Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-99 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Beliau rahimahullāh mendatangkan atsar dari Umar, dan dari Umar radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu:
قَالَ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ أَخْرَجَهُ
Dari Umar radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda, “Janganlah kalian memujiku dengan berlebihan sebagaimana orang-orang Nashara memuji ‘Isa ibnu Maryam dengan berlebih-lebihan. Sesungguhnya aku adalah hamba, maka katakanlah hamba Allāh dan juga rasul-Nya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).
Di sini Rasulullāh ﷺ yang sebagian manusia telah ghuluw terhadap Beliau justru mengatakan ucapan ini, “Jangan kalian berlebihan di dalam memujiku.” Cinta kepada Rasul memang sebuah kewajiban, mencintai Beliau lebih dari yang lain itu adalah kewajiban, tapi Beliau tidak mau kita berlebih-lebihan terhadap Beliau. Sehingga Beliau mengatakan ucapan yang isinya adalah larangan ini, lā tuthrūnī, jangan kalian berlebih-lebihan di dalam memujaku atau memujiku. Yang dilarang adalah berlebihan, adapun memuji secara umum, silakan boleh sesuai dengan kedudukan Beliau, mengatakan Beliau adalah hamba Allāh, Beliau adalah seorang Rasulullāh, Beliau adalah teladan kita, silakan boleh. Yang dilarang di sini adalah berlebihan, bukan larangan untuk memuji Nabi. Memuji Nabi silakan karena memang Beliau memiliki sifat-sifat yang dengannya pantas untuk dipuji. Beliau adalah hamba Allāh, Beliau adalah seorang Rasulullāh, Beliau adalah pemukanya anak-anak Adam.
Sebagaimana orang-orang Nashara mereka berlebih-lebihan terhadap Ibnu Maryam, memuji ‘Isa ibnu Maryam tapi berlebihan dalam memuji Beliau sehingga sampai mensifati Beliau sebagai anak Allāh, ini berlebihan sekali.
إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ
Sesungguhnya aku adalah hamba Allāh. Bukan anak Allāh. Aku adalah seorang hamba Allāh yaitu aku berhamba dan menyembah kepada Allāh, bukan menyembah kepada selain Allāh.
فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
Maka katakanlah oleh kalian hamba Allāh dan juga rasul-Nya.
Yaitu sifati aku dengan dua sifat ini. Sifati aku sebagai seorang hamba Allāh dan sifati aku sebagai seorang Rasulullāh, itu saja. Sehingga dalam syahadat kita mengatakan wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh, aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allāh dan juga rasul-Nya. Ini menunjukkan tentang larangan, karena Beliau mengatakan lā tuthrūnī, jangan kalian berlebih-lebihan kepadaku, dan asal dari larangan adalah diharamkan.
Jangan ada di antara kita yang mengatakan, “Kan maksudnya baik, kita ingin memuji Rasul.” Silakan memuji Rasulullāh ﷺ, tapi jangan berlebihan. Makanya Nabi dalam sebuah hadits mengatakan qūlū bi qaulikum, silakan kalian mengucapkan ucapan yang kalian inginkan, wa lā yastahwiyannakum masy-syaithān, tapi jangan sampai syaithan ini menggelincirkan kalian dari jalan Allāh.
Akhrajahu, hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, menunjukkan tentang haramnya berlebihan terhadap Rasulullāh ﷺ. Kalau berlebihan kepada Beliau saja tidak boleh apalagi berlebihan kepada selain Beliau, kepada wali, kepada sunan misalnya, atau kepada ustadz, atau kepada kiai, lebih tidak diperbolehkan.
Kemudian beliau mengatakan:
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Beliau berkata, Rasulullāh ﷺ bersabda.
Dan yang berkata di sini adalah Abdullah ibnu Abbas. Abdullah ibnu Abbas mengatakan, Rasulullāh ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ
Hati-hati kalian dengan al-ghuluw (sifat berlebih-lebihan). Karena sesungguhnya yang telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan ini.
Di sini ada dua kalimat yang diucapkan oleh Nabi, dua-duanya menunjukkan tentang haramnya kita berlebih-lebihan terhadap orang yang shalih. Iyyākum wal-ghuluw, hati-hati kalian dengan sifat berlebih-lebihan. Ini peringatan dari Nabi ﷺ karena Beliau mengatakan iyyākum (hati-hati). Ini menunjukkan keharaman sifat ghuluw ini. Kemudian yang kedua Beliau menyebutkan akibat yang menjadikan umat sebelum kita ini hancur, adalah karena ghuluw. Kabar dari Beliau bahwasanya yang menyebabkan umat sebelum kita hancur adalah karena ghuluw, ini menunjukkan tentang diharamkannya ghuluw, hancur dari sisi agama mereka sehingga mereka akhirnya menjadi orang-orang musyrikin, akhirnya mereka menjadi orang yang menyekutukan Allāh, hancur agamanya. Maka hati-hati dengan ghuluw ini, dan sampai sekarang masih banyak orang yang terjerumus ke dalam kesesatan semuanya adalah karena ghuluw terhadap orang-orang yang shalih. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dia adalah hadits yang shahih.
وَلِمُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
Dan di dalam Shahih Muslim dari Abdullah ibnu Mas‘ud bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda:
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، قَالَهَا ثَلَاثًا
Beliau ﷺ mengatakan ini tiga kali: “Celaka binasa orang-orang yang berlebih-lebihan (mutanaththi‘ūn).”
Celaka, menunjukkan tentang diharamkannya sampai Nabi ﷺ mengancam dengan kecelakaan. Halakal-mutanaththi‘ūn, celakalah orang-orang yang mutanaththi‘ūn. Mutanaththi‘ūn asalnya adalah orang yang berlebihan dalam berbicara. Kemudian setelah itu menjadi istilah setiap orang yang ghuluw ini dinamakan dengan mutanaththi‘, bukan hanya sekadar ghuluw dalam pembicaraan.
Qālahā tsalātsan, Beliau mengucapkan ini tiga kali, menguatkan apa yang Beliau sampaikan. Mereka adalah orang-orang yang akan hancur dan mereka adalah orang-orang yang akan binasa. Kemudian setelah itu disebutkan oleh Nabi tiga kali, ini menunjukkan penguatan dan menunjukkan bahwasanya perbuatan ini adalah perbuatan yang diharamkan di dalam agama kita.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


