DEFENISI TAUHID
Defenisi
Tauhid, (تَوْحِيْد) menurut bahasa (arab) adalah merupakan bentuk mashdar dari fi’il (kata kerja) وَحَّدَ – يُوَحِّدُ yang bermakna menjadikan sesuatu satu saja.
Ada sebahagian kalangan menganggap, bahwa lafadz/kata “tauhid”, hanyalah dipopulerkan oleh syaikhul islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-, dan para pengikutnya. Ini merupakan kesalahan fatal, sebab lafadz/kata “tauhid” dan pecahan kata tersebut, telah masyhur didalam sunnah, disebutkan dalam berbagai hadits. Diantaranya, adalah hadits Jabir -radhiyallahu anhu- bahwa Nabi shallalahu alaihi wasallam :
فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ
“(Beliau) bertahlil dengan TAUHID”
Yakni beliau membaca :
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
“LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNALHAMDA WAN NI’MATA LAKA WALMULKU LAA SYARIIKA LAKA [1]
Demikian pula sabda Nabi :
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ
“Islam dibangun di atas lima dasar: Yaitu agar MENTAUHIDKAN Allah…”[2]
Sehingga, lafadz/kata “tauhid”, adalah lafadz syar’i, dan bukanlah sesuatu yang baru, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang jahil.[3].
Adapun secara istilah (syar’i) :
إفراد الله تعالى بما يختص به من الألوهية والربوبية والأسماء والصفات .
“Meng-esa-kan Allah Ta’ala dengan apa-apa yang menjadi kekhususan bagi-Nya, berupa uluhiyah, rububiyah dan asma was shifat” [4].
Diantara ulama, adapula yang mendefenisikan tauhid secara khusus dengan penekanan pada sisi uluhiyah, yaitu :
إفراد الله بالعبادة
“Meng-esa-kan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah”
Kandungannya, hendaklah beribadah hanya kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan itu merupakan tauhid yang semua Rasul diutus untuk merealisasikannya [5].
Insya Allah bersambung….
Allohu Ta’ala a’lam
Ustadz Hilal Abu Naufal -hafizahulloh-
[Pengasuh Ponpes Darul Furqon]
Telegram : https://t.me/hilalpalopo
Instagram : instagram.com/hilal_abunaufal_
_____________
Footnote :
[1] HR. Muslim no 2137
[2] HR. Muslim no 19
[3] Diringkas dari Syarhu Kasyfis Syubuhat, hal 39-40, Al-Allamah Sholeh bin Abdil Aziz Alu Syeikh -hafidzahullah-
[4] Al-Qoulul Mufid : 1/7, Al-Allamah Ibnu Utsaimin -rahimahullah-
[5] Diringkas dari Syarhu Tsalatsatul Ushul, hal 39, Al-Allamah Ibnu Utsaimin -rahimahullah-
At-Tashfiyah wat TarbiyahMutiara Al-Qur’an, As-Sunnah, Petuah As-Salaf, Wejangan Ulama, Fatwa-Fatwa & Tanya Jawab.
Pembina : Al-Ustadz Hilal Abu Naufal -hafizahulloh-.
Admin :
Abu Aqilah

