Ramadhan Fokus Tilawah: Khatam Al-Qur’an, Tadabbur, dan Tetap Belajar Ilmu Syari
![]()
Setiap kali Ramadhan tiba, muncul pertanyaan di kalangan penuntut ilmu:
Apakah sebaiknya berhenti dulu dari aktivitas belajar dan mengajar, lalu fokus sepenuhnya membaca Al-Qur’an? Ataukah tetap melanjutkan kegiatan ilmiah seperti biasa sambil memperbanyak tilawah?
Pertanyaan ini penting, karena Ramadhan adalah bulan istimewa, dan waktu di dalamnya sangat berharga.
Sebagian ulama salaf, seperti Imam Malik -rahimahullah-, ketika masuk Ramadhan meninggalkan majelis hadits dan lebih banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mengatakan, “Ini adalah bulan Al-Qur’an,” sebagaimana firman Allah:
{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ}
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Namun, Hal Ini Perlu Dipahami Dengan Benar.
Yang dimaksud para salaf adalah benar-benar fokus beribadah dan memperbanyak tilawah, bukan menjadikan Ramadhan alasan untuk meninggalkan amal saleh lalu menggantinya dengan tidur atau kelalaian.
Meniru mereka dalam “meninggalkan” itu mudah.
Tetapi meniru mereka dalam “kesungguhan ibadah” itulah yang sulit.
Jika seseorang mampu benar-benar mengisi Ramadhan dengan tilawah yang banyak, qiyamul lail, tadabbur, dan ibadah lainnya, maka itu sangat baik.
Namun jika ia tetap belajar, mengajar, berdakwah, atau bekerja dengan niat yang benar, itu juga termasuk ibadah. Bahkan mengajar dan menuntut ilmu adalah amal yang sangat mulia.
Jadi bukan soal “ibadah atau ilmu”.
Keduanya Adalah Ibadah.
Yang salah adalah menjadikan Ramadhan sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Kesimpulannya, penuntut ilmu hendaknya memperbanyak Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Jika mampu fokus penuh dengan tetap menjaga kualitas ibadah, itu baik. Jika tetap melanjutkan kegiatan ilmiah sambil menambah porsi tilawah, itu pun baik.
Yang terpenting adalah kejujuran niat dan kesungguhan dalam beramal.
Ramadhan bukan bulan kemalasan, tetapi bulan peningkatan amal.
Ya Allah, jadikan Ramadhan ini sebagai bulan perubahan bagi kami.
Karuniakan kepada kami keikhlasan dalam menuntut ilmu dan beribadah.
Jadikan Al-Qur’an cahaya dalam hati kami dan penolong di hari kami kembali kepada-Mu.
Ampuni dosa kami dan terimalah amal kami.
Aamiin.
Ditulis oleh Ustadz Nurhadi Nugroho, hafidzhohulloh
Disusun sesuai penjelasan Syaikh Abdul Karim Al-Khudloir -hafidzahullah-


