusantara ini adalah entitas mulia yang sedang menjalankan tugas suci: menghamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjaga nyawa sesama makhluk.
Berikut adalah alasan mengapa menghijaukan kembali tanah air kita adalah ibadah yang bernilai pahala nan agung:
- Memperbanyak “Ahli Sujud” di Muka Bumi
Kita harus menyadari bahwa pohon bukanlah benda mati. Mereka adalah makhluk yang bersujud dan bertasbih dengan cara yang tidak kita pahami. Allah Ta’ala menegaskan:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ… وَالشَّجَرُ
“Tidakkah kamu tahu bahwa kepada Allah-lah bersujud apa yang ada di langit, di bumi… dan pohon-pohonan…” (QS. Al-Hajj: 18).
Saat Anda menanam satu bibit, Anda sebenarnya sedang “mendirikan” ahli sujud baru di muka bumi. Menghijaukan Nusantara berarti memperbanyak tasbih di atas tanah kita. Bayangkan betapa berkahnya sebuah negeri yang di setiap jengkal tanahnya terdapat makhluk-makhluk yang senantiasa mengagungkan nama Allah.
- Menanam dan Merawat Pohon adalah Bagian dari Memakmurkan Bumi
Menanam pohon adalah bagian dari Imaratul Ardh (memakmurkan bumi) yang merupakan tujuan daripada syariat Islam, yang ditunjukkan dalam salah satu dari lima visinya (ad-Dharuriyyatul Khams) yaitu; menjaga nyawa. Dan juga dipertegas di dalam firman Allah ta’ala:
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakan kalian dari tanah (bumi) dan memberi kalian amanah untuk memakmurkannya.” (QS. Hud: 61)
Oleh karenanya Islam melarang keras perusakan alam (al-ifsad fil ardh). Allah berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Ada penjelasan menarik dari Imam Al-Qurthubi rahimahullah tentang makna ayat ini:
أنه سبحانه نهى عن كل فساد قل أو كثر بعد صلاح قل أو كثر
“Allah; yang maha suci, telah melarang segala bentuk kerusakan, baik kecil maupun besar, yang dilakukan setelah adanya perbaikan, baik kecil maupun besar.”
Lalu beliau menukil pernyataan dari salah seorang ulama salaf; Ad-Dhahaq rahimahullah yang amat relevan dengan upaya-upaya merusak hutan akhir-akhir ini:
معناه لا تغوروا الماء المعين ، ولا تقطعوا الشجر المثمر ضرارا .
“Maknanya: janganlah kalian menyurutkan sumber mata air yang mengalir, dan janganlah kalian menebang pepohonan yang berbuah demi tujuan merusak.” (Tafsir Al-Qurtubi, diakses dari quran.ksu.edu.sa)
Allah membenci perilaku merusak bumi:
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Allah tidak mencintai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205)
Sebagaimana Allah murka kepada pelaku kerusakan:
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan Allah tidak senang dengan mereka yang melakukan kerusakan.” (QS. Al-Ma’idah: 64 dan Al-Qashash: 77)
Setiap pohon yang kita tanam di lereng yang gundul atau di bantaran sungai adalah upaya “perlawanan” terhadap bencana. Akar pohon adalah pasak bumi yang mencegah longsor, dan tajuknya adalah payung yang menahan laju air hujan agar tak menjadi banjir bandang. Menanam pohon, dalam konteks ini, adalah upaya menyelamatkan nyawa banyak makhluk.
- Sedekah “Oksigen” yang Tak Terputus oleh Maut
Setiap makhluk yang mengambil manfaat dari pohon Anda—baik manusia yang menghirup oksigennya, burung yang bersarang di dahannya, hingga pencuri yang mengambil buahnya—semuanya tercatat sebagai sedekah jariyah. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا… إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon… melainkan hal itu bernilai sedekah baginya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Bahkan, pahala ini akan terus mengalir meskipun pohon tersebut telah berpindah kepemilikan atau Anda telah wafat, selama manfaatnya masih dirasakan. Ini adalah investasi akhirat yang akan terus “bekerja” saat Anda sudah tak lagi mampu beramal.
- Menanam, Perintah yang Tak Mengenal Kata Terlambat
Betapa tingginya urgensi menanam sampai Nabi ﷺ memerintahkan kita tetap menanam meskipun kiamat sudah di depan mata:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ… فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang kalian ada bibit pohon… hendaknya ia menanamnya.” (HR. Ahmad).
Hadis ini mengajarkan optimisme iman. Seorang mukmin tidak menanam karena ingin segera melihat hasilnya, melainkan karena ia ingin tercatat sebagai hamba yang taat hingga hembusan nafas terakhir.
Rangkuman Mutiara Hikmah Menghijaukan Nusantara
| Dimensi | Keutamaan Bagi Seorang Mukmin |
| Spiritual | Menambah jumlah “hamba Allah” yang bertasbih di bumi Nusantara. |
| Kemanusiaan | Menjaga ekosistem dari banjir dan longsor demi keselamatan nyawa sesama. |
| Amal Jariyah | Menyediakan sumber pangan dan kebermanfaatan yang pahalanya mengalir terus selama masih dimanfaatkan. |
| Etika (Adab) | Menunjukkan adab yang baik kepada Allah dengan merawat ciptaan-Nya. |
Kesimpulan dan Nasihat
Saudaraku, mari kita kembalikan kehijauan tanah air kita. Nusantara ini adalah titipan agung yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Jangan biarkan ketamakan memutus tasbih pepohonan di hutan-hutan kita.
Hari ini, jadikanlah tanganmu saksi di hadapan Allah bahwa engkau pernah mencoba mengobati luka bumi. Ambillah bibit itu, benamkan dengan doa dan cinta. Mungkin pohon itu tampak sunyi di matamu, tapi di langit, ia adalah ‘ahli sujud’ yang memohonkan ampunan bagimu melalui setiap oksigen yang dihembuskan ke alam semesta.
Ayo, jaga hutan dan hijaukan kembali Nusantara, sebelum bumi benar-benar kehilangan nafas tasbihnya.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Ditulis Oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

