5 Tips Memilih Guru Agama yang Baik

5 Tips Memilih Guru Agama yang Baik

8 hours yang lalu
5 Tips Memilih Guru Agama yang Baik

5 Tips Memilih Guru Agama yang Baik

Menuntut ilmu agama adalah tanda kebaikan yang Allah kehendaki bagi para hamba-Nya. Dan diantara kebaikan-Nya yaitu diberikan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan dalam beramal sholih serta dimudahkan jalan menuju surga-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan menjadikannya paham (berilmu) tentang (urusan) agama (Islam).” (HR. Al-Bukhari,  no. 2948 dan Muslim, no. 1037)

Dalam hadis shahih lainnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan dengan tujuan untuk menuntut ilmu (agama), maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga.(HR. Muslim, no. 2699)

Betapa banyak di dalam Al-Quran & Hadis tentang keutamaan dan agungnya ilmu agama, maka tentu untuk meraih ilmu harus memperhatikan syarat dan adab-adab dalam menuntut ilmu.

Diantara syarat dan adab-adab dalam menuntut ilmu adalah Memilih Guru untuk dijadikan sumber pengambilan ilmu.

Dalam urusan dunia tentu kita dituntut dan berhati-hati dalam menyeleksi serta memilih sumber rujukan, seperti ketika ingin berkonsultasi dalam bisnis, pasti akan bertanya & mengambil rujukan kepada pebisnis yang sukses juga memiliki pengalaman. Begitu juga tentang kesehatan tentu akan bertanya & konsultasi kepada dokter spesialis pada bidangnya.

Begitu juga dalam urusan agama, maka wajib bagi seorang muslim untuk lebih berhati-hati dan selektif memilih guru yang dijadikan rujukan dan mengambil ilmu darinya.



Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وتأويل الجاهلين وانتحال المبطلين قال فسبيل العلم ان يحمل عمن هذه سبيله ووصفه.

”Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, ta’wil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang bathil. Ilmu ini hanya layak disandang oleh orang-orang yang memiliki karakter dan sifat seperti itu.” (Al-Jami’ li-Akhlaqir Raawi wa Adabis Sami’ oleh Al-Khathib Al-Baghdadi 1/129 – shahih)

Muhammad bin Sirin berkata,

إنَّ هذا العِلمَ دِينٌ، فانظُروا عمَّن تأخُذون دينَكم

“Sesungguhnya ilmu agama (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu meraih ketakwaan kapada Allah), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu.”  (Syarhu Shahih Muslim, 1/43-44 )

Oleh karena itu, para ulama telah memberikan peringatan bahwa ilmu agama ini tidaklah dituntut secara sembarangan kepada setiap orang tanpa ”seleksi”.

Berikut ini 5 tips selektif dalam memilih guru sesuai tuntunan Al-Quran & Hadis dan para ulama salaf:

1. Memperhatikan Akidahnya, sesuai dengan Akidah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya.

Akidah merupakan asas agama Islam yang menjadi penyelamat seorang muslim di akhirat kelak. Dan ilmu akidah adalah ilmu yang pertama seorang muslim untuk mempelajarinya. Termasuk dari mempelajarinya adalah memilih dan belajar kepada  guru yang berakidah sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab (33): 36)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

2. Berpegang teguh dan berdalil dengan Al-Quran serta Hadis yang shahih sesuai pemahaman para sahabat.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berwasiat dalam hal ini,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah, sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sesudahku, dirinya akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat pentunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, gigitlah dengan gigi geraham…” (HR. Abu Dawud, no. 4607; at-Tirmidzi, no. 2676. Beliau berkata hadis hasan shahih)

Berpegang teguh sesuai pemahaman para sahabat karena mereka inilah yang direkomendasikan oleh Allah ‘azza wajalla dalam firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah (9): 100)

Dalam sebuah hadis yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para Sahabat), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari, 3/1335 dan Muslim, no. 2534)

3. Belajar kepada ahli dan berkompenten di bidangnya

Sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla,

 وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

“Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang (Ahli) mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl (16): 43)

Syaikh Ibn Baz rahimahullahu mengatakan, “Siapa saja yang tidak belajar di bawah bimbingan ahli ilmu dan tidak tahu bagaimana metode belajar mereka, maka orang seperti ini akan banyak salah. Mereka akan sulit memilah mana yang benar dan mana yang salah, karena tidak pahamnya mereka dengan dalil-dalil syar’i dan metodologi yang ditempuh para ulama dalam belajar.” (

4. Memperhatikan akhlak dan adabnya

Imam Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i berkata, “Dulu para Ulama Salaf ketika datang kepada seorang (guru) untuk menimba ilmu agama, maka mereka meneliti (terlebih dahulu) bagaimana shalatnya, (pengamalannya terhadap) sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan penampilannya, kemudian barulah mereka mengambil ilmu darinya.” (Atsar riwayat Imam ad-Darimi dalam as-Sunan, 1/124 dengan sanad yang shahih)

5. Rekomendasi dari sesama ahli ilmu

Imam al-Khathib al-Bagdadi rahimahullah berkata, “Sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk memilih guru yang dikenal pernah mempelajari hadis (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta diakui ketelitian dan kedalaman ilmunya.” (al-Jami’u li-Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’, 1/189)

Imam ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jabir asy-Syami rahimahullah berkata, “Tidak boleh mengambil ilmu kecuali kepada orang yang dipersaksikan (pernah) menuntut ilmu.” (Dinukil oleh Imam Ibnu Abi Hatim ar-Razi dalam al-Jarhu wat Ta’dil, 2/28)

Guru yang Tidak Layak Diambil Ilmunya

Adapun guru yang tidak layak diambil ilmunya yaitu kebalikan dari 5 tips diatas yaitu:

  1. Memiliki penyimpangan dalam akidah (keyakinan).
  2. Tidak bersandar kepada dalil Al-Quran & Hadis Shahih dan berlandaskan akal logika semata.
  3. Tidak berkompenten dalam bidangnya bahkan tidak mempunyai latar belakang dalam menuntut ilmu.
  4. Memiliki akhlak dan adab yang buruk serta tidak menjadi suri tauladan sebagai guru.
  5. Dan tidak direkomendasikan oleh ahli ilmu disebabkan penyimpangan terkait akidah dan mengikuti hawa nafsu.

Sebagaimana perkataan Imam Malik rahimahullah:

لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang :

  1. Orang bodoh yang nyata kebodohannya,
  2. Shahibu hawa’ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya,
  3. Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam,
  4. Seorang yang mulia dan shalih yang tidak memahami ilmu yang dia sampaikan.” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66, Min Washayal Ulama, 19)

Kesimpulan

Memilih guru dalam mengajarkan ilmu agama itu perlu selektif dan sesuai tuntunan syariat serta bimbingan para ulama yang lurus aqidahnya. Barangsiapa mengikuti jalan yang benar dalam menuntut ilmu maka dia akan meraih kebaikan dan sebaliknya, barangsiapa menyelisihi jalannya maka dia tidak akan meraih kebaikan. Wallahu A’lam.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link